Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Kisah klasik Gerika

Dongeng dari Aesop

Dikisahkan, ada dua ekor ayam jago tinggal di peternakan yang sama, mereka saling melihat satu sama lain. Akhirnya suatu hari mereka bertarung habis-habisan menggunakan paruh dan cakar. Mereka bertarung sampai akhirnya salah satu dari mereka kalah, kesakitan dan menjauh untuk menghindari serangan yang lebih mematikan.

Ayam jago yang telah memenangkan pertarungan terbang ke atas kandang dan dengan bangga mengepakkan sayap, berkokok dengan sekuat tenaga untuk memberitahu dunia tentang kemenangannya.

Di saat itu seekor rajawali sedang melayang di atas, tertarik akan keangkuhan sang jagoan dan menukik ke bawah mengangkat ayam jago itu, dibawa pergi ke sarang rajawali untuk menjadi santapan bagi anak-anak rajawali.

Sang lawan melihat kejadian itu dan bangkit keluar dari pojok, akhirnya keluar sebagai penguasa peternakan tersebut.

Hikmat moral dari kisah ini adalah bahwa kesombongan membawa petaka dan kejatuhan.

Kisah ini adalah bagian dari Seri Dongeng Aesop
. Aesop adalah seorang pendongeng yang konon hidup 600 tahun Sebelum Masehi. Dongeng-dongengnya selalu mengajarkan kebaikan dan kebijakan untuk manusia.

Sugesti Pygmalion

Pygmalion
Alkisah, Pygmalion seorang pemuda dengan keahlian memahat dari Yunani. Karyanya sangatlah menakjubkan,sedemikian rupa hingga patung pahatannya seolah – olah benar – benar hidup. Tetapi keistimewaannya bukan hanya ketrampilan seninya itu, ia juga terkenal sebagai pemuda berpikiran positif yang memandang segala yang dihadapinya dengan pola pikir yang baik.
Ketika ia berada di tengah plaza di pusat kota dan tanah di situ becek, sementara orang lain mengeluhkan keadaan lapangan itu, ia malah berkomentar ” Untung tempat lain tidak sebecek bagian ini.”

Suatu hari, ia memahat patung sesosok wanita dari kayu yang sangat halus.
Begitu sempurna dan cantiknya ujud wanita pahatan itu, hingga Pygmalion pun akhirnya jatuh hati pada hasil karyanya sendiri. Diperlakukannya wanita pahatan itu dengan penuh kasih, seolah – olah ia benar – benar wanita hidup. Diberikannya perhiasan terbaik, pakaian terindah, dan diperlakukannya pahatan itu dengan penuh perhatian. Sahabatnya mengomentari patung itu :”Bagaimanapun indahnya patung itu, itu hanyalah patung.Itu bukanlah istrimu.” Namun, disebutnya pahatan itu sebagai istrinya di hadapan orang – orang. Hanya sayang, andai saja wanita pahatan ini benar – benar hidup!

Maka berdoalah sang pematung kepada para dewa. Pygmalion berdoa pada para dewa, “Wahai dewa, berikanlah aku seorang wanita cantik sebagai istriku, wanita sempurna seperti pahatanku itu!” Tapi dalam hatinya, Pygmalion berharap agar wanita pahatan itulah yang menjadi istrinya. Para dewa yang bersemayam di gunung Olympus mengerti isi hati Pygmalion ini, dan karena kuatnya kepercayaan sang pemahat, para dewa pun mengabulkan doanya.
Ketika sampai di rumah, Pygmalion pergi menengok ‘istri’nya yang sempurna itu. Ketika ia mengecup ‘wanita pujaan’, ia merasakan kelembutan kulitnya, getaran nadi dan bahkan desah nafasnya. Wanita itu telah hidup, dewa telah mengabulkan permintaannya. Sepintas, kisah ini mirip Popeto, pemahat Pinokio. Keduanya memahat sesuatu dari kayu dan pahatannya menjadi manusia.

Dalam kisah Pygmalion, ia telah menghidupi harapannya sendiri,jauh sebelum dia memohon pada dewa, bahkan jauh sebelum dia memahat patung wanita cantik itu.