Pengusaha wanita nomer satu pada era Dinasti Qin di Tiongkok

Pengusaha Wanita Nomor Satu di Era Dinasti Qin (1)


Mendiang buyut almarhum suami Qing secara kebetulan menemukan tambang cinnabar dalam gua pegunungan yang pada waktu itu sangat berharga, dan keluarga suaminya secara turun temurun mengolahnya, jaringan perniagaannya meliputi seluruh Tiongkok, berhasil menjadi saudagar terkaya di wilayah Ba Shu. Gambar adalah cinnabar yang masih dalam bentuk kristal di atas batu dolomite. (JJ Harrison / Wikipedia)

Oleh: Liu Di

Sejarah dari Tiongkok Kuno 2100 Tahun Silam. Qing Janda Dari Keresidenan Ba

Dalam “Historical records: Biographies of Merchants (“Catatan Sejarah, Biografi Pedagang” ditulis oleh Sima Qian sekitar 2.100 tahun silam)” tercatat: “Qing (dibaca: Jing) janda dari keresidenan Ba (dibaca: Pa) yang leluhurnya mendapatkan tambang cinnabar, dan memperoleh keuntungan selama beberapa generasi, keluarganya senantiasa tidak tercemar.

Qing, seorang janda, dapat mempertahankan usahanya, menggunakan kekayaannya untuk menjaga diri, tidak nampak yang mengganggu. Kaisar dinasti Qin (dibaca: Jin) memandangnya sebagai wanita yang taat (menjaga status kejandaannya) sehingga menghargainya bagaikan tamu terhormat dan mendirikan menara untuk mengenangnya. Qing seorang janda dari desa terpencil, dengan tata krama mengatasi berbagai kekuatan, namanya menjadi sangat terkenal, bukankah merupakan kekayaan yang tidak biasa?”

Seorang pengusaha wanita, dengan kekayaan yang melimpah sudah merupakan kisah yang menggemparkan, lagi pula karena kekayaan dan wawasannya telah memperoleh perlakuan dan penghormatan yang istimewa dari sang kaisar, sungguh merupakan cerita fantastis yang langka.

Pakar sejarah di zaman Tiongkok kuno, Sima Qian (dibaca: Sema Jien, 145SM – 90SM) menuliskan hanya dengan seratus aksara tak sampai, secara ringkas menguraikan riwayat hidup wanita ini, justru telah meninggalkan warna misteri kepada generasi sesudahnya.

Qing, boleh jadi merupakan wanita terkaya pada dinasti Qin, juga merupakan wanita yang paling diagungkan pada Dinasti Qin. Dari catatan sederhana dalam kitab kuno tersebut, dapat diketahui, sosoknya seolah-olah memancarkan kegemerlapan bayangan kaisar Qin yakni Kaisar Pertama Dinasti Qin yang melanjutkan kedahsyatan enam generasi raja-raja sebelumnya. Mencaplok dua negeri Zhou dan menduduki enam negeri lainnya, dengan demikian telah mendirikan sebuah kekaisaran yang menyatukan seluruh negeri Tiongkok untuk kali pertama dalam sejarah.

Sedangkan madam Qing, melanjutkan usaha almarhum suaminya, dengan ketekunan luar biasa, berhasil meraih kekayaan yang dapat menandingi negara, terlebih lagi telah mendirikan kerajaan monopoli perdagangan dalam bidang penambangan cinnabar (batuan sumber utama penghasil logam merkuri/air raksa, dengan rumus kimia HgS/merkuri II sulfida). Sepertinya hal itu telah mengkodratkan dia untuk memperluas cakrawalanya dari halaman rumah pribadi menembus kedalaman istana kekaisaran yang megah, maka terajutlah sebuah gubahan cerita rakyat tentang kearifan sang kaisar dan seorang hamba rakyat yang berbudi luhur.

Menerima perintah dalam menghadapi bahaya, tokoh terkemuka yang menonjol di antara wanita

Orang macam apakah Qing janda dari keresidenan Ba?

