Category Archives: Bagi Catatan

Terimakasih untuk kunjungan dan tanggapan Anda

Terimakasih telah mengunjungi situs kami. Kami sangat apresiatif terhadap tanggapan Anda.Komentar Anda akan dimoderasi.

Nama jalan dan tempat di Semarang yang unik dan menarik

Jembatan Berok. Jembatan ini tidak sebesar jembatan Ampera, apalagi Jembatan Suramadu. Sangat pendek, namun sangat terkenal. Melintasi kali Semarang. Konon, nama berok berasal dari kata Belanda  “Burg” yang artinya jembatan. Lidah orang Semarang tempo dulu sulit mengucapkan burg, jadilah brok, lalu menjadi berok seperti yang sudah kita kenal ini.

Cap Kau King (Tjap Khauw Khing) adalah nama sepenggal ruas jalan di Jalan Wotgandul Timur. Tidak banyak yang tahu mengapa dahulu jalan itu dinamakan demikian. Ada dua versi tentang penamaan Cap Kau King. Versi pertama mengatakan bahwa nama Cap Kau King adalah nama  seorang tokoh Tionghoa di jaman Belanda. Pendapat ini kurang dipercaya, mengingat marga “Cap” bukanlah marga yang umum di kalangan Tionghoa saat itu. Versi kedua mengatakan bahwa Cap Kau King berasal dari bahasa Hokian yang artinya “Sembilan belas petak”.

Pendrikan. Nama pendrikan konon berasal dari nama Belanda, yaitu “Friedrich-an” , lagi-lagi lidah logat Jawa menyebabkan kata ini terpleset menjadi Pendrikan.

Kali Koping, kadang diucapkan jadi Kali Kuping. Adalah jalan di belakang jalan gang Pinggir.

Mranggen dari kata Meranggian

Nama-nama jalan yang diambil berdasarkan karakteristik : Jalan.Pedamaran: dahulu banyak orang berdagang damar (hasil getah pohon damar). Jagalan : ada tempat pemotongan hewan (Sapi, kambing dll), Telogo Bayem (di dekat jalan Pandanaran) karena dahulu berupa rawa-rawa dan banyak tanaman bayam.

Jalan yang diberi nama ikan, berada di dekat pantai ataupun pelabuhan, seperti Jalan Layur (dahulu Kampung Melayu), Jalan Kakap, Jalan Dorang, Jalan Petek, jalan Mujair. Banyak dari jalan daerah ini yang rob.

Jalan yang diberi nama burung, biasanya di daerah kota lama (sekitar Gereja Blenduk), seperti jalan Cenderawasih, Jalan Branjangan, jalan Kutilang.

Sedang nama-nama hewan darat banyak dipakai sebagai nama jalan di daerah Semarang Timur mulai dari Jalan Majapahit ke arah Mranggen, seperti jalan Zebra, jalan Kelinci, jalan Beruang.

Jalan dengan nama-nama gunung, berada di bagian “Semarang atas”, maksudnya sebelah selatan Semarang yang memang kontur tanahnya berbukit. Ada jalan Rinjani, jalan Muria, jalan Ungaran (menjuju Hotel Patrajasa), Jalan Dieng, jalan Bromo, jalan Kawi.

Dahulu ada sebuah ruas jalan di Ungaran, yang diberi nama Merakmati. Arti Merakmati bisa berarti “burung Merak yang mati” ataupun dalam bahasa Jawa “Moro/mendatangi kematian”. Secara kebetulan, di ruas jalan ini sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian.Nama ini kemudian diganti menjadi Jalan Soekarno-Hatta, karena banyaknya pihak keberatan dengan nama sebelumnya yang dinilai kurang baik artinya. Walaupun nama jalan raya sudah dirubah, tetapi nama desa masih menggunakan nama Merakmati.

Krajan, dari kata kerajaan (maksudnya tempat dimana kepala desa bertempat tinggal) banyak dipakai di belakang suatu nama tempat , misal Genuk Krajan, Wonodri Krajan, desa Krajan.

Milo, suatu istilah bagi tempat di sudut jalan perempatan jalan Dr.Cipto – Majapahit. Orang menyebut Milo karena dahulu di jaman Belanda di situ terdapat sekolah MULO ( diucapkan Milo).

Sang Pendiri Memilih Zuhud

TEMPO DOELOE

Sang Pendiri Memilih Zuhud

DAHULU Kota Semarang merupakan dataran lumpur. Maklum, posisinya berada di kawasan pantai utara Jawa. Banyak pendatang yang mencari penghidupan dan menetap di sini, termasuk Pangeran Made Pandan dari Kerajaan Islam Demak Bintoro. Ia datang bersama puteranya, Raden Pandan Arang. Keduanya membuka hutan, kemudian mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam.

Daerah ini dikenal subur. Banyak pepohonan tumbuh di kota ini, termasuk pohon asam arang (asem arang). Dari pohon inilah daerah tersebut kemudian dinamakan Semarang. Pandan Arang menjadi kepala daerah ini, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Setelah dia wafat, posisinya sebagai kepala daerah digantikan oleh puteranya, Pandan Arang II.

Di bawah kepemimpinannya, Semarang mengalami pertumbuhan yang makin pesat. Sultan Pajang Hadiwijaya pun tertarik, lalu menetapkan Semarang setingkat dengan kabupaten. Setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga, Sultan Pajang menobatkan Pandan Arang II sebagai bupati pertama Semarang. Prosesi penobatan ini berlangsung pada 12 Rabiulawal 954 Hijriyah, atau 2 Mei 1547.

Dengan alasan itulah, maka 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Semarang. Meski mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya, Pandan Arang II memilih zuhud: mengundurkan diri dari kehidupan duniawi yang dinilai materialistis. la meninggalkan jabatan bupati, sekaligus daerah yang dicintainya, menuju Bukit Jabakat di Klaten. Tokoh yang kemudian dikenal sebagai Sunan Tembayat ini wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Bukti Jabalkat.

Sepeninggal beliau, jabatan bupati Semarang diemban Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586). Tercatat 19 bupati sesudah itu, sampai Indonesia merdeka. Setelah Belanda mengakui wilayah kedaulatan RI, jabatan bupati dipercayakan kepada Sumardjito (hingga 1952) dan R Oetoyo Koesoemo (1952-1956).

Kabupaten dan Kota

Tapi yang disebut terakhir ini sudah tidak lagi mengurusi wilayah kota, melainkan kawasan luar Kota Semarang. Berdasarkan UU No 13/1950, Kota Semarang ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Semarang, dengan kantor di Kanjengan. Uniknya, Kota Semarang juga mempunyai pemerintahan sendiri. Baru pada 20 Desember 1983, ibu kota kabupaten dipindah ke Ungaran.

Kota Lama

Pada abad 18, Kota Semarang memiliki kawasan perdagangan yang sangat ramai, yaitu Outstadt, yang sekarang dikenal sebagai Kawasan Kota Lama. Untuk mengamankan warga dan wilayah seluas 31 ha ini, dibangunlah benteng segi lima (Vijhoek) di kawasan tersebut. Untuk mempercepat jalur perhubungan di ketiga pintu gerbang benteng, dibuat jalan-jalan perhubungan yang jalan utamanya disebut Heeren straat (kini Jl Letjen Soeprapto).

Saat ini hanya tersisa satu pintu benteng, yaitu de Zuider Por (jembatan Berok) yang dibangun pada tahun 1705. Nama jembatan ini sempat diubah jadi Gouvernementsbrug, karena lokasinya berdekatan balai kota (kini jadi Gedung Keuangan; dekat Kantor Pos).

Anda tak perlu bertanya, mengapa sekarang dinamakan jembatan Berok. Jawabannya sederhana. Wong Semarang sulit mengucapkan kata burg (jembatan), sehingga dieja jadi berok. (32)

Suara Merdeka  2 Mei 2006

T.D Jakes, anak budak yang menjadi dokter rohani

T.D. Jakes

Keturunan Budak yang Menjadi Dokter Rohani

T.D. Jakes

Awal September lalu Woman, Thou Art Loosed (WTAL) membuat kejutan: meski hanya diputar di 408 bisokop, film ini berhasil menyusup ke urutan keenam daftar box office di AS. Meski tak sehiruk fenomena The Passion of the Christ, film garapan Michael Schultz ini cukup mencuri perhatian dan dipuji sejumlah pengulas. Januari lalu Christianity Today memilihnya sebagai salah satu dari The 10 Most Redeeming Films of 2004.

Tokoh dalam WTAL diilhami ratusan kisah nyata para wanita yang dijumpai T.D. Jakes dalam pelayanan konselingnya. Wanita itu, dipenjarakan karena pembunuhan, menuturkan masa lalunya yang penuh dengan penyiksaan, pengabaian, pendustaan dan penghinaan. T.D. Jakes berperan sebagai hamba Tuhan yang dengan lemah lembut menuntunnya menyadari kehampaan pembalasan dendam dan mendorongnya berdamai dengan Allah dan dengan sesama.

Sukses WTAL — sebelumnya berupa novel dan drama panggung — bisa disebut perpanjangan kemashyuran T.D. Jakes selama ini.

Dimulai dari Gereja Ruko

Thomas Dexter Jakes lahir 9 Juni 1957 di South Charleston, West Virginia. Orang tuanya dikenal komunitas setempat sebagai dermawan dan mendidik anak mereka untuk mengembangkan integritas, disiplin dan kemandirian. Sejak kecil ia sudah akrab dengan pelayanan dan pada 1979, ia mulai menggenapi panggilan pelayanannya dengan merintis dan melayani sebagai pendeta Greater Emmanuel Temple of Faith, gereja kecil bertempat di ruko di Montgomery, WV, yang awalnya hanya beranggota 10 orang.

Kini ia menggembalakan jemaat yang oleh Christianity Today disebut sebagai “salah satu jemaat-raya yang paling pesat bertumbuh di Amerika”. Bernama The Potter’s House, jemaat multirasial dan nondenominasional ini mengalami pertumbuhan fenomenal sejak 1996 saat pindah dari West Virginia ke Dallas, Texas.

Selain menggembalakan, ia juga aktif dalam pelayanan sosial, menulis (buku, lagu, drama), berbicara dalam seminar dan konferensi serta memiliki acara televisi sendiri. Di Dallas gerejanya dikenal karena pelayanan bagi kaum gelandangan, pecandu narkoba, pelacur, ibu tunggal dan mereka yang terpinggirkan.

Dalam liputan Time 7 Februari 2005 tentang 25 Most Influential Evangelicals, T.D. Jakes dicantumkan sebagai “The Pentecostal Media Mogul”. Artikel pendek yang menyertainya menggambarkan kesibukan hamba Tuhan satu ini.

Setelah menyebutkan sukses WTAL, Time melanjutkan, “Buku pemberdayaan-dirinya He-Motions: Even Strong Men Struggle laris. Studio rekamannya Dexterity Sounds/EMI Gospel memenangkan Grammy pertamanya. Pengajaran Jakes seputar iman, keluarga dan kesejahteraan finansial menjangkau melampaui The Potter’s House, gerejanya yang beranggota 35.000 orang di Dallas. Tahun ini ia menyiapkan dua film lagi dan merencanakan pelayaran jejaring-bisnis ke Alaska, konferensi kepemimpinan di London dan Mega Fest kedua, retret keluarga yang diharapkan diikuti 200.000 orang di Atlanta Agustus nanti. Menguasai psikologi populer, Jakes, 47, mewakili sisi baru bagi golongan Injili, neo-Pentakosta, yang memadukan kerohanian intensif dengan pendekatan terapi. Menghadapi kecaman atas gayanya telah memberikan pelajaran tersendiri bagi Jakes: buku terakhirnya berjudul Ten Commandments of Working in a Hostile Environment“.

Billy Graham Hitam

Tahun 1990-an ia dijuluki sebagai “Billy Graham berkulit hitam”. Dalam sebuah wawancara,Beliefnet menanyakan kesannya terhadap julukan tersebut.

“Meskipun saya merasa terhormat dibandingkan dengan tokoh seperti Billy Graham, saya menyadari bahwa kami masing-masing berbeda,” jawab ayah dari lima anak ini. “Jadi, saya pun tidak bergumul untuk meniru atau mengikuti jejak siapa saja, melainkan cukup melakukan hal-hal yang saya rasa sesuai dengan tujuan hidup saya. Saya menghargainya, saya menyambutnya, namun saya juga mengerti bahwa kami masing-masing unik. Tujuan hidup saya adalah melayani generasi saya dengan baik.”

Tahun 2001, Time memilihnya sebagai “America’s Best Preacher”. Setahun kemudianLeadership Journal mengadakan jajak pendapat bagi pembacanya untuk mengetahui siapa yang mereka anggap sebagai pengkhotbah paling efektif. T.D. Jakes mendapatkan suara terbanyak, 23 persen, bersama-sama dengan Charles Swindoll.

“T.D. Jakes menembus area yang kerap disembunyikan oleh orang Amerika: masalah keluarga, keuangan, anak-anak, pernikahan, seks. Ia tidak berpura-pura sudah sempurna sepanjang hidupnya, namun kemampuannya untuk berbicara tentang kurangnya iman membuat pesannya mengena telak bagi para pendengarnya,” komentar seorang pemilihnya.

Merangkul Korban dan Pelaku

Ia menyadari nasibnya tidak lebih buruk dari siapa pun, namun ia bisa bersimpati pada orang-orang yang dilayaninya karena ia sendiri mengalami penderitaan dan pergumulan. “Bentuknya beragam, mulai dari rasisme sampai kemiskinan dan kehancuran, dan juga pergumulan hidup sehari-hari,” katanya.

Nenek buyutnya seorang budak. Saat kecil ia sudah akrab dengan kisah lynching (hukuman mati tanpa pemeriksaan pengadilan) dan pemukulan terhadap orang kulit hitam. Pada akhir 1960-an ia masih menyaksikan orang-orang dipukuli dan ditinggalkan begitu saja di ladang jagung di Mississippi. Pengalaman-pengalaman itu tak ayal turut membangun paradigma pelayanannya.

“Pelayanan saya tidak dibangun untuk menuding apa yang benar dan apa yang salah. Pelayanan ini dibangun untuk melayani baik korban maupun pelaku kejahatan. Saya harus menyeimbangkan kata-kata saya sedemikian rupa sehingga baik korban maupun pelaku dapat menemukan penebusan di kayu salib. Saya tidak ingin Injil yang saya khotbahkan mengucilkan orang yang bersalah. Karena kalau saya mengucilkan orang yang bersalah, lalu apa gunanya salib?” jelas pendeta yang memandang tanggung jawabnya pada Tubuh Kristus seperti seorang ‘dokter rohani’ ini.

“Saya melihatnya (Kekristenan) lebih sebagai obat. Saya melihatnya mampu menarik orang yang tercela dan hancur serta memungkinkan mereka berbicara secara jujur dengan Allah seperti pasien kepada dokter. Anda tidak memeriksakan diri ke dokter dalam keadaan sehat. Anda mendatangi dokter karena ia memiliki sesuatu yang Anda perlukan untuk menjadikan keadaan Anda membaik. Saya rasa itulah falsafah saya tentang bagaimana seharusnya Kekristenan itu, dan saya pikir lengan Kekristenan seharusnya cukup lapang untuk merangkul (baik korban maupun pelaku),” lanjutnya.

Pria berkharisma ini juga sangat menghargai dukungan isterinya, Serita, atas suksesnya. “Secara teknis, dialah yang mengelola dan mengurus staf pelayanan kami. Namun, hal itu tak dapat dibandingkan dengan peran istimewa yang diperlihatkannya dalam kehidupan pribadi saya. Ia menjadi seorang isteri yang mampu melepaskan suaminya untuk melayani bangsa ini, untuk membagikan saya sebagai karunia bagi tubuh Kristus.” ***

— Dimuat di Bahana, Juni 2005.

 

 

Idiom Tionghoa dari Confusius,ingin pohon diam,tetapi angin tidak berhenti

Asal Usul Idiom Cina, Menginginkan Pohon Untuk Tetap Diam, Tapi Angin Tidak Akan Berhenti

Suatu hari, ketika Confusius sedang jalan-jalan, dia melihat seseorang yang sedang duduk dan menangis di pinggir jalan. Confusius bertanya pada orang itu, ” Mengapa anda menangis sampai begitu sedihnya.”

Orang itu berkata, Saya menangis karena saya membuat tiga kesalahan yang tidak bisa lagi diperbaiki.
Aku merasa sedih setiap kali saya memikirkan hal itu. Ketika saya masih muda, saya terlalu ambisi dalam belajar dan mengabaikan untuk merawat orang tua saya. Sebaliknya, mereka harus menjagaku. Aku mengaku, hal ini telah membuatku menjauhkan diri dari urusan duniawi dan tidak menekunipekerjaan dengan sepenuh hatiku, itulah yang menghambat karier saya. Saya juga telah bermusuhan dengan orang lain sejak kecil, sehingga tidak ada yang ingin menjadi teman saya.
Sekarang saya telah menjadi tua dan kesepian, saya seperti pohon yang menginginkan untuk tetap diam, tapi angin tidak akan berhenti. Saya ingin menebus kesalahan masa lalu saya, tapi sudah terlambat sekarang.

Orang tua saya sudah meninggal,.. tidak ada lagi seorang pun yang memberikan saya kesempatan untuk berteman dengannya dan saya juga sudah terlalu tua untuk memulai karier saya yang telah berakhir. Setiap kali saya teringat kesalahan-kesalahan ini, saya selalu diliputi kesedihan. ”

Idiom Cina mengatakan, “Menginginkan Pohon untuk tetap diam, tapi angin tidak akan berhenti” adalah sebuah analogi untuk menggambarkan sebuah situasi di mana seseorang yang ingin melakukan sesuatu, tetapi keadaan sudah tidak memungkinkan lagi.

Sumber: Kebajikan ( De 德 )

Kisah selir raja penyelamat kerajaan

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada “3 ta”, yaitu Tahta, Harta dan Wanita…

Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria).

Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri.

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya.

Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan.

Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti.

“Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri,” sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya.

Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya…

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit.

Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu.

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar.

Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai “Puteri kebajikan nan tak tertandingi!” Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan.

Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani.

Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing.

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka.

Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai “Kota Terlarang” penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri.

Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi!

Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

RENUNGAN :
Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang.

Dikutip dari Buku Anchee Min ,dan Kisah Hidup.

Kisah martirnya saudara Watchman Nee – bagian 2

wn1
wn1

Kisah martyrnya saudara Watchman Nee

wn1
wn1

Ngomongin Drone, pesawat kendali jarak jauh

Dalam film November Man yang dibintangi Pierce Brosnan , menampilkan penggunaan DRONE. Lalu ada juga film “Bourne Legacy” yang juga sempat menampilkan adanya DRONE.
Lalu apakah sebenarnya DRONE itu?
Sumber Wikipedia Indonesia menyebut bahwa Drone adalah:”Pesawat tanpa awak atau Pesawat nirawak (english = Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri, menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa digunakan kembali dan mampu membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya . Penggunaan terbesar dari pesawat tanpa awak ini adalah dibidang militer. Rudal walaupun mempunyai kesamaan tapi tetap dianggap berbeda dengan pesawat tanpa awak karena rudal tidak bisa digunakan kembali dan rudal adalah senjata itu sendiri.
“Saya sendiri cenderung mendeskripsikan : “Pesawat cerdas ringan tanpa awak dengan pengendalian jarak jauh, diperlengkapi dengan berbagai kemampuan cyber” atau kalau diperluas lagi menjadi :”Pesawat cerdas ringan tanpa awak dengan pengendalian jarak jauh, diperlengkapi dengan berbagai kemampuan cyber seperti : mendeteksi enerji panas, membawa perangkat kamera yang di koneksi melalui jaringan wireless”
Drone dengan remote

Drone juga digunakan untuk keperluan syuting. Anda pasti sering melihat film atau iklan dengan menggunakan drone.Gambar yang lebih luas ini didapat karena gambar diambil dari ketinggian tertentu dari pesawat tanpa awak tadi. Pesawat drone sendiri ukurannya mini dengan seperangkat baling-baling menjadi alat utama.Karena berukuran kecil dengan medan kerja berupa udara, Drone tidak bisa diterbangkan dengan sembarangan. Saat menerbangkan drone haruslah memperhatikan ketinggian dan tekanan angin yang ada.

Strategi Perang Sun Tzu

dikutip dari erabaru
Jumlah orang-orang super kaya di dunia ini termasuk langka. Kekayaan yang mereka miliki bukan hanya bisa menyamai suatu negara, juga membuat orang berpikir, mengapa mereka yang berjumlah minoritas itu bisa menguasai harta kekayaan yang tidak bisa dimiliki oleh kebanyakan orang. Fenomena ini sepertinya mirip strategi “Dengan minoritas mengungguli mayoritas” dalam seni perang Sun Tzu.

Berbicara mengenai penggunaan strategi seni perang di dalam perdagangan, hal ini sering ditemui di negara-negara Asia Tenggara. Konon, buku-buku tentang “Seni perang Sun Zi (Dibaca: Suen Ce, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan: Sun Tzu)” di Korea Selatan bukan hanya sebagai best seller, juga sebagai buku terlaris sepanjang masa. Jumlah penjualannya di sepanjang tahun sudah memecahkan rekor paling tinggi dalam sejarah percetakan buku di Korsel.

Buku “Seni perang Sun Zi” juga sudah menjadi teori pedoman bagi banyak perusahaan yang mementingkan informasi pemasaran. Banyak pengusaha dan CEO Korsel mencoba menimba pengalaman dan strategi kesuksesan dan kegagalan dalam seni perang Tiongkok zaman kuno, untuk menghadapi pasar internasional yang berubah-ubah bagai cuaca tak menentu.

Di Jepang, buku Seni perang Sun Zi juga sangat populer, dalam pameo yang sering keluar dari mulut orang Jepang ada banyak sekali kata-kata mutiara Sun Zi. Buku Seni perang Sun Zi versi bahasa Jepang dengan berbagai penjelasan dan cara penggunaannya, menurut statistik ada lebih dari 280 jenis. Lebih-lebih bagi yang mengikuti diskusi dalam buku tak terhitung banyaknya. Buku direktori bisnis yang menggunakan seni perang sebagai bahan jumlahnya juga sangat mengejutkan.

Masayoshi Son pendiri Softbank Grup Jepang sangat mencintai buku Seni perang Sun Zi. Dalam keadaan sakit dan berbaring di ranjang ia juga mempertahankan untuk membaca. Kemudian ia mengarang sendiri “Seni perang Sun Sun” dan menyetarakan marga ‘Sun’ miliknya dengan ‘Sun’ dari ‘Sun Zi’, juga ada orang yang secara kelakar menyebut buku tersebut sebagai “Seni perang keturunan Sun.”

Masayoshi Son mengutip kata-kata Sun Zi ditulis di depan pintu gerbang pabrik sebagai pedoman. Inti sari seni perang Sun Zi diterapkannya dalam setiap kali akuisisi dan investasi dari Softbank, telah benar-benar melaksanakan “menang tanpa berperang”, dengan cepat menyetarakan dirinya ke jajaran konglomerat super kaya di Jepang.

Di zaman Tiongkok kuno, segala sesuatu membicarakan Dao (dibaca: Tao, ajaran Lao Zi/Laotse). Tidak peduli dalam metode dagang ataupun seni perang, keduanya saling ada kemiripan. Dalam resep rahasia yang dipegang para pengelola bisnis di zaman Tiongkok kuno, salah satu versi dalam strategi seni perang itu ialah: “Seorang pengelola bisnis bagaikan seorang panglima pengatur laskar, mendapatkan kemenangan dari medan/ topografi yang menguntungkan. Jika memahami hal ini dalam berperang akan mencapai kemenangan, jika tidak, pasti akan kalah.”

Itu merupakan jurus rahasia utama dalam pengelolaan bisnis bahwa pengelola bisnis/perdagangan itu bagai panglima perang yang memimpin puluhan ribu pasukan kavaleri dan infantri, meraih kemenangannya dengan menduduki terlebih dahulu topografi yang menguntungkan. Itu sebabnya dari zaman kuno hingga kini telah terwariskan “Medan perdagangan bagaikan medan peperangan”.

Fan Li seorang ahli strategi besar pada zaman Chunqiu Zhanguo (zaman negara berperang dan musim semi – musim gugur sekitar 2500 tahun silam), paruh hidup pertamanya sebagai politikus membantu Goujian Raja Ye, dalam tempo 10 tahun membuat Negara Ye yang semula di ambang kehancuran menjadi salah satu hegemoni dari lima Negara adidaya di zaman Chunqiu. Ketika karier politiknya mencapai puncak, ia memutuskan mengundurkan diri pada waktu yang tepat. Setelah itu, dalam kurun waktu 19 tahun di dalam dunia perdagangan, ia mengalami 3 kali menjadi pedagang super kaya. Karena Fan Li “kaya dan berakhlak”, ketika negara dalam musibah dan rakyat melarat harus mengungsi, hingga tiga kali Fan Li mendermakan seluruh kekayaannya kepada rakyat jelata.

Setelah perpindahan Fan Li kali ketiga ke Ding Tao, ia beranggapan bahwa lokasi Ding Tao ini adalah “Tepat di tengah dunia (Tiongkok), tembus ke empat penjuru (4 negara adidaya)”, merupakan tempat yang ideal bagi ajang bisnis perdagangan dan sekali lagi berhasil menjadi orang super kaya.

Konon, ketika itu demi menetapkan satuan timbangan, Fan Li menggunakan dari ilmu falak, 6 Bintang Selatan dan 7 Bintang Utara ditambah dengan 3 Bintang Hoki-income-usia, lalu dipadukan menjadi 16 kati, karena Bintang Selatan menentukan Hidup, Bintang Utara menentukan Mati dan Bintang Hoki menentukan Hoki-income-usia, dengan makna yang begitu jelas untuk memperingatkan para pedagang.

Timbangan yang kurang satu kati mengurangi hoki, kurang dua kati mengurangi income, kurang tiga kati mengurangi usia. Ukuran berat 16 kati ini dipergunakan lebih dari 2000 tahun lamanya. Makna pedoman strategi militer yang diwariskan oleh Fan Li: Kuat pantang arogan, dalam ketenangan ada persiapan. Lemah harus berusaha menjadi kuat dengan diam-diam, bergerak menunggu kesempatan. Memimpin pasukan harus pandai menggunakan kesempatan untuk menyerang, memenangkan pertempuran dengan serangan surprise/mengejutkan lawan.

Fan Li dalam mengatur negara dalam tempo tak terlalu lama negara itu kuat, mengatur keluarga lalu keluarga itu makmur, ketika berdagang bisa memperhatikan kebajikan, persaudaraan, akhlak dan kepercayaan, itu sebabnya ia disebut sebagai “Leluhur dagang” dalam kalangan etnik Tionghoa.

Sejak zaman dahulu, topik tentang harta kekayaan tak jemu diperbincangkan. Jika dipikir-pikir, mungkin seni perang itu sendiri merupakan aset khusus yang ditinggalkan untuk generasi penerus. Banyak dan sedikitnya harta juga seperti sebuah pembuktian, membuktikan apakah cara pengelolaan itu bijak dan sehat, semua ini tergantung pada pikiran sekilasnya ditempatkan dimana. Fan Li tiga kali mendermakan seluruh harta, dan tiga kali pula menjadi konglomerat.

“Kaya dan berakhlak”, titik beratnya terletak pada moralitas. Sejarah kuno sangat klasik. Sebuah kata ‘De’ (德, dibaca: Te, akhlak/moralitas) bisa membentang kisah sejarah ribuan tahun, intisari tradisional yang disimpan untuk generasi penerus bukan hanya konsep dari kekayaan, juga merupakan metode mencapai ketenangan jiwa dan ketercukupan materi, jalur untuk melanjutkan berkat bagi anak dan cucu. (lin/whs/rahmat)