Mengenang Semarang di era tahun 70-80’an

Pada sekitar tahun 79, sempat terbit majalah remaja MR di Semarang.Mungkin nama MR ini sngkatan “Majalah Remaja”? penulis tidak tahu, karena waktu itu penulis masih kelas 5 SD. Redaksinya ada di daerah Wonodri.Konten  berisi tema remaja saat itu seperti mode busana, cerpen, artikel populer.

Hiburan

Awal dasawarsa 1970-an, Semarang memiliki wisata pantai di daerah yang kini menjadi bagian dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kompleks hiburan ini bisa dicapai dari depan Mercusuar, ada beberapa kafe di sana saat itu, dan dermaga terbuat dari beton menjadi sarana bagi pengunjung menikmati suasana pantai, bahkan untuk memancing.Sejak awal 80-an, tempat ini tertutup bagi wisata dan hanya digunakan untuk fasilitas pelabuhan dan Angkatan Laut.

Taman Hiburan Diponegoro (THD) di Jalan H.Agus Salim (Jurnatan) adalah TamanRia-nya kota Semarang pada era 1960-1980 awal. Kini areal bekas THD telah menjadi kompleks pertokoan alat-alat teknik.Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jln.Sriwijaya dan Taman Lele.

Festival Film Indonesia tahun 1980. 

FFI yang berlangsung 22-27 April 1980 di Semarang. Suasana kota yang biasanya relatif tenang berubah hiruk-pikuk. Acara-acara penyemarak festival, seperti pawai artis, “Malam Sejuta Bintang”, pameran sinematek, pemutaran triler film-film unggulan di sejumlah gedung bioskop, serta malam penganugerahan Piala Citra selalu dipadati penonton.

Untuk mendapatkan undangan gratis “Malam Sejuta Bintang” di Gedung Olah Raga (GOR) Simpanglima, misalnya, orang rela antre berjam-jam. Mereka yang tak kebagian, nekat datang dengan undangan fotokopi. Melihat antusiasme warga yang luar biasa, Harian Suara Merdeka berinisiatif menyelenggarakan acara tambahan, yakni “Malam Sejuta Bintang” khusus pelajar.

Di luar hiruk-pikuk itu, perang bintang memperebutkan Piala Citra juga tak kalah seru. Ada 41 film produksi tahun 1979 yang ikut bertarung dalam ajang itu. Namun setelah diseleksi oleh dewan juri yang terdiri atas Mochtar Loebis, Dr Sudjoko, Trisutji Kamal, Dr Mulyono, Dr Tuty Heraty Noerhadi, DA Peransi, dan JB Kristanto, terpilih lima film cerita terbaik, yakni Harmonikaku, Kabut Sutera Ungu, Rembulan dan Matahari, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (YPRSJ), dan Perawan Desa.

Nominasi pemeran utama pria terbaik, yakni Deddy Hariadi (Si Pincang), Fachrul Rozy (Harmonikaku), Ryan Hidayat (Anna Maria), WD Mochtar (YPRSJ), dan Zainal Abidin (Si Pincang). Nominasi pemeran utama wanita terbaik diraih Farah Meuthia (YPRSJ), Ira Maya Sopha (Ira Maya si Anak Tiri), Yenny Rachman (Kabut Sutera Ungu/Romantika Remaja/Perawan Tanpa Dosa), Marini (Anna Maria), dan Nia Daniati (Antara Dia dan Aku). Adapun calon sutradara terbaik ditetapkan, Arifin C Noer (Harmonikaku/YPRSJ), Franky Rorimpandey (Perawan Desa), Hasmanan (Anna Maria), Sjumandjaja (Kabut Sutera Ungu), serta Slamet Rahardjo (Rembulan dan Matahari).

Pengumuman nominasi yang dilakukan pada hari ketiga penyelenggaraan FFI itu sempat menuai kontroversi. Pasalnya, Film Harmonikaku dan YPRSJ yang semula didaftarkan sebagai film noncerita, justru masuk menjadi nominasi film cerita. Soal ini, Mochtar Loebis menjawab singkat. “Juri menilai kedua film tersebut sebagai film cerita.” Kontroversi lain juga berpangkal pada ketidaklolosan sejumlah film yang sejak awal diunggulkan, terutama film yang mengusung semangat kultural-edukatif seperti Janur Kuning, serta film-film bergenre remaja yang saat itu tengah naik daun.

Di sekitar tahun 87, diskotik Stardust di daerah Permata Hijau menjadi maskot anak muda kota Semarang, sedangkan radio yang menyiarkan lagu-lagu disko ,yang terkenal adalah radio Veritas.Uniknya, para Disc Jockey (D.J) mengambil nama merek mobil-mobil mewah saatitu ,seperti Stanza, Audi dll.