“Catatan Sejarah” hanya sepintas lalu menuliskan aksara “Qing.” Menurut catatan versi kitab kuno “The Chronicles of Huayang” bahwa perempuan anggun itu dilahirkan di keresidenan Ba kabupaten Zhi. Pada 316 SM, Qin memusnahkan negeri Ba Shu dengan sendirinya juga menguasai keresidenan Ba. Qing hidup satu generasi dengan Shi Huang Di, Kaisar Pertama Dinasti Qin (259SM – 210SM), ketika dilahirkan sudah menjadi rakyat negara dinasti Qin.

Tokoh legendaris Qing terutama mendapatkan pengayoman dari nenek moyang suaminya. Konon, buyut dari suami Qing adalah seorang tabib terkenal, suatu hari ketika mencari obat, berteduh menghindari hujan di sebuah gua di atas gunung, secara kebetulan menemukan di dalam gua itu dipenuhi dengan batuan kristal berbentuk belah ketupat berwarna merah dan coklat. Inilah tambang cinnaber yang pada zaman itu termasuk langka, bagi seorang dokter/tabib, salah satu khasiat dari benda itu merupakan obat mujarab yang hanya dapat dijumpai karena keberuntungan.

Sejak saat itu, keluarga suami Qing secara turun temurun menambang cinnaber, jaringan bisnisnya meliputi seluruh negeri Tiongkok. Ketika mempersunting Qing yang kala itu berusia 18 tahun, keluarga suaminya sudah menjadi pengusaha terkaya di wilayah Ba Shu (sekarang provinsi Sichuan dan sekitarnya di wilayah Barat Daya Tiongkok).

Satu tahun setelah Qing menikah, mertuanya meninggal dunia, tiga tahun kemudian, suaminya juga menyusul karena terserang penyakit. Dalam waktu sekejap, usaha keluarga yang sedemikian besar mengalami krisis kehilangan penerus, wanita sebatang kara yang belum lama mengarungi dunia fana ini, tiada sempat lagi menghiraukan kesedihan sebagai janda muda, dengan sekuatnya memikul beban berat keluarga.

Dia melangkah keluar belajar memanajemeni usaha keluarganya dan tidak segan mengeluarkan biaya tinggi untuk membentuk pasukan pengawal pribadi yang melindungi berlangsungnya usaha tambang air raksa secara normal berikut keselamatan diri serta keluarganya.

Setelah lewat beberapa tahun, dia tetap dengan tenang tinggal sendiri sebagai janda dan dengan sepenuh hati mengelola usaha keluarga, menjadi pemilik wanita yang sebenarnya dari usaha keluarga suaminya. Qing, sang janda dari keresidenan Ba, berhasil menjadi orang paling kaya di negara Qin.

Seberapa besarkah sebenarnya kekayaannya itu?

Menurut “The Cronicle of Chang Shou” pada dinasti Qing, dia memiliki ribuan pembantu dan sepuluh ribu lebih pengawal pribadi. Warga kabupaten Zhi pada era dinasti Qin hanya sekitar 50.000-an orang, dimana Qing berdomisili, maka berarti dia telah mengamankan seperlima kesejahteraan warga setempat.

Qing, seorang  janda, mirip sekali dengan seorang raja tanpa mahkota di daerah keresidenan Ba, bukan saja telah menguasai nadi perekonomian di tempat itu, setiap kata, tindakan dan keputusan strategisnya bahkan memengaruhi kehidup puluhan ribu orang.

Hal yang patut dihargai adalah, dia tidak lemah sebagai wanita pada umumnya, juga tidak mata duitan atau penuh ambisi. Dia hanya tekun bekerja dan berhati-nurani, menjaga usaha yang ditinggalkan oleh pendahulunya beserta puluhan ribu rakyat warga kota pada tapal batas barat daya negara Qin serta mentaati kewajiban dalam mengurus usahanya. (hui/whs/rmat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *