Jangan “Keok”… Arsitek Indonesia Harus Jadi Tuan!

DEPOK, KOMPAS.com – Banyak pengguna jasa arsitek, dalam hal ini developer atau pengembang properti, tidak yakin menggunakan jasa arsitek dalam negeri. Di sisi lain, tak sedikit arsitek Indonesia merasa kurang percaya diri.

Demikian hal itu mengemuka pada seminar ‘Archipreneur: Bisnis Arsitektur Menghadapi MEA’ yang diselenggarakan oleh (Ikatan Alumni/Iluni) ARS Universitas Indonesia, Ikatan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik UI, dan Departemen Arsitektur UI, Sabtu (20/2/2016) lalu di Kampus UI, Depok.

Namun sebenarnya, kesimpulan seminar itu memaparkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) arsitek Indonesia tidak kalah dengan arsitek luar negeri atau asing. Saat ini semakin banyak arsitek anak bangsa yang karyanya mumpuni dan diakui di luar negeri.

Sandiaga Salahuddin Uno, Founder of PT Saratoga Investama Sedaya, yang menjadi narasumber menyatakan sepakat dengan pendapat tersebut. Menurut dia, agar dapat bersaing di area Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) para arsitek Indonesia harus membuka diri terhadap arus globalisasi, terutama untuk transfer teknologi.

“Tidak perlu khawatir akan didominasi arsitek asing, karena mereka akan tunduk dengan regulasi yang ada di Indonesia,” ujar Sandiaga.

“Arsitek kita harus melihat ini sebagai peluang. Kalau melihat perkembangan bisnis arsitek di tanah air, saya optimistis arsitek kita bisa bersaing dengan arsitek-arsitek luar negeri dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tambah Sandiaga yang sedang digadang-gadang maju dalam Pilkada DKI Jakarta mendatang.

Dia menambahkan, untuk bisa bersaing, arsitek Indonesia harus berkolaborasi dan meningkatkan daya saingnya lewat bermacam inovasi. Mereka juga harus secara kreatif menggabungkan berbagai aspek arsitek dengan entrepreneur menjadi archipreneur.

Pada kesempatan sama, anggota Badan Pertimbangan Organisasi DPP REI, Pribudhi Tasman Suriawidjaja, mengakui pada era 1990-an kualitas konsultan arsitek dalam negeri belum sebaik sekarang. Kondisi itu sangat berbeda dengan saat ini.

“Dulu itu, kalau kita mengundang konsultan asing, mereka langsung memberikan masukan rencana pengembang alternatif yang komprehensif, sementara konsultan Indonesia malah bertanya kita mau buat apa. Sekarang sudah berbeda, arsitek Indonesia sudah jauh lebih baik. Mereka mampu mengusulkan tidak hanya konsep desain, tapi apa yang bisa dijual. Arsitek kita sudah banyak pengalaman,” kata Pribudhi.

REI sendiri, lanjut Pribudhi, mendorong anggotanya, khususnya pengembang daerah untuk memanfaatkan jasa arsitek lokal. Selain lebih murah, kualitas pekerjaannya pun tidak kalah dengan orang bule.

“Di era MEA sudah dipastikan akan banyak investasi asing masuk. Mereka mungkin bawa konsultan dari negaranya, tapi mereka tetap butuh partner di sini. Kenapa, karena mereka tidak menguasai budaya dan adat istiadat lokal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Arsitektur UI Prof. Yandi Andri Yatmo mengatakan, perkembangan desain dan bisnis arsitektur di Indonesia sangat pesat. Sayangnya, menurut dia, hal itu tidak didukung dengan infrastruktur perundang-undangan yang jelas.

“Belum ada perlindungan terhadap praktik-praktik berarsitektur di Indonesia,” ujar Yandi.

Dia berharap, Undang-undang Arsitektur yang masih digodok DPR dapat selesai tahun ini. Tak lain sebabnya, lanjut Yandi, di area MEA nanti profesi arsitek termasuk yang sangat membutuhkan regulasi itu.

“Kita harus berhati-hati, karena Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Mestinya arsitek kita yang diserap. Untuk itu, mulai cara bisnis, cara bekerja, dan sikap merasa jagoan sebagai orang lokal harus diubah,” ucap Yandi.

Yandi menyarankan, arsitek Indonesia harus percaya menghadapi pihak asing. Sebagai tuan rumah, arsitek lokal unggul karena lebih tahu negaranya.

“Harusnya tak ada masalah dengan MEA, karena justru investor asing yang butuh arsitek Indonesia,” ujarnya.

Penulis : Latief
Editor : Latief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *