T.D Jakes, anak budak yang menjadi dokter rohani

T.D. Jakes

Keturunan Budak yang Menjadi Dokter Rohani

T.D. Jakes

Awal September lalu Woman, Thou Art Loosed (WTAL) membuat kejutan: meski hanya diputar di 408 bisokop, film ini berhasil menyusup ke urutan keenam daftar box office di AS. Meski tak sehiruk fenomena The Passion of the Christ, film garapan Michael Schultz ini cukup mencuri perhatian dan dipuji sejumlah pengulas. Januari lalu Christianity Today memilihnya sebagai salah satu dari The 10 Most Redeeming Films of 2004.

Tokoh dalam WTAL diilhami ratusan kisah nyata para wanita yang dijumpai T.D. Jakes dalam pelayanan konselingnya. Wanita itu, dipenjarakan karena pembunuhan, menuturkan masa lalunya yang penuh dengan penyiksaan, pengabaian, pendustaan dan penghinaan. T.D. Jakes berperan sebagai hamba Tuhan yang dengan lemah lembut menuntunnya menyadari kehampaan pembalasan dendam dan mendorongnya berdamai dengan Allah dan dengan sesama.

Sukses WTAL — sebelumnya berupa novel dan drama panggung — bisa disebut perpanjangan kemashyuran T.D. Jakes selama ini.

Dimulai dari Gereja Ruko

Thomas Dexter Jakes lahir 9 Juni 1957 di South Charleston, West Virginia. Orang tuanya dikenal komunitas setempat sebagai dermawan dan mendidik anak mereka untuk mengembangkan integritas, disiplin dan kemandirian. Sejak kecil ia sudah akrab dengan pelayanan dan pada 1979, ia mulai menggenapi panggilan pelayanannya dengan merintis dan melayani sebagai pendeta Greater Emmanuel Temple of Faith, gereja kecil bertempat di ruko di Montgomery, WV, yang awalnya hanya beranggota 10 orang.

Kini ia menggembalakan jemaat yang oleh Christianity Today disebut sebagai “salah satu jemaat-raya yang paling pesat bertumbuh di Amerika”. Bernama The Potter’s House, jemaat multirasial dan nondenominasional ini mengalami pertumbuhan fenomenal sejak 1996 saat pindah dari West Virginia ke Dallas, Texas.

Selain menggembalakan, ia juga aktif dalam pelayanan sosial, menulis (buku, lagu, drama), berbicara dalam seminar dan konferensi serta memiliki acara televisi sendiri. Di Dallas gerejanya dikenal karena pelayanan bagi kaum gelandangan, pecandu narkoba, pelacur, ibu tunggal dan mereka yang terpinggirkan.

Dalam liputan Time 7 Februari 2005 tentang 25 Most Influential Evangelicals, T.D. Jakes dicantumkan sebagai “The Pentecostal Media Mogul”. Artikel pendek yang menyertainya menggambarkan kesibukan hamba Tuhan satu ini.

Setelah menyebutkan sukses WTAL, Time melanjutkan, “Buku pemberdayaan-dirinya He-Motions: Even Strong Men Struggle laris. Studio rekamannya Dexterity Sounds/EMI Gospel memenangkan Grammy pertamanya. Pengajaran Jakes seputar iman, keluarga dan kesejahteraan finansial menjangkau melampaui The Potter’s House, gerejanya yang beranggota 35.000 orang di Dallas. Tahun ini ia menyiapkan dua film lagi dan merencanakan pelayaran jejaring-bisnis ke Alaska, konferensi kepemimpinan di London dan Mega Fest kedua, retret keluarga yang diharapkan diikuti 200.000 orang di Atlanta Agustus nanti. Menguasai psikologi populer, Jakes, 47, mewakili sisi baru bagi golongan Injili, neo-Pentakosta, yang memadukan kerohanian intensif dengan pendekatan terapi. Menghadapi kecaman atas gayanya telah memberikan pelajaran tersendiri bagi Jakes: buku terakhirnya berjudul Ten Commandments of Working in a Hostile Environment“.

Billy Graham Hitam

Tahun 1990-an ia dijuluki sebagai “Billy Graham berkulit hitam”. Dalam sebuah wawancara,Beliefnet menanyakan kesannya terhadap julukan tersebut.

“Meskipun saya merasa terhormat dibandingkan dengan tokoh seperti Billy Graham, saya menyadari bahwa kami masing-masing berbeda,” jawab ayah dari lima anak ini. “Jadi, saya pun tidak bergumul untuk meniru atau mengikuti jejak siapa saja, melainkan cukup melakukan hal-hal yang saya rasa sesuai dengan tujuan hidup saya. Saya menghargainya, saya menyambutnya, namun saya juga mengerti bahwa kami masing-masing unik. Tujuan hidup saya adalah melayani generasi saya dengan baik.”

Tahun 2001, Time memilihnya sebagai “America’s Best Preacher”. Setahun kemudianLeadership Journal mengadakan jajak pendapat bagi pembacanya untuk mengetahui siapa yang mereka anggap sebagai pengkhotbah paling efektif. T.D. Jakes mendapatkan suara terbanyak, 23 persen, bersama-sama dengan Charles Swindoll.

“T.D. Jakes menembus area yang kerap disembunyikan oleh orang Amerika: masalah keluarga, keuangan, anak-anak, pernikahan, seks. Ia tidak berpura-pura sudah sempurna sepanjang hidupnya, namun kemampuannya untuk berbicara tentang kurangnya iman membuat pesannya mengena telak bagi para pendengarnya,” komentar seorang pemilihnya.

Merangkul Korban dan Pelaku

Ia menyadari nasibnya tidak lebih buruk dari siapa pun, namun ia bisa bersimpati pada orang-orang yang dilayaninya karena ia sendiri mengalami penderitaan dan pergumulan. “Bentuknya beragam, mulai dari rasisme sampai kemiskinan dan kehancuran, dan juga pergumulan hidup sehari-hari,” katanya.

Nenek buyutnya seorang budak. Saat kecil ia sudah akrab dengan kisah lynching (hukuman mati tanpa pemeriksaan pengadilan) dan pemukulan terhadap orang kulit hitam. Pada akhir 1960-an ia masih menyaksikan orang-orang dipukuli dan ditinggalkan begitu saja di ladang jagung di Mississippi. Pengalaman-pengalaman itu tak ayal turut membangun paradigma pelayanannya.

“Pelayanan saya tidak dibangun untuk menuding apa yang benar dan apa yang salah. Pelayanan ini dibangun untuk melayani baik korban maupun pelaku kejahatan. Saya harus menyeimbangkan kata-kata saya sedemikian rupa sehingga baik korban maupun pelaku dapat menemukan penebusan di kayu salib. Saya tidak ingin Injil yang saya khotbahkan mengucilkan orang yang bersalah. Karena kalau saya mengucilkan orang yang bersalah, lalu apa gunanya salib?” jelas pendeta yang memandang tanggung jawabnya pada Tubuh Kristus seperti seorang ‘dokter rohani’ ini.

“Saya melihatnya (Kekristenan) lebih sebagai obat. Saya melihatnya mampu menarik orang yang tercela dan hancur serta memungkinkan mereka berbicara secara jujur dengan Allah seperti pasien kepada dokter. Anda tidak memeriksakan diri ke dokter dalam keadaan sehat. Anda mendatangi dokter karena ia memiliki sesuatu yang Anda perlukan untuk menjadikan keadaan Anda membaik. Saya rasa itulah falsafah saya tentang bagaimana seharusnya Kekristenan itu, dan saya pikir lengan Kekristenan seharusnya cukup lapang untuk merangkul (baik korban maupun pelaku),” lanjutnya.

Pria berkharisma ini juga sangat menghargai dukungan isterinya, Serita, atas suksesnya. “Secara teknis, dialah yang mengelola dan mengurus staf pelayanan kami. Namun, hal itu tak dapat dibandingkan dengan peran istimewa yang diperlihatkannya dalam kehidupan pribadi saya. Ia menjadi seorang isteri yang mampu melepaskan suaminya untuk melayani bangsa ini, untuk membagikan saya sebagai karunia bagi tubuh Kristus.” ***

— Dimuat di Bahana, Juni 2005.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *