Hikmat Kisah Sisyphus

Ini tentang Sisyphus, tokoh mithos ,raja penguasa wilayah Corinth dalam mitologi Yunani kuno. Sisyphus mengetahui Zeus membawa lari Aegina, putri Asopus, lalu mengadukannya kepada sang dewa sungai. Zeus yang sangat murka kepada Sisyphus lalu menghukumnya dengan menjebloskan putra Aeolus ini kedalam Tartarus, yaitu dunia jauh di bawah tanah.

Di dalam Tartarus ia mendapat hukuman yang sangat menyiksa. Sisyphus harus dengan sangat susah payah mendorong batu besar naik ke atas puncak sebuah bukit, lalu ia pasrah saja tatkala batu itu jatuh kembali kebawah saat berada di di puncak. Dan ia harus mengulangi proses mendorong batu itu, mulai dari bawah lagi. Berulang kali. Tanpa henti.

Sisyphus dorong batu

Kisah Sisyphus dapat bicara banyak hal. Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menganggap jika Sisyphus adalah symbol pencarian eksistensi kehidupan manusia. Dunia hukuman dimana bisa saja terjadi kematian. Sisyphus harus menjalani keabadian rutinitas .

Seperti pesan Fyodor Dostoyevsky:

“Apabila kita ingin menghancurkan seseorang, merusak dia sepenuhnya atau memberi hukuman yang menyakitkan. Sehingga pembunuh paling kelam pun gentar dan takut menghadapinya, yang perlu kita lakukan hanyalah memberinya pekerjaan yang tak berguna, sia-sia, dan irasional!!!”

Sisyphus adalah salah satu lambang kesia-siaan. Perjuangan yang tidak menghasilkan, dan hanya berakhir pada kekosongan. Tragedi Sisyphus adalah cerminan kehidupan yang terus menjadi siklus.

“Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang dibawah matahari tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan, dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 1 : 14)

Dapatkah kita menangkap angin ,apalagi dengan jaring?  jaring terbuat dari jalinan tali-temali yang tentu saja tak dapat menahan angin. Menangkap angin saja,adalah sesuatu pekerjaan yang membuang-buang waktu.  Itu merupakan gambaran yang jelas dari suatu pencarian yang sia-sia.  Seperti itulah gambaran perasaan Pengkhotbah dalam mencari arti dan tujuan hidup ini.

Kemudian langkah selanjutnya, Pengkhotbah dengan hikmat ilahi berpikir dengan teliti dan dengan hikmat yang dimilikinya mengenai “segala yang terjadi di bawah langit”.  Dengan mantap Pengkhotbah meyakini bahwa Allahlah yang menimpakan semua itu termasuk kesusahan hidup.  Kita tidak saja seperti memikul suatu beban berat di punggung, tetapi sebenarnya baginya penderitaan itu adalah hukuman Allah dan kita sedang menjalaninya. Kita ingin protes dan mengatakan bahwa itu tidak adil. Mungkin ada alasan untuk semua itu, tetapi saat ini yang paling dipikirkan oleh si Pengkhotbah bukan alasannya melainkan realitanya.  Tetapi dalam pasal-pasal selanjutnya (3:9-11), ia mulai mengemukakan sebuah alasan. Bahwa hal itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa : Tak ada sebuah tempat pun  yang dapat membuat manusia bahagia, jika didalamnya Allah dikesampingkan.

Sisyphus terus berusaha. Sekuat tenaga. Terkadang tidak memiliki tujuan lebih baik daripada tidak melakukan tindakan.Para dewa telah menghukum Sisifus untuk menggulirkan batu besar ke puncak gunung, dari mana batu tersebut akan jatuh kembali dari akibat gravitasi bumi. Mereka berpikir dengan beberapa alasan bahwa tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada tenaga kerja sia-sia dan tanpa harapan.

Tapi tentu kita tidak boleh beranggapan bahwa menjalani hidup seperti kutukan Sisyphus.

Para filsuf mencoba menganalisa dan merumuskannya.

Untuk menghindari aburditas kehidupan seperti Sisyphus, Camus mengatakan bahwa yang kita butuhkan adalah kesadaran.

 

“The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious.”

Tetapi Firman Tuhan adalah jawaban yang paling tepat dari masalah ini.Rasul Paulus mengakui akan kenyataan hidup membosankan ini, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya” (Roma 8:20). Tetapi Paulus dapat melihat lebih dari itu dan menambahkan bahwa dunia telah ditaklukkan “dalam pengharapan”. Manusia dibekali akal untuk berpikir. Memikirkan tujuan, cara, dan yang terutama: mencari makna. Apa yang dilakukan Sisyphus mungkin seperti apa yang kita lakukan setiap hari: bangun, pergi kuliah atau bekerja, pulang ke rumah, tidur, untuk bangun dan melakukan rutinitas yang sama setiap hari, tanpa tahu apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini.

Bahkan Yeremia dalam kitabnya pasal 17:5 – 6 mengatakan: (5) “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Tetapi sebaliknya kata Yeremia dalam ayat 7 – 8: (7) “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! (8) Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.