Arsitektur-kota Jawa, Memukau dan Filosofis


Sumber gambar : KOMPAS/Indonesia Design

Seri Arsitektur taken from: Kompas Penulis: Yurnaldi

Arsitektur-kota Jawa, Memukau dan Filosofis

Rabu, 18 Maret 2009
JAKARTA, KOMPAS – Buku Arsitektur kota-Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa yang ditulis Jo Santoso, ahli perencanaan kota yang kini Ketua Graduate Program in Urban Planning di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Selasa (17/3) malam di Bentara Budaya Jakarta, dibedah serius. Buku Jo dinilai serius dan menarik, karena melacak saat terakhir ketika Nusantara masih memiliki konsensus pada masa peradaban arsitektur-kota Jawa prakolonia l.

Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS) Josef Prijotomo mengatakan, Jo Santoso menyadari adanya kekeliruan dalam membaca masyarakat tanpa tulisan dengan menggunakan pembacaan dari masyarakat tulisan. Jo Santoso dengan berani membaca arsitektur dan kota Nusantara pada umumnya, dan khususnya Jawa, dalam lingkungan masyarakat tanpa tulisan. “Segenap data yang telah dihimpun oleh para ahli dan ilmuwan dari masa kolonial telah dia manfaatkan sebagai salah satu data yang diinterpretasi sebagai ujaran dari masyarakat tanpa tulisan,” katanya.

Menurut Josef, dengan tindakan seperti itu, Jo Santoso lalu dapat menunjukkan bahwa Nias, Jawa, dan kawasan NTT dapat menjadi sebuah kontinuum dan kesatuan kota dan arsitektur Nusantara. Nusantara bukan lagi sebuah ku mpulan etnik yang saling terisolasi, melainkan sebagai sebuah taman yang beraneka warna bunganya, sebagai sebuah Bhinneka Tunggal Ika, yang bukan hanya slogan namun kenyataan.

Jo Santoso memang tidak menghendaki kajian yang ia lakukan menjurus pada sebuah perampatan (generalisasi) yang terisolasi dalam keterkurungan etnik demi etnik.

Dalam illustrasinya Josef sempat mengemukakan makna filosofis di balik tidak bolehnya menyambung kayu jati dengan kayu pohon kelapa, karena itu bukan jodohnya. Kalau itu terjadi, keluarga bisa berantakan.

Sedangkan Daniel Dhakidae, pakar politik yang menyukai tata kota, bercerita banyak tentang pengalamannya saat kuliah di Yogyakarta. Daniel juga tahu banyak soal Solo.

“Buku Jo santoso mengatakan bahwa arsitektur Jawa dan tatakota Jawa sangat mencerminkan sistem kekuasaan Jawa yang berlaku, maka ada dua soal yang dirangsang oleh tata kota Jawa, terutama Yogyakarta, yakni unsur “buto” yang langsung masuk ke dalam poros sakral,” katanya.

Dengan perkembangan terbaru ketika pusat kekuasaan republik mempersoalkan status “keistimewaan Yogyakarta” maka terjadi semacam krisis kekuasaan dari “poros utara-selatan”.

“Saya memperkirakan akan terjadi perubahan sosial di Yogyakarta yang terutama dirangsang oleh dialektika modern antara utara-selatan Yogyakarta, antara kemodernan dan ketradisionalan yang akan menyebabkan ketegangan sosial di Yogyakarta,” katanya.

Tentang buku Jo Santoso, Daniel menilai, Jo Santoso seolah-olah menelusuri kota dan tata kota Jawa dari segi kosmografik, kultur, dan kekuasaan, dan dari sana membongkar kata-kata yang tersembunyi dalam batu, das Wort auf dem Stein, kayu, ruang, dan kosmos baik dalam mikro-kosmos maupun hubungannya dengan makro-kosmos. Dengan itu dibuka makna arsitektur dan tata kota Jawa yang memukau.

“Penulisnya sendiri menjadi panduan, yang tidak banyak ditemukan di negeri ini, dari keahlian teknis, yang memasuki ruang-ruang budaya dari segi arsitektur dan tata kota, untuk memeriksa apa hubungannya dengan kekuasaan di dalamnya,” jejas Daniel.

Yayasan Studi Lingkungan Hidup (SILIH) menggelar bedah buku bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta, karena buku Arsitektur kota-Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa memberikan sudut pandang baru atas kajian dan dokumentasi pakar Eropa selama ini mengenai arsitektur-kota Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *