Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Kisah menarik

T.D Jakes, anak budak yang menjadi dokter rohani

T.D. Jakes

Keturunan Budak yang Menjadi Dokter Rohani

T.D. Jakes

Awal September lalu Woman, Thou Art Loosed (WTAL) membuat kejutan: meski hanya diputar di 408 bisokop, film ini berhasil menyusup ke urutan keenam daftar box office di AS. Meski tak sehiruk fenomena The Passion of the Christ, film garapan Michael Schultz ini cukup mencuri perhatian dan dipuji sejumlah pengulas. Januari lalu Christianity Today memilihnya sebagai salah satu dari The 10 Most Redeeming Films of 2004.

Tokoh dalam WTAL diilhami ratusan kisah nyata para wanita yang dijumpai T.D. Jakes dalam pelayanan konselingnya. Wanita itu, dipenjarakan karena pembunuhan, menuturkan masa lalunya yang penuh dengan penyiksaan, pengabaian, pendustaan dan penghinaan. T.D. Jakes berperan sebagai hamba Tuhan yang dengan lemah lembut menuntunnya menyadari kehampaan pembalasan dendam dan mendorongnya berdamai dengan Allah dan dengan sesama.

Sukses WTAL — sebelumnya berupa novel dan drama panggung — bisa disebut perpanjangan kemashyuran T.D. Jakes selama ini.

Dimulai dari Gereja Ruko

Thomas Dexter Jakes lahir 9 Juni 1957 di South Charleston, West Virginia. Orang tuanya dikenal komunitas setempat sebagai dermawan dan mendidik anak mereka untuk mengembangkan integritas, disiplin dan kemandirian. Sejak kecil ia sudah akrab dengan pelayanan dan pada 1979, ia mulai menggenapi panggilan pelayanannya dengan merintis dan melayani sebagai pendeta Greater Emmanuel Temple of Faith, gereja kecil bertempat di ruko di Montgomery, WV, yang awalnya hanya beranggota 10 orang.

Kini ia menggembalakan jemaat yang oleh Christianity Today disebut sebagai “salah satu jemaat-raya yang paling pesat bertumbuh di Amerika”. Bernama The Potter’s House, jemaat multirasial dan nondenominasional ini mengalami pertumbuhan fenomenal sejak 1996 saat pindah dari West Virginia ke Dallas, Texas.

Selain menggembalakan, ia juga aktif dalam pelayanan sosial, menulis (buku, lagu, drama), berbicara dalam seminar dan konferensi serta memiliki acara televisi sendiri. Di Dallas gerejanya dikenal karena pelayanan bagi kaum gelandangan, pecandu narkoba, pelacur, ibu tunggal dan mereka yang terpinggirkan.

Dalam liputan Time 7 Februari 2005 tentang 25 Most Influential Evangelicals, T.D. Jakes dicantumkan sebagai “The Pentecostal Media Mogul”. Artikel pendek yang menyertainya menggambarkan kesibukan hamba Tuhan satu ini.

Setelah menyebutkan sukses WTAL, Time melanjutkan, “Buku pemberdayaan-dirinya He-Motions: Even Strong Men Struggle laris. Studio rekamannya Dexterity Sounds/EMI Gospel memenangkan Grammy pertamanya. Pengajaran Jakes seputar iman, keluarga dan kesejahteraan finansial menjangkau melampaui The Potter’s House, gerejanya yang beranggota 35.000 orang di Dallas. Tahun ini ia menyiapkan dua film lagi dan merencanakan pelayaran jejaring-bisnis ke Alaska, konferensi kepemimpinan di London dan Mega Fest kedua, retret keluarga yang diharapkan diikuti 200.000 orang di Atlanta Agustus nanti. Menguasai psikologi populer, Jakes, 47, mewakili sisi baru bagi golongan Injili, neo-Pentakosta, yang memadukan kerohanian intensif dengan pendekatan terapi. Menghadapi kecaman atas gayanya telah memberikan pelajaran tersendiri bagi Jakes: buku terakhirnya berjudul Ten Commandments of Working in a Hostile Environment“.

Billy Graham Hitam

Tahun 1990-an ia dijuluki sebagai “Billy Graham berkulit hitam”. Dalam sebuah wawancara,Beliefnet menanyakan kesannya terhadap julukan tersebut.

“Meskipun saya merasa terhormat dibandingkan dengan tokoh seperti Billy Graham, saya menyadari bahwa kami masing-masing berbeda,” jawab ayah dari lima anak ini. “Jadi, saya pun tidak bergumul untuk meniru atau mengikuti jejak siapa saja, melainkan cukup melakukan hal-hal yang saya rasa sesuai dengan tujuan hidup saya. Saya menghargainya, saya menyambutnya, namun saya juga mengerti bahwa kami masing-masing unik. Tujuan hidup saya adalah melayani generasi saya dengan baik.”

Tahun 2001, Time memilihnya sebagai “America’s Best Preacher”. Setahun kemudianLeadership Journal mengadakan jajak pendapat bagi pembacanya untuk mengetahui siapa yang mereka anggap sebagai pengkhotbah paling efektif. T.D. Jakes mendapatkan suara terbanyak, 23 persen, bersama-sama dengan Charles Swindoll.

“T.D. Jakes menembus area yang kerap disembunyikan oleh orang Amerika: masalah keluarga, keuangan, anak-anak, pernikahan, seks. Ia tidak berpura-pura sudah sempurna sepanjang hidupnya, namun kemampuannya untuk berbicara tentang kurangnya iman membuat pesannya mengena telak bagi para pendengarnya,” komentar seorang pemilihnya.

Merangkul Korban dan Pelaku

Ia menyadari nasibnya tidak lebih buruk dari siapa pun, namun ia bisa bersimpati pada orang-orang yang dilayaninya karena ia sendiri mengalami penderitaan dan pergumulan. “Bentuknya beragam, mulai dari rasisme sampai kemiskinan dan kehancuran, dan juga pergumulan hidup sehari-hari,” katanya.

Nenek buyutnya seorang budak. Saat kecil ia sudah akrab dengan kisah lynching (hukuman mati tanpa pemeriksaan pengadilan) dan pemukulan terhadap orang kulit hitam. Pada akhir 1960-an ia masih menyaksikan orang-orang dipukuli dan ditinggalkan begitu saja di ladang jagung di Mississippi. Pengalaman-pengalaman itu tak ayal turut membangun paradigma pelayanannya.

“Pelayanan saya tidak dibangun untuk menuding apa yang benar dan apa yang salah. Pelayanan ini dibangun untuk melayani baik korban maupun pelaku kejahatan. Saya harus menyeimbangkan kata-kata saya sedemikian rupa sehingga baik korban maupun pelaku dapat menemukan penebusan di kayu salib. Saya tidak ingin Injil yang saya khotbahkan mengucilkan orang yang bersalah. Karena kalau saya mengucilkan orang yang bersalah, lalu apa gunanya salib?” jelas pendeta yang memandang tanggung jawabnya pada Tubuh Kristus seperti seorang ‘dokter rohani’ ini.

“Saya melihatnya (Kekristenan) lebih sebagai obat. Saya melihatnya mampu menarik orang yang tercela dan hancur serta memungkinkan mereka berbicara secara jujur dengan Allah seperti pasien kepada dokter. Anda tidak memeriksakan diri ke dokter dalam keadaan sehat. Anda mendatangi dokter karena ia memiliki sesuatu yang Anda perlukan untuk menjadikan keadaan Anda membaik. Saya rasa itulah falsafah saya tentang bagaimana seharusnya Kekristenan itu, dan saya pikir lengan Kekristenan seharusnya cukup lapang untuk merangkul (baik korban maupun pelaku),” lanjutnya.

Pria berkharisma ini juga sangat menghargai dukungan isterinya, Serita, atas suksesnya. “Secara teknis, dialah yang mengelola dan mengurus staf pelayanan kami. Namun, hal itu tak dapat dibandingkan dengan peran istimewa yang diperlihatkannya dalam kehidupan pribadi saya. Ia menjadi seorang isteri yang mampu melepaskan suaminya untuk melayani bangsa ini, untuk membagikan saya sebagai karunia bagi tubuh Kristus.” ***

— Dimuat di Bahana, Juni 2005.

 

 

Idiom Tionghoa dari Confusius,ingin pohon diam,tetapi angin tidak berhenti

Asal Usul Idiom Cina, Menginginkan Pohon Untuk Tetap Diam, Tapi Angin Tidak Akan Berhenti

Suatu hari, ketika Confusius sedang jalan-jalan, dia melihat seseorang yang sedang duduk dan menangis di pinggir jalan. Confusius bertanya pada orang itu, ” Mengapa anda menangis sampai begitu sedihnya.”

Orang itu berkata, Saya menangis karena saya membuat tiga kesalahan yang tidak bisa lagi diperbaiki.
Aku merasa sedih setiap kali saya memikirkan hal itu. Ketika saya masih muda, saya terlalu ambisi dalam belajar dan mengabaikan untuk merawat orang tua saya. Sebaliknya, mereka harus menjagaku. Aku mengaku, hal ini telah membuatku menjauhkan diri dari urusan duniawi dan tidak menekunipekerjaan dengan sepenuh hatiku, itulah yang menghambat karier saya. Saya juga telah bermusuhan dengan orang lain sejak kecil, sehingga tidak ada yang ingin menjadi teman saya.
Sekarang saya telah menjadi tua dan kesepian, saya seperti pohon yang menginginkan untuk tetap diam, tapi angin tidak akan berhenti. Saya ingin menebus kesalahan masa lalu saya, tapi sudah terlambat sekarang.

Orang tua saya sudah meninggal,.. tidak ada lagi seorang pun yang memberikan saya kesempatan untuk berteman dengannya dan saya juga sudah terlalu tua untuk memulai karier saya yang telah berakhir. Setiap kali saya teringat kesalahan-kesalahan ini, saya selalu diliputi kesedihan. ”

Idiom Cina mengatakan, “Menginginkan Pohon untuk tetap diam, tapi angin tidak akan berhenti” adalah sebuah analogi untuk menggambarkan sebuah situasi di mana seseorang yang ingin melakukan sesuatu, tetapi keadaan sudah tidak memungkinkan lagi.

Sumber: Kebajikan ( De 德 )

Kisah selir raja penyelamat kerajaan

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada “3 ta”, yaitu Tahta, Harta dan Wanita…

Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria).

Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri.

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya.

Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan.

Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti.

“Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri,” sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya.

Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya…

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit.

Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu.

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar.

Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai “Puteri kebajikan nan tak tertandingi!” Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan.

Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani.

Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing.

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka.

Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai “Kota Terlarang” penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri.

Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi!

Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

RENUNGAN :
Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang.

Dikutip dari Buku Anchee Min ,dan Kisah Hidup.

Kisah martirnya saudara Watchman Nee – bagian 2

wn1
wn1

Dongeng dari Aesop

Dikisahkan, ada dua ekor ayam jago tinggal di peternakan yang sama, mereka saling melihat satu sama lain. Akhirnya suatu hari mereka bertarung habis-habisan menggunakan paruh dan cakar. Mereka bertarung sampai akhirnya salah satu dari mereka kalah, kesakitan dan menjauh untuk menghindari serangan yang lebih mematikan.

Ayam jago yang telah memenangkan pertarungan terbang ke atas kandang dan dengan bangga mengepakkan sayap, berkokok dengan sekuat tenaga untuk memberitahu dunia tentang kemenangannya.

Di saat itu seekor rajawali sedang melayang di atas, tertarik akan keangkuhan sang jagoan dan menukik ke bawah mengangkat ayam jago itu, dibawa pergi ke sarang rajawali untuk menjadi santapan bagi anak-anak rajawali.

Sang lawan melihat kejadian itu dan bangkit keluar dari pojok, akhirnya keluar sebagai penguasa peternakan tersebut.

Hikmat moral dari kisah ini adalah bahwa kesombongan membawa petaka dan kejatuhan.

Kisah ini adalah bagian dari Seri Dongeng Aesop
. Aesop adalah seorang pendongeng yang konon hidup 600 tahun Sebelum Masehi. Dongeng-dongengnya selalu mengajarkan kebaikan dan kebijakan untuk manusia.

Tiga jenis pedang yang digunakan raja Tiongkok

Tiga Jenis Pedang yang Digunakan oleh Raja


Ilustrasi

Oleh: Qin Ruchu

Zhuang Zi berkata, “Tapi hamba memiliki 3 jenis pedang, yang hanya bisa digunakan oleh seorang raja, yakni Pedang Putra Langit (kaisar), Pedang Bangsawan dan Pedang Jelata.” (fotolia)

Zhuang Zi Nasihati Raja Hui Wen

Di masa Negara Berperang (Abad ke 5 SM – 221 SM), Raja Hui Wen dari Negeri Zhao sangat menyukai  pertunjukan tanding pedang. Ia memelihara lebih dari 3000 orang pesilat yang mahir ilmu pedang untuk terus saling duel siang dan malam. Setiap tahun lebih dari 100 orang mati atau cedera. Karena tenggelam dalam hobinya terhadap pedang, pemerintahan Negeri Zhao pun tidak digubris lagi dan negara pun menjadi kacau, maka sejumlah bangsawan mulai berkasak-kusuk hendak menyerang Negeri Zhao.

Putra mahkota Li sangat mengkhawatirkan kondisi ini, maka ia pun memutuskan untuk menasihati sang ayah. Pangeran Li berkata pada bawahannya, “Siapa yang mampu menghimbau Sri Baginda Raja agar berhenti mempertandingkan para ahli pedang, membubarkan mereka, maka aku akan menghadiahkan seribu tail emas padanya.”

Salah seorang bawahan berkata, “Zhuang Zi mampu menasihati Sri Baginda Raja.”

Akhirnya, pangeran pun memerintahkan seorang kurir agar mengundang Zhuang Zi (dibaca: Cuang Ce, ahli falsafat terpopuler pada pertengahan Zaman Negara Berperang serta tokoh yang amat penting dalam Taoisme selepas Laozi) datang ke istana dan memberinya 1000 tail emas. Zhuang Zi berkata dirinya tidak mau menerima apa pun, ia beserta kurir itu datang ke istana untuk menemui pangeran, dan berkata pada pangeran, “Paduka memberi hamba 1000 tail emas, apakah Paduka ingin hamba melakukan sesuatu?”

Pangeran berkata dengan sopan /rendah hati, “Aku mendengar kau sangat mumpuni, maka menghadiahkan sedikit emas sebagai biaya sehari-hari bagi para pengikutmu, tapi kau tidak mau menerimanya, mana berani aku berkata-kata lagi?”

Zhuang Zi berkata, “Hamba mendengar paduka berniat meminta hamba agar menasihati Sri Baginda Raja Zhao menghentikan kesukaannya, ini masalah sangat sulit! Salah sedikit nyawa taruhannya, tapi hamba tetap ingin mencobanya.”

Mendengar penuturannya pangeran sangat senang, dan berkata, “Kau berniat membantu, aku sangat berterima kasih, akan tetapi, ayahku hanya bersedia menemui ahli pedang, dan enggan bertemu dengan orang awam.”

Zhuang Zi berkata, “Tidak apa-apa, hamba juga sangat mahir bermain pedang.”

Pangeran berkata, “Para ahli pedang yang ditemui ayahku semuanya berambut gondrong awut-awutan, berjenggot dan ber-godek, mengenakan topi berwibawa, kedua mata melotot, berekspresi marah sampai tidak bisa berbicara dengan jelas. Semakin bengis, ayahku semakin suka. Sedangkan engkau mengenakan pakaian cendekiawan untuk menemuinya, pasti akan menabrak tembok.”

Zhuang Zi berkata, “Kalau begitu, mohon Paduka buatkan hamba satu stel busana pesilat pedang!”

Tiga hari kemudian, busana pesilat pedang selesai dibuat. Zhuang Zi mengenakannya, dan lewat perkenalan oleh pangeran, Zhuang Zi menemui Raja Hui Wen. Dengan tangan membawa pedang tajam Raja Hui Wen berkata pada Zhuang Zi, “Apa yang hendak kau katakan padaku?”

Zhuang Zi menjawab, “Hamba dengar Sri Baginda sangat suka mengadu pedang, jadi hamba menemui Sri Baginda untuk urusan adu pedang.”

Raja Zhao bertanya, “Keahlian istimewa apa yang engkau miliki?”

“Jurus pedang hamba dalam sepuluh langkah bisa membunuh satu orang, kemana pun hamba pergi, tiada menemui lawan”, kata Zhuang Zi,

“Berarti tak terkalahkan di seluruh kolong jagad! Engkau istirahatlah dulu, tunggu perintahku, akan kusuruh orang untuk melawanmu,” sahut raja Zhao dengan amat senang.

Lalu, Raja Zhaou pun mengumpulkan 3000 orang pesilat pedangnya, dan menyuruh mereka untuk bertanding, tujuh hari kemudian terpilihlah enam orang ahli pedang, mereka pun disuruh untuk bertanding dengan Zhuang Zi.

Hari ke-8, Raja Zhao memanggil Zhuang Zi dan berkata padanya, “Hari ini aku ingin melihat bagaimana kau mainkan jurus pedangmu.”

“Bagus! Hamba sudah menunggu berhari-hari.”

Raja Zhao bertanya, “Pedang jenis apa yang kau gunakan?”

“Pedang apapun hamba bisa menggunakannya. Tapi hamba memiliki tiga jenis pedang, yang hanya bisa digunakan oleh seorang raja, mohon perkenan Sri Baginda agar hamba menyelesaikan penjelasan hamba lalu baru bertanding?” Jawab Zhuang Zi tanpa rasa takut.

“Baiklah! Coba engkau jelaskan ketiga jenis pedang itu,” pinta sang Raja.

Zhuang Zi memandang sekeliling, dan dengan santai ia menjawab, “Ada pedang putra langit, pedang bangsawan, dan pedang jelata.”

“Apa yang dimaksud dengan Pedang Putra Langit…?” tanya Raja Zhao dengan penasaran.

Pedang Putra Langit adalah kota Shicheng di Negeri Yan sebagai ujungnya yang runcing, gunung Taishan di Negeri Qi sebagai mata pisau, dan (negeri-negeri) Han dan Wei sebagai gagang pedang. Ia menggunakan prinsip lima elemen untuk membentuk langit dan bumi; mengikuti perubahan Yin dan Yang (unsur negatif dan positif), kemana pun diarahkan tiada yang mamu menghadang, sangat berkuasa, mampu menggerakkan langit menggeser bumi. Hanya dengan pedang ini, sudah cukup untuk meredam para bangsawan, dan menyatukan seluruh negeri, itulah Pedang Putra Langit.

Pedang Bangsawan adalah pedang dengan para ksatria sebagai ujung pedang, para pejabat bersih sebagai mata pisaunya, para orang bijak sebagai punggung pedangnya, kaum cendikia setia sebagai lingkar gagangnya, dan para pendekar sebagai gagang pedang. Pedang ini juga tak terkalahkan, fleksible terhadap berbagai situasi dan perubahan, seusai dengan kehendak rakyat, hanya dengan pedang ini, para bangsawan akan tunduk, seluruh negeri pun damai. Inilah pedang bangsawan.” Demikian penjelasan Zhuang Zi dengan panjang lebar.

“Lalu, apa yang dimaksud pedang (rakyat) jelata?” tanya Raja Zhao.

Zhuang Zi berkata, “Pedang jelata adalah berambut acak-acakan, berkumis dan berjenggot lebat, mata melotot, dan saling membabat, ini tidak ada bedanya dengan adu ayam, sama sekali tidak berguna bagi negara.”

Sampai disini, Zhuang Zi berhenti sejenak sambil memandang Raja Zhao, lalu melanjutkan, “Sri Baginda sekarang memegang kekuasaan sebagai Putra Langit (kaisar/raja), tapi masih menyukai pedang rakyat jelata, menurut hamba Sri Baginda terlalu dangkal.”

Mendengar kata-kata Zhuang Zi, Raja Zhao sangat malu, tangan Zhuang Zi ditariknya dan diajak masuk ke aula istana, para pelayan pun diperintahkan untuk menggelar pesta, Raja Zhao berkali-kali mengitari aula tempat pesta itu sambil berkata pada Zhuang Zi, “Untung engkau telah menyadarkan diriku!”

“Silahkan Sri Baginda Raja duduk dengan tenang, ketiga jenis pedang sudah hamba jelaskan semuanya,” kata Zhuang Zi.

Akhirnya, Raja Zhao bertekad untuk berubah, selama tiga bulan berturut-turut sang Raja tidak keluar istana, dan ternyata mulai berkonsentrasi penuh menata pemerintahan negerinya. (sud/whs/rmat)

Perdebatan Einstein melawan teori Darwin

dari: erabaru.net 11 Agustus 2010

Perdebatan Teori Darwin Dan Einstein (1)
Ditulis oleh Epochtimes Rabu, 11 Agustus 2010

Albert Einstein pernah dengan jujur mengeluhkan keterbatasan ilmu pengetahuan modern: “Hari ini keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah adalah karena ilmu pengetahuan belum berkembang ke tingkat itu, tetapi bukan berarti Tuhan tidak ada.” (AFP)
Awal abad ke-21 ini, terdapat dua tahun peringatan yang penting, yaitu 2005 dan 2009. 2005 merupakan peringatan 100 tahun Einstein menemukan teori Relativitas, dan untuk memperingati fisikawan besar ini, tahun tersebut ditetapkan sebagai “Tahun Fisika Internasional”. Sedang 2009 merupakan 150 tahun Darwin mengumumkan teori Evolusi, terdapat juga sejumlah kegiatan peringatan di berbagai wilayah dunia.

Meskipun keduanya sama-sama sebagai periset alam semesta dan kehidupan, namun pandangan Darwin dan Einstein sangatlah berbeda. Darwin mengemukakan hipotesis bahwa manusia adalah hasil evolusi dari hewan. Sedangkan Einstein berpandangan bahwa hukum alam semesta adalah maha karya Tuhan.

Pengaruh dari dua ilmuwan besar ini telah melampaui abad, dua kubu ideologi “atheisme” dan “theisme” telah melakukan perdebatan akbar zaman ini atas nilai-nilai fundamental umat manusia masih merupakan fokus perhatian dunia.
Teori Evolusi Darwin: Manusia berasal dari hewan yang berevolusi

Menurut catatan kitab Kejadian dalam Alkitab, Tuhan menciptakan alam semesta, manusia, dan segala isinya. Pada hari pertama Tuhan menciptakan terang, pada hari kedua menciptakan cakrawala, hari ketiga memisahkan daratan dan lautan, dan memungkinkan tanah menumbuhkan tumbuhan, menumbuhkan sayuran yang berbenih, pohon yang berbuah, pada hari keempat menciptakan dua buah benda penerang besar, yang besar mengatur siang, dan yang kecil mengatur malam, juga membuat banyak bintang, pada hari kelima menciptakan ikan dan burung, pada hari keenam menciptakan hewan, ternak, serangga, serta menciptakan manusia menurut citra-Nya sendiri, diciptakan pria dan perempuan maka terjadilah demikian. Tuhan melihat semua yang diciptakan-Nya sangatlah baik, maka pada hari ketujuh lalu beristirahat.

Darwin pernah menuntut ilmu di fakultas kedokteran Universitas Edinburgh, kemudian melanjutkan kuliah di fakultas teologi di Universitas Cambridge. Perjalanannya menjelajahi berbagai benua. Teori evolusi memiliki banyak cacat bawaan, di samping topik asal-usul biologi memang terlalu besar sehingga sulit untuk dijelaskan, nilai pembuktian memang jelas kurang memadai, dan bahkan terdapat banyak bukti sangkalan yang sangat kuat untuk menggulingkan teori evolusi. Sejarah makhluk hidup sangat panjang, waktu tidak dapat diputar kembali sehingga tidak mungkin hanya dengan sedikit jumlah bukti dapat disimpulkan sejarah panjang perkembangannya.

Pada intinya, teori evolusi sangat mirip dengan keadaan di mana pengadilan telah “menjatuhkan hukuman dahulu sebelum menyidik” dengan bukti-bukti yang kurang memadai, dan dengan perlahan-lahan baru dicarikan bukti-bukti lebih lanjut.

Bukti-bukti yang mampu menggulingkan teori evolusi sangat berlimpah, ada dua bukti kuat yang bahkan Darwin sendiri tidak dapat menjelaskannya:
1. Ledakan jumlah makhluk hidup pada zaman Kambrium

Kira-kira lima ratus tiga puluh juta tahun yang lalu, hanya dalam waktu singkat selama puluhan ribu tahun, hampir semua filum (rumpun terbesar dalam klasifikasi makhluk hidup) makhluk hidup telah muncul dalam waktu bersamaan di atas bumi. Ini disebut ledakan besar zaman Kambrium (Cambrain Explosion), dalam hal ini ledakan besar dimaksudkan sebagai munculnya makhluk hidup secara besar-besaran pada saat tersebut.

Darwin juga mengakui, “Fenomena ledakan besar Kambrium masih belum bisa dijelaskan, hal ini memang dapat digunakan sebagai bukti untuk menyerang pandangan saya.”

Jika teori evolusi benar-benar seperti yang dikatakan Darwin, adalah berlangsung secara sedikit demi sedikit, maka kurun waktu selama jutaan tahun bagaimanapun juga tetap tidak cukup untuk menyelesaikan proses tersebut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa hampir semua jenis nenek moyang hewan yang ada memulai perjalanannya pada garis awal yang sama. Sesungguhnya, ledakan besar zaman Kambrium merupakan rintangan yang tidak dapat dilewati oleh teori evolusi.
2. Asal-usul manusia

Darwin pernah berkata, “Hanya evolusi manusia saja, yang bagaimanapun juga tidak dapat dijelaskan dengan teori evolusi saya.”

Memang, dari sudut pandang teori evolusi, kecepatan evolusi manusia memang terlalu pesat. Dilihat dari jumlah sel otak, kera besar (sejenis orang utan) zaman ini memiliki sel otak 1 miliar, sedangkan manusia zaman ini memiliki 14 miliar; jumlahnya meningkat 14 kali, namun perubahan intelektualnya telah terjadi lompatan besar. Dari bukti ini sangat kuat mengindikasikan bahwa cladogram dari teori evolusi ini tidak benar.

Pada 1972, ditemukan sebuah fosil tengkorak humanoid yang diberi nomor KNM-ER-1470, disingkat sebagai manusia no. 1470. Menurut karakteristiknya terdapat kemiripan dengan manusia modern (5.000 tahun yang lalu), termasuk klasifikasi Homo Genus. Dibandingkan dengan yang dikatakan oleh evolusionis sebagai nenek moyang manusia yaitu: Australopithecus (2 juta tahun yang lalu) dan Homo erectus (0,5 juta tahun yang lalu ) masih jauh lebih maju, tetapi dia justru telah ada sejak 2,9 juta tahun yang lalu. Sejauh ini tidak ada seorang evolusionis yang dapat memasukkan manusia no. 1470 ke dalam posisi pohon evolusi (cladogram).

Mengapa terjadi pengultusan Darwinisme

Mengapa hipotesa teori evolusi dapat berkembang menjadi pengultusan terhadap Darwinisme? Pada hakekatnya, teori evolusi kekurangan bukti-bukti ilmiah yang seksama, hanya karena sesuai dengan lingkungan dan pemikiran antitheis pada waktu itu (ilmu pengetahuan, demokrasi dan industrialisasi), sebab itu telah mendapatkan pengakuan dan kehormatan, dan secara bertahap berkembang menjadi pengultusan membuta terhadap suatu doktrin.

Meskipun kekurangan bukti yang memadai, namun para atheis masih sangat mencintai teori evolusi; akhirnya terpaksa mengikat jadi satu hukum genetika dari Mendel dan teori evolusi dari Darwin. Pada 1937, Genetika dan The Origin of Species dari Dobzhansky merupakan teori terpadu modern dari kombinasi teori evolusi dan genetika, bukti-bukti ilmu genetika diubah menjadi bukti-bukti teori evolusi, sehingga teori evolusi yang telah kalah dihidupkan kembali.

Mendel adalah cikal bakal ilmu genetika, sejak awal sampai akhir hayatnya, ia merupakan seorang pastur yang beriman kepada Tuhan. Penggabungan hukum genetik dari Mendel dengan hipotesa teori evolusi dari Darwin sangatlah konyol; sama halnya dengan menyamakan Mendel yang beribadah kepada Tuhan dan Darwin yang berkhianat kepada Tuhan. Ini benar-benar merupakan pencemaran nama baik Mendel!
Peristiwa petualangan yang dilakukan Darwin dalam “Little Beagle” diukir diatas gigi ikan paus. Namun catatan sejarah ini tidak dapat menyelesaikan berbagai kelalaian dalam teori Darwin. (AFP)
Kerugian akibat teori evolusi Darwin

 

Meskipun teori evolusi tidak menemukan bukti-bukti kuat dalam ilmu alam, tetapi dalam ilmu sosial telah menemukan jalannya, bahkan telah menjadi faktor-faktor yang kuat bagi para atheis dan orang-orang berambisi tinggi.

Pada 1851, Hobbs Spencer menerbitkan Statika Sosial, menerapkan teori evolusi pada ilmu sosial dan beranggapan bahwa kelangsungan hidup masyarakat dalam persaingan adalah sama dengan seleksi alam dalam biologi, berpendirian bahwa setiap orang tidak selayaknya tunduk pada pembatasan pemerintah atau organisasi sosial, secara alami mengembangkan kemampuannya, untuk mendapatkan kepentingan pribadi. Ideologi seleksi alam dalam persaingan, kelangsungan hidup bagi yang dapat menyesuaikan diri telah digunakan para ambisionis, dan telah mengakibatkan bencana besar Nazisme dan komunisme pada abad ke-20.
1. Teori evolusi telah dimanfaatkan Nazisme

Adolf Hitler di Kota Nürnberg menyatakan, “Ras kelas atas memperbudak ras kelas bawah… Merupakan kebenaran umum yang kita lihat dalam alam, bahkan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran umum yang dapat diperoleh.” Selama Perang Dunia II, Hitler telah membantai sebanyak enam juta orang Yahudi, Nazi Jerman telah memanfaatkan Darwinisme sosial sebagai dalih untuk membela rasisme.
2. Teori evolusi telah dimanfaatkan komunisme

Dalam Das Kapital Karl Heinrich Marx merujuk langsung ke teori evolusi Darwin sebagai dasar teoritis masyarakat komunisme. Dia sangat memuji teori evolusi katanya, “Karya tulis Darwin sangat berarti, buku ini dapat berfungsi sebagai dasar ilmiah bagi saya untuk mempelajari fase-fase sejarah perjuangan.”

Mao Zedong yang membangun komunisme di China secara terbuka menyatakan, “Sosialisme China didirikan atas Darwinisme dan teori evolusi.” Sangat disayangkan, sejak 1949 Partai Komunis China melalui berbagai gerakan politik (anti tiga anti lima, Lompatan Besar ke Depan, Revolusi Kebudayaan, dan lain-lain), mengakibatkan setidaknya 80 juta orang terbunuh.
Einstein: Tuhan mengatur kekuatan mengorbitkan planet

Einstein diakui sebagai ilmuwan terbesar dalam sejarah. 1905 merupakan tahun yang sangat penting bagi Einstein dalam menunjukkan kejeniusannya. Saat itu ia berusia 26 tahun baru saja lulus dari perguruan tinggi, dan menjabat sebagai teknisi kelas tiga di Kantor Paten Swiss.

Dengan memanfaatkan waktu luangnya dalam satu tahun ia telah menyelesaikan enam buah tesis yang bermakna dalam membuka lembaran zaman baru. Di antaranya termasuk teori relativitas dalam arti sempit, rumus persamaan hubungan antara massa dan energi (E = mc2). Ia dianugerahi Penghargaan Nobel Fisika pada 1921.

Suatu hari, seorang reporter mengunjungi Einstein, untuk memberikan pandangannya tentang masalah agama dan keberadaan Tuhan. Kebetulan Einstein baru saja mengantar seorang tamu untuk pulang. Einstein bertanya, “Apakah Anda tahu siapa yang meletakkan cangkir kopi dan yang lainnya di sini?” Reporter menjawab: “Tentu saja Anda.”

Einstein selanjutnya berkata, “Benda-benda seperti cangkir kopi kecil dan lain-lain masih membutuhkan suatu kekuatan untuk mengaturnya. Coba Anda pikir, seberapa banyak planet dalam alam semesta dan setiap planet selalu melintasi orbitnya dengan konsisten, kekuatan pengatur orbit ini adalah Tuhan.”

Newton: Pada ujung teleskop terlihat jejak-jejak Tuhan

Isaac Newton merupakan ilmuwan yang paling dikagumi Einstein. Ia pernah berkata dengan rendah hati, “Ilmuwan yang benar-benar besar adalah Sir Isaac Newton, saya hanyalah mengadakan koreksi terhadap kekeliruan-kekeliruan dalam perhitungan Newton.”

Bakat jenius Newton beraneka ragam, ia mencapai prestasi yang cemerlang dalam astronomi, geografi, matematika, teologi dan aspek-aspek lain. Maha karyanya yang paling terkenal The Mathematical Principles of Natural Science (Prinsip Matematis Ilmu Pengetahuan Alam) merupakan landasan ilmu pengetahuan modern.

Halley seorang astronom terkenal Inggris, teman baik Newton, dialah yang menghitung orbit Komet Halley. Halley tidak percaya bahwa semua benda dalam alam semesta diciptakan Tuhan. Pada suatu ketika, Newton membangun sebuah model tata surya, pada pusatnya ada matahari berlapis emas, dikelilingi oleh semua planet utama sesuai dengan lokasinya semua diatur dalam barisan yang rapi, dengan menggerakkan sebuah engkol masing-masing planet berotasi sesuai dengan orbit mereka sendiri secara harmonis, tampilannya sangat indah.

Pada suatu hari Halley berkunjung dan melihat model tersebut, bermain untuk waktu yang lama, tiada habisnya mengagumi, lalu bertanya siapa yang membuatnya. Newton menjawab bahwa model ini tidak ada yang merancang ataupun membuatnya, terbentuk hanya secara kebetulan dari berbagai bahan yang bertemu menjadi satu. Halley mengatakan bahwa, bagaimanapun juga pasti ada orang yang membuatnya dan orang tersebut merupakan seorang jenius.

Newton kemudian menepuk bahu Halley dan berkata, “Meskipun model ini sangat bagus, namun dibandingkan dengan tata surya yang sebenarnya, benar-benar tidak berarti. Anda bahkan yakin pasti ada orang yang menciptakannya, apa lagi tata surya yang triliunan kali lebih canggih daripada model ini, bukankah itu berarti seharusnya ada Tuhan yang serba bisa, dengan kecerdasan tingkat tinggi telah menciptakannya?” Halley tiba-tiba tersadarkan dan akhirnya mempercayai keberadaan Tuhan.

Newton juga merupakan seorang teolog, mengabdikan hidupnya untuk studi teologi, menggali ilmu pengetahuan sebagai sampingan. Dia berbicara tentang prestasi ilmiah yang telah dicapai, mengatakan bahwa dia hanya “mengikuti ide-ide dari Tuhan, berpikir mengikuti pemikiran Tuhan”. Ia lalu meringkas pandangannya tentang alam semesta, berkata, “Alam semesta dan segala isinya, pastilah diatur dan dikendalikan Tuhan yang Maha Kuasa. Pada ujung teleskop sebelah sana, aku melihat jejak-jejak Tuhan.”
Pandangan Einstein mengenai Tuhan patut direnungkan

Pada suatu wawancara, Einstein mengatakan, “Beberapa orang berpandangan bahwa agama tidak sejalan dengan kebenaran ilmiah. Saya adalah seorang periset sains, saya sangat mengetahui bahwa saat ini ilmu pengetahuan hanya dapat membuktikan keberadaan sebuah benda, tetapi tidak dapat membuktikan ketiadaan suatu benda. Oleh karena itu, jika kita masih belum dapat membuktikan keberadaan benda-benda tertentu, tidaklah dapat disimpulkan bahwa benda itu tidak ada.”

Einstein lebih lanjut memberikan contoh tentang penemuan inti atom. Dia berkata, “Sebagai contoh, bila beberapa tahun lalu, ketika kami belum dapat membuktikan keberadaan inti sebuah atom, seandainya kami dengan ceroboh menyimpulkan bahwa inti atom tidak ada, maka dalam perspektif hari ini, bukankah kami telah melakukan kesalahan yang sangat besar?”

Pada akhir wawancara, Einstein dengan jujur mengatakan ia percaya akan keberadaan Tuhan, “Dengan demikian, jika sekarang tidak ada bukti ilmiah keberadaan Tuhan adalah karena ilmu pengetahuan belum berkembang sampai ke taraf itu, jadi bukan berarti Tuhan tidak ada. Secara singkat, perasaan panca indera manusia ada batasnya dan tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan. Ilmu pengetahuan juga tidak dapat menyangkal keberadaan Tuhan. Oleh karena itu, kita hendaknya yakin akan keberadaan Tuhan.”

Di antara semua makhluk di bumi, hanya manusia yang telah mengembangkan kebudayaan yang cemerlang, memiliki organisasi sosial yang sempurna, ritual-ritual keagamaan, pendidikan di sekolah, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menunjukkan kemampuan kinerja mental yang tinggi, seperti sastra, seni lukis, sendratari dan lain-lain. Hal ini didapatkan tidak berkembang pada makhluk hidup yang lain. Teori evolusi Darwin tidak dapat menjelaskan asal usul kemampuan mental dan moral manusia.

Terlebih penting lagi, manusia memiliki hati yang baik, memiliki moralitas, yang tidak dimiliki hewan apapun, hal ini tidak pula dapat dijelaskan teori evolusi Darwin. Einstein mengakui pandangan filsuf Baruch de Spinoza, “jiwa” yang tak berwujud dan tubuh yang berwujud adalah satu. Orang Kristen percaya bahwa manusia selain memiliki tubuh, juga memiliki roh, roh mirip dengan yang dikatakan Taoisme dunia Timur primordial spirit (jiwa utama). Moralitas manusia berasal dari roh dan jiwa.
Temukan kebaikan diri sendiri, tinggalkan teori evolusi

Einstein beranggapan bahwa dasar moralitas adalah melampaui kepentingan individu. Untuk diri sendiri hendaknya yang sepele, sedangkan bagi orang lain lebih banyak lebih baik. Maksudnya, demi “kepentingan umum”, bukan “kepentingan pribadi”, inilah hati yang baik (jiwa, roh). Bila hanya untuk kepentingan individu adalah egois, tidak baik, mirip yang dikatakan Darwin tentang perjuangan hidup, yang cocok bertahan hidup, yang tidak cocok tersingkirkan. Ini merupakan naluri hewan.

Setiap orang memiliki hati yang baik, akhirnya akan menemukan watak hakiki yang baik. Umat manusia juga akan sadar dan menyingkirkan teori evolusi yang tidak sesuai watak manusia. Einstein berpendapat, “Hendaknya memanfaatkan kekuatan dari kebaikan, ketulusan dan keindahan yang dapat dipupuk pada diri manusia.” Inilah moralitas manusia.

Tidak diragukan lagi, Einstein dan Newton adalah dua bintang yang paling menyilaukan dalam sejarah ilmu pengetahuan. Melalui interpretasi mereka, kita mengerti akan alam semesta. Namun alam semesta luasnya tak terbatas, umat manusia sangat kecil tak berarti. Seperti yang dikatakan Newton, “Jika dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang maha besar, karya saya hanya seperti anak kecil yang mengambil sebuah batu dan kerang kecil di pantai. Kebenaran luas bagaikan lautan dan jauh melebihi apa yang dapat kita intai.”

Sejarah Bumi sudah beberapa miliaran tahun, spesies makhluk hidup di Bumi ada 5-30 juta jenis, jawabannya tentu saja tidak bisa didapatkan Darwin hanya melalui perjalanan selama 5 tahun dalam Little Beagle-nya (Anjing Pemburu Kecil).

Benar seperti yang dikatakan Einstein, kehidupan di Bumi juga seperti planet dalam alam semesta, merupakan sebuah pengaturan yang cerdik dari Tuhan. Yang paling menyedihkan, teori evolusi telah dimanfaatkan para atheis sebagai alat untuk menghancurkan moralitas manusia, agar orang-orang menjauhi agama, menjauhi Tuhan, tanpa rasa malu, tanpa hati yang baik, melakukan praktek sewenang-wenang. Hal ini juga tidak diduga Darwin pada waktu itu. Semua manusia memiliki hati nurani yang baik, mereka pastilah akan sadar, menemukan jati diri sendiri yang baik, dan meninggalkan teori evolusi. (New Epoch Weekly/prm)

Einstein percaya adanya Tuhan

 

EINSTEIN PERCAYA ADANYA TUHAN

dari: mingxin.net/erabaru.net April 2010

Fisikawan terkenal yang diakui oleh seluruh dunia Albert Einstein pada suatu ketika diwawancarai oleh seorang reporter, meminta Eisntein untuk mengekspresikan pandangannya mengenai pemahaman agama serta keberadaan Tuhan.

Kebetulan pada saat itu Einstein sedang mengantar kepergian salah seorang tamunya, reporter melihat diatas meja tamu terletak cangkir kopi, permen dan biskuit.

Einstein bertanya kepada reporter: “Tuan reporter, apakah engkau tahu siapakah yang meletakkan cangkir kopi, permen dan biskuit serta barang-barang lainnya diatas meja ini?.”

Reporter menjawab, “Tentu saja tuan sendiri.” Einstein melanjutkan berkata, “Benda-benda kecil seperti cangkir kopi,permen dan biskuit ini, memerlukan sebuah kekuatan untuk berada disini, maka coba dipikirkan dialam semesta ini yang memiliki demikian banyak rasi bintang, masing-masing rasi bintang tersebut memerlukan pengaturan kekuatan yang erat untuk mengorbitnya, kekuatan dan pengaturan ini adalah Tuhan yang melakukannya.”

Lalu Einstein melanjutkan lagi dengan berkata, “Mungkin tuan akan bertanya, Saya tidak pernah melihat dan juga tidak pernah mendengar Tuhan berbicara, lalu bagaimana saya bisa percaya adanya Tuhan?”.

“Benar kita memiliki 5 indra yaitu, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan, tetapi kelima indra ini mempunyai kemampuan yang terbatas, seperti suara, mempunyai kisaran panjang gelombang sebesar antara 20 Hz sampai 20.000 Hz supaya orang dapat mendengarnya. Hari ini banyak orang didunia ini mengganggap saya adalah ilmuwan besar, sebenarnya saya tidak pantas disebut sebagai ilmuwan besar,” kata Enstein.

“Yang benar-benar Ilmuwan sejati adalah Newton. Saya hanya membenarkan kesalahan perhitungan yang dilakukan Newton. Walau demikian, Newton sendiri pernah berkata, Saya seperti sebuah kerang didasar laut yang kebetulan memancarkan cahaya, masih sangat jauh dari hukum keberadaan laut…, Orang yang secerdas Newton masih mengatakan masih belum menemukan kebenaran hukum laut, maka orang biasa seperti kita ini, untuk menemukan kebenaran hukum alam semesta, adalah sebuah hal yang sangat sulit.”

“Oleh sebab itu jika kita sekarang tidak dapat membuktikan keberadaan benda-benda tersebut, tetapi tidak dapat menyimpulkan benda tersebut tidak ada. Sebagai contoh, dahulu ketika kita gagal membuktikan keberadaan nuklir, jika pada saat itu kita mempunyai keberanian menyimpulkan nuklir tersebut tidak ada, maka hari ini kita akan membuat kesalahan yang paling besar, benarkah?.”

“Oleh karena itu, hari ini ilmiah belum bisa membuktikan keberadaan Tuhan, karena ilmu pengetahuan belum berkembang sampai pada tahap tersebut, bukan berarti Tuhan tidak ada. Sebenarnya kelima panca indra manusia ini sangat terbatas, tidak dapat merasakan keberadaan Tuhan, ilmu pengetahuan juga tidak dapat menyangkal keberadaan Tuhan, oleh sebab itu, kita harus yakin akan keberadaan Tuhan,” ujar Einstein. (Mingxin.net/chr/asr)

Kisah terciptanya sajak “Jejak kaki” – ketika Tuhan menggendong kita

Sajak ‘FOOTPRINTS’ sangat terkenal dan  telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan judul : Jejak – Jejak kaki.

Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul ‘Jejak’ (aslinya: ‘Footprints’ ) sebenarnya diilhami suatu peristiwa ketika berpacaran di suatu senja di tepi danau.

Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis.

Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya.. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya.

Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan. ‘Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak … !’

Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. ‘Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,’ ucap Margaret mengenang masa kecilnya.

Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. ‘Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku terbaring sakit.

Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,’ kenang Margaret.

Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak ‘Jejak’ ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul.

Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah. ‘Mari kita berjalan di pantai,’ usul Margaret. Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.

Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. ‘Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,’ seru Margaret. ‘Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,’ lirih Margaret.

‘Jangan berpikir begitu,’ protes Paul. ‘Aku malah melihat lambang yang indah.
Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.’ Mereka berjalan terus. ‘Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.’

Paul menatap Margaret dengan tajam, ‘Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.

Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini…’ Lalu Paul mengangkat tubuh Margaret yang kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi…….Seolah- olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi… dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi ! Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul ‘Aku Bermimpi’. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul ‘Jejak’.

Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, ‘… ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.’ Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :

One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand,
One belong to me and o­ne to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was o­nly o­ne set of footprints.
I realized that this was the lowest and the saddest times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
‘Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I’m aware that during the most troublesome times of my life,
There is o­nly o­ne set of footprints.
I just don’t understand why, when I need You most, You leave me.’
He whispered, ‘My precious child, I love you and will never leave you
never, ever, during your trials and testings.
When you saw o­nly o­ne set of footprints,
It was then that I carried you.’

 

JEJAK-JEJAK KAKI

Suatu malam aku bermimpi
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan
Di bentangan langit gelap tampak kilasan-kilasan adegan hidupku
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir
Satu pasang jejak kakiku, yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku
Aku menengok kembali pada jejak kaki di pasir.
Di situ hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu adalah bagian yang tersulit Dan paling
menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini menganggu perasaanku maka aku bertanya Kepada Tuhan tentang
keherananku itu.
“Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikut Engkau, Engkau
akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan,
Namun ternyata pada masa yang paling sulit
Dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan
Engkau,
Engkau meninggalkan aku?”
Tuhan berbisik, “Anakku yang Kukasihi
Aku mencintai kamu dan tidak akan meninggalkan kamu
Pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.
Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak ,
ltu adalah ketika Aku menggendong kamu.”

Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kaki kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas.

Di mana sepasang telapak kaki yang lain ? yang hilang bukan sepasang telapak kaki Tuhan, tetapi yang hilang adalah jejak kaki kita, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.

Diadaptasi dari : Pondok Renungan

Sugesti Pygmalion

Pygmalion
Alkisah, Pygmalion seorang pemuda dengan keahlian memahat dari Yunani. Karyanya sangatlah menakjubkan,sedemikian rupa hingga patung pahatannya seolah – olah benar – benar hidup. Tetapi keistimewaannya bukan hanya ketrampilan seninya itu, ia juga terkenal sebagai pemuda berpikiran positif yang memandang segala yang dihadapinya dengan pola pikir yang baik.
Ketika ia berada di tengah plaza di pusat kota dan tanah di situ becek, sementara orang lain mengeluhkan keadaan lapangan itu, ia malah berkomentar ” Untung tempat lain tidak sebecek bagian ini.”

Suatu hari, ia memahat patung sesosok wanita dari kayu yang sangat halus.
Begitu sempurna dan cantiknya ujud wanita pahatan itu, hingga Pygmalion pun akhirnya jatuh hati pada hasil karyanya sendiri. Diperlakukannya wanita pahatan itu dengan penuh kasih, seolah – olah ia benar – benar wanita hidup. Diberikannya perhiasan terbaik, pakaian terindah, dan diperlakukannya pahatan itu dengan penuh perhatian. Sahabatnya mengomentari patung itu :”Bagaimanapun indahnya patung itu, itu hanyalah patung.Itu bukanlah istrimu.” Namun, disebutnya pahatan itu sebagai istrinya di hadapan orang – orang. Hanya sayang, andai saja wanita pahatan ini benar – benar hidup!

Maka berdoalah sang pematung kepada para dewa. Pygmalion berdoa pada para dewa, “Wahai dewa, berikanlah aku seorang wanita cantik sebagai istriku, wanita sempurna seperti pahatanku itu!” Tapi dalam hatinya, Pygmalion berharap agar wanita pahatan itulah yang menjadi istrinya. Para dewa yang bersemayam di gunung Olympus mengerti isi hati Pygmalion ini, dan karena kuatnya kepercayaan sang pemahat, para dewa pun mengabulkan doanya.
Ketika sampai di rumah, Pygmalion pergi menengok ‘istri’nya yang sempurna itu. Ketika ia mengecup ‘wanita pujaan’, ia merasakan kelembutan kulitnya, getaran nadi dan bahkan desah nafasnya. Wanita itu telah hidup, dewa telah mengabulkan permintaannya. Sepintas, kisah ini mirip Popeto, pemahat Pinokio. Keduanya memahat sesuatu dari kayu dan pahatannya menjadi manusia.

Dalam kisah Pygmalion, ia telah menghidupi harapannya sendiri,jauh sebelum dia memohon pada dewa, bahkan jauh sebelum dia memahat patung wanita cantik itu.