Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Strategi Perang Sun Tzu

dikutip dari erabaru
Jumlah orang-orang super kaya di dunia ini termasuk langka. Kekayaan yang mereka miliki bukan hanya bisa menyamai suatu negara, juga membuat orang berpikir, mengapa mereka yang berjumlah minoritas itu bisa menguasai harta kekayaan yang tidak bisa dimiliki oleh kebanyakan orang. Fenomena ini sepertinya mirip strategi “Dengan minoritas mengungguli mayoritas” dalam seni perang Sun Tzu.

Berbicara mengenai penggunaan strategi seni perang di dalam perdagangan, hal ini sering ditemui di negara-negara Asia Tenggara. Konon, buku-buku tentang “Seni perang Sun Zi (Dibaca: Suen Ce, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan: Sun Tzu)” di Korea Selatan bukan hanya sebagai best seller, juga sebagai buku terlaris sepanjang masa. Jumlah penjualannya di sepanjang tahun sudah memecahkan rekor paling tinggi dalam sejarah percetakan buku di Korsel.

Buku “Seni perang Sun Zi” juga sudah menjadi teori pedoman bagi banyak perusahaan yang mementingkan informasi pemasaran. Banyak pengusaha dan CEO Korsel mencoba menimba pengalaman dan strategi kesuksesan dan kegagalan dalam seni perang Tiongkok zaman kuno, untuk menghadapi pasar internasional yang berubah-ubah bagai cuaca tak menentu.

Di Jepang, buku Seni perang Sun Zi juga sangat populer, dalam pameo yang sering keluar dari mulut orang Jepang ada banyak sekali kata-kata mutiara Sun Zi. Buku Seni perang Sun Zi versi bahasa Jepang dengan berbagai penjelasan dan cara penggunaannya, menurut statistik ada lebih dari 280 jenis. Lebih-lebih bagi yang mengikuti diskusi dalam buku tak terhitung banyaknya. Buku direktori bisnis yang menggunakan seni perang sebagai bahan jumlahnya juga sangat mengejutkan.

Masayoshi Son pendiri Softbank Grup Jepang sangat mencintai buku Seni perang Sun Zi. Dalam keadaan sakit dan berbaring di ranjang ia juga mempertahankan untuk membaca. Kemudian ia mengarang sendiri “Seni perang Sun Sun” dan menyetarakan marga ‘Sun’ miliknya dengan ‘Sun’ dari ‘Sun Zi’, juga ada orang yang secara kelakar menyebut buku tersebut sebagai “Seni perang keturunan Sun.”

Masayoshi Son mengutip kata-kata Sun Zi ditulis di depan pintu gerbang pabrik sebagai pedoman. Inti sari seni perang Sun Zi diterapkannya dalam setiap kali akuisisi dan investasi dari Softbank, telah benar-benar melaksanakan “menang tanpa berperang”, dengan cepat menyetarakan dirinya ke jajaran konglomerat super kaya di Jepang.

Di zaman Tiongkok kuno, segala sesuatu membicarakan Dao (dibaca: Tao, ajaran Lao Zi/Laotse). Tidak peduli dalam metode dagang ataupun seni perang, keduanya saling ada kemiripan. Dalam resep rahasia yang dipegang para pengelola bisnis di zaman Tiongkok kuno, salah satu versi dalam strategi seni perang itu ialah: “Seorang pengelola bisnis bagaikan seorang panglima pengatur laskar, mendapatkan kemenangan dari medan/ topografi yang menguntungkan. Jika memahami hal ini dalam berperang akan mencapai kemenangan, jika tidak, pasti akan kalah.”

Itu merupakan jurus rahasia utama dalam pengelolaan bisnis bahwa pengelola bisnis/perdagangan itu bagai panglima perang yang memimpin puluhan ribu pasukan kavaleri dan infantri, meraih kemenangannya dengan menduduki terlebih dahulu topografi yang menguntungkan. Itu sebabnya dari zaman kuno hingga kini telah terwariskan “Medan perdagangan bagaikan medan peperangan”.

Fan Li seorang ahli strategi besar pada zaman Chunqiu Zhanguo (zaman negara berperang dan musim semi – musim gugur sekitar 2500 tahun silam), paruh hidup pertamanya sebagai politikus membantu Goujian Raja Ye, dalam tempo 10 tahun membuat Negara Ye yang semula di ambang kehancuran menjadi salah satu hegemoni dari lima Negara adidaya di zaman Chunqiu. Ketika karier politiknya mencapai puncak, ia memutuskan mengundurkan diri pada waktu yang tepat. Setelah itu, dalam kurun waktu 19 tahun di dalam dunia perdagangan, ia mengalami 3 kali menjadi pedagang super kaya. Karena Fan Li “kaya dan berakhlak”, ketika negara dalam musibah dan rakyat melarat harus mengungsi, hingga tiga kali Fan Li mendermakan seluruh kekayaannya kepada rakyat jelata.

Setelah perpindahan Fan Li kali ketiga ke Ding Tao, ia beranggapan bahwa lokasi Ding Tao ini adalah “Tepat di tengah dunia (Tiongkok), tembus ke empat penjuru (4 negara adidaya)”, merupakan tempat yang ideal bagi ajang bisnis perdagangan dan sekali lagi berhasil menjadi orang super kaya.

Konon, ketika itu demi menetapkan satuan timbangan, Fan Li menggunakan dari ilmu falak, 6 Bintang Selatan dan 7 Bintang Utara ditambah dengan 3 Bintang Hoki-income-usia, lalu dipadukan menjadi 16 kati, karena Bintang Selatan menentukan Hidup, Bintang Utara menentukan Mati dan Bintang Hoki menentukan Hoki-income-usia, dengan makna yang begitu jelas untuk memperingatkan para pedagang.

Timbangan yang kurang satu kati mengurangi hoki, kurang dua kati mengurangi income, kurang tiga kati mengurangi usia. Ukuran berat 16 kati ini dipergunakan lebih dari 2000 tahun lamanya. Makna pedoman strategi militer yang diwariskan oleh Fan Li: Kuat pantang arogan, dalam ketenangan ada persiapan. Lemah harus berusaha menjadi kuat dengan diam-diam, bergerak menunggu kesempatan. Memimpin pasukan harus pandai menggunakan kesempatan untuk menyerang, memenangkan pertempuran dengan serangan surprise/mengejutkan lawan.

Fan Li dalam mengatur negara dalam tempo tak terlalu lama negara itu kuat, mengatur keluarga lalu keluarga itu makmur, ketika berdagang bisa memperhatikan kebajikan, persaudaraan, akhlak dan kepercayaan, itu sebabnya ia disebut sebagai “Leluhur dagang” dalam kalangan etnik Tionghoa.

Sejak zaman dahulu, topik tentang harta kekayaan tak jemu diperbincangkan. Jika dipikir-pikir, mungkin seni perang itu sendiri merupakan aset khusus yang ditinggalkan untuk generasi penerus. Banyak dan sedikitnya harta juga seperti sebuah pembuktian, membuktikan apakah cara pengelolaan itu bijak dan sehat, semua ini tergantung pada pikiran sekilasnya ditempatkan dimana. Fan Li tiga kali mendermakan seluruh harta, dan tiga kali pula menjadi konglomerat.

“Kaya dan berakhlak”, titik beratnya terletak pada moralitas. Sejarah kuno sangat klasik. Sebuah kata ‘De’ (德, dibaca: Te, akhlak/moralitas) bisa membentang kisah sejarah ribuan tahun, intisari tradisional yang disimpan untuk generasi penerus bukan hanya konsep dari kekayaan, juga merupakan metode mencapai ketenangan jiwa dan ketercukupan materi, jalur untuk melanjutkan berkat bagi anak dan cucu. (lin/whs/rahmat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *