Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Sang Pendiri Memilih Zuhud

TEMPO DOELOE

Sang Pendiri Memilih Zuhud

DAHULU Kota Semarang merupakan dataran lumpur. Maklum, posisinya berada di kawasan pantai utara Jawa. Banyak pendatang yang mencari penghidupan dan menetap di sini, termasuk Pangeran Made Pandan dari Kerajaan Islam Demak Bintoro. Ia datang bersama puteranya, Raden Pandan Arang. Keduanya membuka hutan, kemudian mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam.

Daerah ini dikenal subur. Banyak pepohonan tumbuh di kota ini, termasuk pohon asam arang (asem arang). Dari pohon inilah daerah tersebut kemudian dinamakan Semarang. Pandan Arang menjadi kepala daerah ini, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Setelah dia wafat, posisinya sebagai kepala daerah digantikan oleh puteranya, Pandan Arang II.

Di bawah kepemimpinannya, Semarang mengalami pertumbuhan yang makin pesat. Sultan Pajang Hadiwijaya pun tertarik, lalu menetapkan Semarang setingkat dengan kabupaten. Setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga, Sultan Pajang menobatkan Pandan Arang II sebagai bupati pertama Semarang. Prosesi penobatan ini berlangsung pada 12 Rabiulawal 954 Hijriyah, atau 2 Mei 1547.

Dengan alasan itulah, maka 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Semarang. Meski mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya, Pandan Arang II memilih zuhud: mengundurkan diri dari kehidupan duniawi yang dinilai materialistis. la meninggalkan jabatan bupati, sekaligus daerah yang dicintainya, menuju Bukit Jabakat di Klaten. Tokoh yang kemudian dikenal sebagai Sunan Tembayat ini wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Bukti Jabalkat.

Sepeninggal beliau, jabatan bupati Semarang diemban Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586). Tercatat 19 bupati sesudah itu, sampai Indonesia merdeka. Setelah Belanda mengakui wilayah kedaulatan RI, jabatan bupati dipercayakan kepada Sumardjito (hingga 1952) dan R Oetoyo Koesoemo (1952-1956).

Kabupaten dan Kota

Tapi yang disebut terakhir ini sudah tidak lagi mengurusi wilayah kota, melainkan kawasan luar Kota Semarang. Berdasarkan UU No 13/1950, Kota Semarang ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Semarang, dengan kantor di Kanjengan. Uniknya, Kota Semarang juga mempunyai pemerintahan sendiri. Baru pada 20 Desember 1983, ibu kota kabupaten dipindah ke Ungaran.

Kota Lama

Pada abad 18, Kota Semarang memiliki kawasan perdagangan yang sangat ramai, yaitu Outstadt, yang sekarang dikenal sebagai Kawasan Kota Lama. Untuk mengamankan warga dan wilayah seluas 31 ha ini, dibangunlah benteng segi lima (Vijhoek) di kawasan tersebut. Untuk mempercepat jalur perhubungan di ketiga pintu gerbang benteng, dibuat jalan-jalan perhubungan yang jalan utamanya disebut Heeren straat (kini Jl Letjen Soeprapto).

Saat ini hanya tersisa satu pintu benteng, yaitu de Zuider Por (jembatan Berok) yang dibangun pada tahun 1705. Nama jembatan ini sempat diubah jadi Gouvernementsbrug, karena lokasinya berdekatan balai kota (kini jadi Gedung Keuangan; dekat Kantor Pos).

Anda tak perlu bertanya, mengapa sekarang dinamakan jembatan Berok. Jawabannya sederhana. Wong Semarang sulit mengucapkan kata burg (jembatan), sehingga dieja jadi berok. (32)

Suara Merdeka  2 Mei 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *