Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjang Ing Djoe penerjemah cerita silat Cina di Semarang. TEMPO/Budi Purwanto

 

TEMPO.COJakarta -Berkutat dengan komputer adalah keseharian Tjan Ing Djioe. Sehari-hari, pria berusia 63 tahun ini menerjemahkan buku-buku silat Tiongkok. Hingga kini, ia telah menerjemahkan lebih dari 120 buku cerita silat, dengan jumlah jilid mencapai ribuan. “Saya ingin rak buku dan ruang kerja saya penuh dengan karya saya,” kata pria yang kini tinggal di Semarang ini.

Tak heran, sebagian besar waktunya dihabiskan di ruang kerjanya yang berukuran 6 x 4 meter. Selain komputer, senjata Tjan adalah kamus bahasa Mandarin. Bagi dia, menulis bak sebuah ritual. Ritual itu dilakukan pada pukul tiga dinihari hingga sore. Rata-rata, dia menghabiskan waktu di depan komputer hingga 12 jam. Bahkan, di masa mudanya, Tjan menghabiskan sekitar 18 jam untuk kerja penerjemahan.

Di dunia buku cerita silat—sering disingkat cersil—reputasi Tjan, yang biasa menyingkat nama pada karyanya menjadi Tjan ID, tak diragukan lagi. Selain memiliki banyak karya, nama Tjan termaktub dalam ensiklopedia Chinese Overseas bidang kesenian dan kebudayaan terbitan pemerintah Cina.

Selain Tjan, masih ada dua nama penerjemah asal Indonesia yang masuk ensiklopedia, yakni Gan Kok Liang (Gan KL) asal Semarang dan Oei Kiem tiang (OKT) asal Tangerang. Namun keduanya sudah meninggal. Nama Koo Ping Hoo (almarhum) asal Sragen juga ada, tapi dia bukan penerjemah. Reputasinya diakui sebagai penulis cerita silat dengan latar cerita tradisi Tiongkok, sekalipun dia tidak mahir berbahasa Mandarin.

Tjan mengungkapkan, sebenarnya dia tak mahir dalam urusan mengarang. Karena terpaksa-lah ia terjun ke dunia ini. Saat kuliah di publisistik Universitas Diponegoro, salah seorang dosennya memberi tugas menyusun cerita, boleh mengarang, boleh menerjemahkan. Tjan yang sejak sekolah dasar sudah melahap buku cerita silat berbahasa Mandarin tak mau pusing. Untuk memenuhi tugas kuliah, dia menerjemahkan satu bab awal Thien Jan Ji Ting karya Pai Hong. Karya itu diberi judul Tujuh Pusaka Rimba Persilatan.

Tanpa dia ketahui, ayahnya, Tjan Ing Djin, menyerahkan kopian karbon terjemahan Tjan kepada koleganya, The Tjie To, yang juga pemilik toko buku Sutawijaya di Jalan Mataram, Semarang. Oleh The, naskah tersebut ditawarkan kepada penerbit Sastra Kumala Jakarta. Tak diduga, penerbit tertarik menerbitkan karya terjemahan itu. Bahkan, Tjan diminta menyelesaikan terjemahan 28 jilid Tujuh Pusaka Rimba Persilatan. Tiap seri, Tjan yang saat itu berusia 20 tahun dibayar Rp 1.750 per jilid.

Ketika edisi perdana Tujuh Pusaka Rimba Persilatan terbit, nama Tjan ID mulai menjadi buah bibir di dunia cersil. Penerbit lain pun berlomba merangkul Tjan. Pemuda ini melejit bagai meteor. Penerbit Gloria meminta Tjan menerjemahkan karya lain dengan bayaran per seri Rp 2.500. Pada saat bersamaan, penerbit lain juga membayar karya Tjan dengan harga Rp 4.750 per jilid. “Awal 1970, per bulan saya mengantongi Rp 500 ribu hasil terjemahan,” ujarnya sambil membetulkan letak kacamatanya. Sebuah angka yang fantastis kala itu.

Beberapa karya Tjan yang meledak di pasar adalah Pendekar Patung Emas karya Qin Hong (1970), Rahasia Kunci Wasiat karya Wolong Shen (1971), serial Bara Maharani (1975), dan Pendekar Riang (1979).

Kelihaian Tjan dalam menerjemahkan sastra Mandarin ini berbekal pelajaran bahasa Mandarin saat ia duduk di bangku sekolah dasar berbahasa Cina, yakni SD Chung Hoa Kung Sie dan SD Yu Te. Adapun kebiasaannya membaca buku berbahasa Mandarin sejak kecil serta keluarganya yang terbiasa berbahasa Mandarin membuatnya tak hanya fasih, tapi juga memahami rasa bahasa Negeri Tirai Bambu tersebut. Dan, ini sangat penting bagi kerja penerjemahannya.

Setelah kehidupannya mapan, Tjan tetap menerjemahkan cersil. Namun, kini orientasinya bukan kejar setoran, melainkan semangat menjaga cersil Tiongkok sebagai bagian dari sastra peranakan di Indonesia.

Selain itu, sekarang ini sulit menggantungkan hidup dari menerjemahkan cersil karena penggemarnya tak sebanyak pada 1970-an. Urusan dapur sudah selesai dengan bisnis ayam potong dan katering.

Semangat terus berkarya itu juga dimaksudkan untuk mengusir pikun dan rasa sepi sepeninggal istrinya, Suryani Erawati, yang meninggal pada Januari lalu. Selain itu, bagi Tjan, cerita silat para pendekar Tiongkok sarat nilai patriotisme, nasionalisme, hormat kepada orang tua, membela kaum lemah, serta peduli pemberantasan korupsi. Nilai-nilai itu perlu ditiru oleh bangsa Indonesia.

Pada Januari lalu, melalui usaha penerbitannya sendiri, Tjan Brothers Publishing, Tjan menerbitkan karyanya Pedang Amarah karya dari Wen Rue An (Malaysia). Saat ini, ia juga bersiap mengerjakan Pendekar Riang dari penulis Cina, Gu Lung.

Tjan optimistis, meski tak sebanyak era 1970-an, penggemar cersil di Indonesia akan selalu ada. “Karena membaca cerita silat itu candu,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *