Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: The survivor

Cobra jinakkan preman

Cobra Jinakkan Preman
Oktober 28, 2009
Di Jakarta dan berbagai daerah kini bermunculan spanduk-spanduk dengan huruf besar, Rakyat Menolak Premanisme. Spanduk-spanduk itu menunjukkan kebencian rakyat terhadap preman, bahkan mereka dianjurkan untuk melawan, sekalipun kenyataannya kejahatan para preman makin mengganas.

Meskipun ratusan di antara mereka telah didor, preman terus ada. Kapolri Jenderal Pol Sutanto juga memiliki target untuk memerangi dan memberantas preman, tapi berbagai tindak kejahatan terus terjadi. Akibat keadaan Jakarta yang tidak aman, banyak investor yang menghentikan niatnya untuk menanamkan modal di sini.

Melihat premanisme yang sudah makin menakutkan, saya teringat pada satuan Cobra pada tahun 1950-an dan awal 1960-an. Pimpinan organiasi ini adalah putra kelahiran Bangka, Kemang, Jakarta Selatan. Dia seorang militer. Ketika membentuk Cobra ia berpangkat Kapten dan anggota KMKBDR (Komando Markas Kota Besar Dajakarta Raya). Ia dibesarkan di daerah Senen, Jakarta Pusat. Sampai akhir hayatnya (meninggal 9 September 1982 dalam usia 59 tahun), ia lebih dikenal dengan sebutan Kapten Syafi’ie sekalipun kala itu sudah berpangkat Letkol.

Tapi, sebelum kita menguraikan keberhasilan Cobra dalam memberantas preman, sebaiknya kita mendatangi kawasan Kampung Melayu Kecil dekat majelis taklim dan perguruan At-Thahiriyah. Sampai tahun 1970-an, di sini terdapat Gang Alhadad, namun kini sudah berganti nama. Nama ini mengacu pada nama tokoh masyarakat Sayyid Muhammad Alhadad.

Keturunan Arab dari Hadramaut itu memiliki kemampuan ilmu silat. Lalu kepandaiannya itu diturunkan pada putranya, Sayyid Abdulkadir Alhadad. Orang lebih banyak memanggilnya Mi Kadir. Menurut cucunya, Umar Alhadad (64), diantara para murid kakeknya terdapat Imam Syafi’ie atau Bang Pi’ie.

Beberapa jagoan Betawi seperti H Dahrif dari Klender, Bekasi, KH Mohd Nur dari Pondok Rangon, Bekasi, termasuk murid Sayyid Kadir. Menurut tokoh Betawi, H Irwan Sjafiie (77), yang pernah dekat dengan Imam Syafi’ie, selain ahli main pukulan, Mi Kadir juga memiliki bermacam ilmu, dan tentu saja ilmu agama. Di kediamannya di Jatinegara, kata H Irwan, dia menyediakan kamar khusus bagi muridnya, Imam Syafi’ie.

Begitu berwibawa dan kharismatiknya Sayid Abdulkadir Alhadad ini, hingga bila ada keributan antar-jagoan, dia cukup mengirimkan utusannya dan menyampaikan salamnya. Dan, hanya dengan menyebut namanya, keributan sudah berakhir. Sayyid Abdulkadir lahir di Jatinegara tahun 1896 dan meninggal dalam usia 62 tahun. Ketika almarhum sakit hingga wafatnya, Letkol Syafi’ie, yang kala itu tengah menempuh pendidikan di SESKOAD Bandung, tiap Sabtu dan Minggu mendatanginya. Termasuk membantu ongkos pengobatannya.

Baiklah kita kembali ke organasasi keamanan Cobra. Ada kisah tersendiri dia menamakan demikian. Pada pertengahan 1950-an di bioskop REX Senen (kini pertokoan) tengah diputar film Darna. Film Pilipina yang jadi box office di Jakarta itu banyak menampilkan ular cobra. ”Kebetulan kala itu Bapak juga ikut dalam orkes melayu yang bernama Cobra,” tutur Asmawi Syafi’ie (62), putra Imam Syafi’ie, kepada penulis beberapa waktu lalu.

Anggota Cobra banyak dari kalangan pejuang kemerdekaan yang pada masa revolusi fisik menjadi anak buahnya. Sayangnya, setelah kemerdekaan banyak di antara pejuang itu yang tidak mendapat tempat di militer. Agar jangan sampai mereka ‘salah jalan’ oleh Bang Pi’ie mereka dikumpulkan dalam Cobra.

Cobra melakukan disiplin yang sangat keras terhadap para anggotanya. Menurut Asmawi, anggota yang menyeleweng seperti melakukan kejahatan akan ditindak tegas. Tapi, terlebih dulu ditanyakan kepadanya alasan perbuatannya. Jika alasannya tidak punya pekerjaan dan modal, maka Bang Pi’ie memberinya modal. Tapi, jika setelah mendapatkan bantuan orang bersangkutan kembali melakukan kejahatan, tidak akan diberi ampun.

”Biasanya bapak memukulnya dengan buntut ikan pari yang berduri tajam dan bergerigi. Hukuman itu lebih baik dibandingkan kalau ayah memukul dengan tangan. Apalagi tangan kirinya yang menyimpan pukulan maut. Tidak peduli orang sekuat apapun, dia tidak akan tahan menghadapi pukulan tangan kiri bapak,” ujar putranya.

Menurut Haji Irwan, yang pernah dekat dengan almarhum, sukses Cobra dalam membantu menciptakan keamanan di Jakarta tidak lepas dari pendekatan Bang Pi’ie. Termasuk kedekatannya dengan ulama, yang di Betawi kala itu merupakan tokoh yang dihormati. ”Saat itu banyak toko dan tempat hiburan di Jakarta yang menempatkan foto Imam Syafi’ie. Biasanya diletakkan dekat meja kasir,” ujar Asnawi.

Menurut Irwan, adanya foto jago Betawi itu biasanya merupakan jaminan bahwa tidak ada yang berani mengganggu tempat tersebut. Para preman Jakarta kala itu benar-benar dikendalikan dan hampir-hampir dibuat tidak berkutik oleh Cobra. Sebagai contoh, seorang yang kehilangan atau kecopetan di suatu tempat, ia dapat mengadukan kepada tokoh masyarakat setempat. Biasanya barang yang dicuri atau dicopet itu bisa ditemukan dalam beberapa hari. Dalam mengamankan Jakarta, Imam Syafi’ie berpegang pada prinsip, ”Cari makan di Jakarta silahkan. Tapi kalau ganggu gue jangan macam-macam.”

Imam Syafi’ie, dalam mengamankan Jakarta, mendapatkan bantuan dari dua orang tangan kanannya, Ahmad (Mad) Bendot dan Saumin, Keduanya juga sangat ditakuti. Mengingat jasa-jasanya semasa revolusi dan mengamankan Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) pernah mengusulkan agar nama salah satu jalan di kawasan Senen mengabadikan nama Imam Syafi’ie.

REPUBLIKA – Minggu, 17 September 2006

Tentang iklan-iklan ini

Elmer Mcfuddin; Never Give Up

Ada sebuah pepatah tua yang sebagian isinya menurutku benar “Orang yang menyerah tidak pernah menang, dan seorang pemenang tidak pernah menyerah.” Sebagian besar orang yang menyerah setidaknya pernah memulai, dan itu merupakan langkah pertama menuju kesuksesan i think.
Tidak selalu benar jika mengatakan “Seseorang pemenang tidak pernah menyerah” karena sering kali tujuan pribadi seseorang tidak selalu baik.. Seseorang bisa saja menang untuk tujuan yang tidak baik dan bagi saya pribadi itu bukanlah pemenang sejati. Banyak legenda selalu bercerita mengenai orang-orang yang berhasil melewati rintangan-rintangan besar untuk mencapai sukses yang luar biasa.
Buat kita yang masih berusia muda mungkin tidak mengalami  zaman dulu sewaktu ada pemilihan presiden AS di tahun 1948 , kandidat Harry Truman “Tidak berpeluang sama sekali!” Tom Dewey adalah calon presiden selanjutnya, dan pada Hari Pemilihan, sebuah surat kabar Chicago memuat berita yang mengatakan bahwa Dewey telah menang. Tetapi Harry Truman tidak menyerah. Dia terus berjuang dan akhirnya memenangkan pemilihan presiden itu. Wow great!
Another story : Sir Winston Churchill mengucapkan sebuah pidato yang terkenal : “Jangan pernah menyerah! Jangan pernah menyerah! Jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah..” Tentu saja, kata-katanya, yang diucapkan pada masa-masa tergelap Iggris, memiliki imbas yang dramatis pada negaranya, dan pada akhirnya, Dunia Bebas.

Aku pribadi sangat menyukai cerita mengenai pelatih bola di SMU yang berbicara pada teamnya ketika mereka sedang tertinggal dalam perolehan skor oleh lawannya. Dia mengajukan pertanyaan retoris, “Apakah Cal Ripken pernah menyerah?” untuk kesekian kalinya teamnya menjawab, “TIDAK!” pertanyaan selanjutnya : “Apakah Elmer McFuddin pernah menyerah?..” Sesaat mereka diam dan tidak menjawab apa-apa.. kemudian Pelatih itu menjawab dengan penuh antusiasme : “Itulah maksudku! Tidak ada orang yang pernah mendengar tentang Elmer karena dia menyerah!”

Setelah sampai puncak ada reflexy dari Nelson Mandela :
“After climbing a great hill, one finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distence I have come. But I can only rest for a moment, for with the freedom comes responsibilities, and I dare not linger, for my long walk has not yet ended..”

Hikmah yang bagus yang bisa kita peroleh dari kata-kata Nelson Mandela tersebut.. bahwa sesampai di puncak, Ia hanya berhenti sejenak, karena dibalik keberhasilan yang diraihnya terdapat juga beban tanggung jawab yang harus dipikul.
Karena itu, milikilah cara berpikir yang selalu bersyukur atas pencapaian yang telah kita raih saat ini, namun di balik kesuksesan yang telah kita raih jangan lupa bahwa terdapat pula tanggung jawab yang sama besarnya.. sadar untuk tidak berhenti namun melanjutkan perjalanan yang lebih menantang lagi. Dengan demikian hidup ini menjadi seimbang, inilah pribadi seorang juara sejati :)

Jika ingin maju, lihatlah ke atas (*bukan atap lho…) lihatlah mereka yang telah berhasil meraih sukses yang lebih besar daripada yang kita miliki. Hal ini akan terus mendorong kita untuk mengeluarkan yang terbaik dari dalam diri. Namun, jika ingin bersyukur dan berterima kasih atas apa yang dimiliki, lihatlah ke bawah (*bukan tanah lho…), lihatlah mereka yang bernasib lebih buruk daripada kita. Dengan sikap ini, kita akan lebih banyak bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta.. inilah konsep balance view of success :) Merdeka!

Oleh Zig Ziglar, disarikan dari Media Kawasan September 2008 dipadukan sumber lain

Diselamatkan mangsa

Pekerjaan Theo Rosmulder selama bertahun-tahun adalah sebagai pembasmi rayap, namun ketika dia tersesat di tengah padang tandus, dia malahan dapat bertahan hidup hanya dengan memakan rayap yang selama ini diburunya.

Peristiwa itu terjadi ketika Rosmulder bersama istri dan empat rekan Rosmulder sedang mencari emas pada hari ketika dia tersesat. Dia terpisah dari kelompoknya sekitar 130 km di utara Laverton dan melanjutkan perjalanan seorang diri. Menurut polisi, ia hanya berbekal pisau lipat, senter, dan alat pendeteksi logam.

Theo Rosmulder (52) berhasil bertahan hidup selama empat hari dengan memakan rayap dan serangga lain sebelum akhirnya dia ditemukan oleh penduduk Aborigin setempat, Selasa 29 September pagi.

“Rayap rasanya tidak buruk,” katanya kepada para wartawan di kota penambangan Laverton di Australia Bagian Barat. Polisi mengatakan, Rosmulder menderita dehidrasi tetapi dalam keadaan baik.

Semula ia berpikir hidupnya akan berakhir di tempat itu. Ia nyaris putus asa, tidak berusaha mempertahankan hidup, dan membiarkan dirinya meninggal. Tetapi, keesokan harinya dia menemukan sarang rayap dan harapannya berkobar lagi.

Sersan Graham Clifford dari kepolisian Australia Bagian Barat mengatakan, serangga dan rayap memberi dia air dan protein. “Dia memakan binatang yang biasanya dia basmi,” kata Sersan Clifford.

Polisi menggelar operasi pencarian besar-besaran pada Sabtu subuh dengan puluhan petugas menyisir daerah berbatu-batu seluas 200 km persegi dari udara dan darat.

Sumber : BBC 2008