Kebutuhan belanja 

Toko Mickey Morse di Depok menjadi perintis supermarket modern di kota Semarang.Keberadaan supermarket dan departemen store modern di kota Semarang memang sering dimulai dengan toko retail. Misalnya toko Sri Ratu di jalan Pemuda yang menjadi Sri Ratu Department Store, Toko Ada di jalan Peterongan dan Sugiyopranoto (bulu) yang menjadi Ada Department Store.

Rangkuman umum.

Ini adalah rangkuman peristiwa maupun situasi yang pernah terjadi di Semarang. Karena sebagian besar berasal dari ingatan ataupun catatan penulis, mungkin saja tanggal ataupun tempatnya kurang tepat, mohon koreksi dari pembaca yang mengerti.

Pada tahun 1970-an, industri jamu dan rokok masih mewarnai kota Semarang.Nama pabrik rokok seperti Gentong Gotri, Beras Tuton (rokok Nutu), Oepet Tambang, cap Pompa, Pak Tani adalah merek yang beken saat itu.Setiap kali penulis yang waktu itu masih kecil ,melewati daerah seperti Karang Saru, Karang Wulan, sering menghirup aroma bau cengkeh ataupun tembakau yang harum.

Sampai sekitar tahun 1978, pantai Semarang (sekitar Mercusuar) masih terbuka untuk wisata. Saat itu ,pengunjung masih bisa berekreasi pantai seperti memancing, atau sekedar berjalan-jalan di “batere” yaitu semacam pir beton penahan ombak. Bahkan sempat terdapat usaha klab malam dan kafe. Penulis masih ingat,salah satunya bernama “Hiu Kencana”.

Sedangkan hiburan bioskop, saat ini tidak ada satupun bioskop dari era tahun 1970-an yang masih bertahan.

Bioskop “Jagalan Theatre” di Jl.Jagalan (Kompleks Gedong Gulo), sampai tahun 1980-an.

Bioskop “Sri Indah” di Jalan Gajahmada (kini Honda) sampai tahun 1989.Bioskop Sri Indah ini dahulu lebih banyak memutar film Mandarin, stu putaran dengan Gelora Theatre di Jalan.MT Haryono  (kini menjadi kawasan ruko)

Bioskop “Gajah Mada Theatre” sampai tahun 199(?) kini menjadi Ramayana Department Store
Bioskop “Bahari” di Jl.Ki Mangun Sarkoro (Stadion), kemudian pada tahun 1990-an menjadi “Admiral” dan kini tinggal kenangan,menjadi sebuah restaurant.

Transportasi.

Teringat kondisi transportasi pada tahun 70-an, saat itu yang menjadi moda transportasi adalah bus dan bemo.Bagi kalangan anak muda yang pada jamannya sudah tidak ada bemo, bemo adalah sejenis kendaraan beroda 3, yang mampu membawa 6 orang penumpang.Seperti oplet, penumpang bemo juga masuk dari belakang, penumpang saling berhadapan. Taxi argometer sebenarnya sudah ada, yaitu Tri Payung Taxi yang poolnya ada di Karang Ayu (di Jl.Sudirman).Namun taxi-taxi ini tidak mencari penumpang dengan berkeliling, mereka hanya mangkal di pangkalan.

Baru pada tahun 1990, muncul Taksi Atlas.Sebelumnya, cikal bakal Taksi Atlas adalah Surabaya Taxi, sudah ada pada tahun 1980-an.

Kanjengan. Menilik namanya, Kanjengan adalah bangunan tempat kediaman bangsawan Kanjeng.Namun pada sekitar tahun 1977, bangunan Kanjengan ini diruilslag (tukar guling) , dibongkar dan dijadikan kompleks pertokoan dan hiburan, sebuah bioskop dengan nama “Kanjengan Theater” sempat menjadi bioskop mewah,walaupun  tidak lama. Tahun 80-an, bioskop Kanjengan telah tutup. Sedangkan material bangunan gedung Kanjengan kuno, dipindahkan ke daerah Gunung Talang (di daerah Semarang bagian atas). konon sempat diusahakan direkonstruksi di Gunung Talang, namun kemudian hancur.

Industri

Tak pelak lagi, dunia industri di kota Semarang dan sekitarnya masih berkutat pada pengolahan hasil alam. Rokok cukup mewarnai kehidupan di Semarang era 70-an.

Perubahan/pengalihan fungsi fasilitas kota di kota Semarang sejak tahun 1980-an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *