Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tentang Batavia-Jakarta Tempo Doeloe

Jejak kerja keras di jalan Toko Tiga

Sunday, 13 September 2015
Jejak Kerja Keras di Jalan Toko Tiga

toko-tiga-batavia
(Sumber: 108jakarta.com)

Jalan itu tak lurus. Tak lebar. Bahkan terbilang pendek karena hanya membentang sekitar 500 meter. Namun, di jalan itu tersimpan cerita kegigihan, kedermawanan, keuletan, dan ketokohan Oey Thai Lo, pemilik Toko Tiga. Itulah Jalan Toko Tiga, Jakarta.

Nama Toko Tiga mengilhami munculnya Jalan Toko Tiga yang menghubungkan Jalan Tambora dan Jalan Pintu Kecil di Kelurahan Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat. Lebar jalan mencapai 5 meter tetapi mobil dan sepeda motor kesulitan melaju lantaran sebagian ruas jalan dialihfungsikan sebagai lahan parkir.

Siang itu, Rabu (9/9), puluhan mobil berjajar di tepi Jalan Toko Tiga, persis di bibir Kali Krukut. Sebagian orang meninggalkan mobil di sana. Sebagian lain sibuk membongkar atau memuat berbagai jenis barang ke dalam mobil boks atau truk yang datang silih berganti seakan tiada habis.

Di seberang mobil-mobil parkir itu berderet berbagai toko, mulai dari toko mesin jahit, kertas, sepatu, peralatan memancing, perlengkapan rumah tangga, mebel, tembakau, hingga apotek. Hingga malam, jalan ini masih sangat ramai. “Kalau tengah malam agak sepi. Pagi ramai lagi,” kata Rosyid (26), juru parkir.

Jalan Toko Tiga sudah terkenal ramai oleh perdagangan, paling tidak sejak 1819, kala Oey Thai Lo memenangi lelang pembelian Toko Tiga dan mengembangkan usaha tembakau di sana. Sayangnya, tapak bangunan Toko Tiga ini susah dilacak.

Ketika bertanya kepada warga, mereka menganjurkan pertanyaan tersebut diajukan kepada Lilik Marjono (56), warga Jawa Tengah, yang sudah sejak umur lima tahun tinggal di Roa Malaka. Lilik meyakini, Toko Tiga milik Thai Lo itu telah berubah menjadi beberapa toko. Itu bisa dilihat dari sisa bangunan yang kini menjadi Toko Lautan Mas di Jalan Toko Tiga Nomor 24. “Sejak saya kecil, toko itu yang paling besar di sini,” kata Lilik.

Di sepanjang Jalan Toko Tiga, tinggal satu bangunan tua berarsitektur Tiongkok yang beratap runcing. Bangunan itu sudah “dicacah-cacah” menjadi setidaknya enam toko, yaitu Embossindo Utama, Sinar Saudara, Sinar Saudara Baru, Lautan Mas, Bintang Mas, dan Universal. Hanya toko peralatan pancing Lautan Mas yang masih mempertahankan sebagian arsitektur luar bangunan asli.

“Dulu ini memang toko tembakau, tapi saya tidak tahu namanya. Setelah kerusuhan 1998 berubah menjadi toko peralatan pancing,” kata Jimmy Halim (38), petugas keamanan Lautan Mas.

Keluarga Thai Lo pun tidak mengetahui lagi letak tapak bangunan Toko Tiga yang sempat membesarkan nama Thai Lo itu. Oey Kwie Djien alias Robert R Widjaja (78) menjelaskan, dia tidak pernah tinggal di Toko Tiga. Namun, ayahnya, Oey Kim Tjiang, pernah tinggal di sana hingga tahun 1920-an. Kim Tjiang merupakan cicit dari Thai Lo.

Robert yang merupakan pendiri dan pemilik PT Tigaraksa Satria juga tak ingin mencari lagi sisa-sisa bangunan Toko Tiga itu. “Sudah sangat sulit. Saya khawatir malah bangunannya sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Meski demikian, nama Toko Tiga kadung melekat, tidak hanya menjadi nama jalan, tetapi seolah menjadi penanda. Banyak toko di sepanjang jalan ini menggunakan label “Toko Tiga” pada papan namanya. Selain itu, keteladanan Thai Lo tetap hidup di keluarga Robert. Dia mendengar cerita tentang kegigihan, kedermawanan, keuletan, dan ketokohan Oey Thai Lo lewat ayah, ibu, dan kakeknya.
lautan-mas-batavia
Novel sejarah
Robert kemudian mencari rujukan dan bukti sejarah cerita-cerita tentang Toko Tiga sehingga muncul novel berbasis sejarah dalam Letnan Oey Thai Lo: Anak Tukang Cukur Miskin dari Fukien Menjadi Taipan di Betawi (2015). Buku itu melibatkan Remy Sylado sebagai editor. Dikisahkan, Oey Thai Lo yang bernama asli Oey Yi Bu adalah anak seorang tukang cukur di Jinjiang, Provinsi Fukien, Tiongkok selatan. Dia lalu merantau ke Jawa dan menjadi pengusaha tembakau di Brebes, Jawa Tengah.

Usahanya terbilang kecil karena masih berada di bawah tauke besar. Namun, nasib Thai Lo berubah setelah bertemu dengan seorang anak yang tengah bermain layang-layang. Robert menceritakan, Thai Lo melihat seorang anak bermain layang-layang bergambar angka 100. Saat itu sekitar tahun 1812. Dia menilai gambar itu aneh dan menduganya sebagai surat utang Belanda yang digunakan selama membangun jalan Postweg yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Thai Lo tertarik dan menukarnya dengan sekeping tembaga.

Anak itu bersedia dan bercerita bahwa ayahnya menyimpan sepeti kertas serupa. Thai Lo lantas menukar seluruh kertas yang jumlahnya 354 lembar itu dengan sejumlah uang. Benar saja, kertas tersebut ternyata surat utang Gubernur Daendels yang ia keluarkan dengan jaminan tanah di Probolinggo, Besuki, dan Panarukan. Thai Lo menjadi orang kaya setelah menjualnya ke Batavia.

Dengan uang itu, dia mengembangkan usaha tembakau dan membantu menyejahterakan petani. Dengan hasil usahanya itu pulalah, Thai Lo berani ikut lelang Toko Tiga dan secara mengejutkan memenanginya, mengalahkan para taipan lain. Ketika yang lain menawar dengan kenaikan harga 200 gulden, Thai Lo yang namanya belum dikenal di Batavia berani menawar dengan kenaikan 500 gulden. Toko Tiga dia beli seharga 9.000 gulden.

Toko Tiga menjadi tonggak baru usaha penjualan tembakau Thai Lo. Disebut Toko Tiga karena bangunan tersebut terdiri atas tiga bangunan yang berfungsi sebagai toko dan rumah. “Sebelum dibeli Thai Lo, namanya sudah Toko Tiga,” kata Robert.

Berpusat di Toko Tiga, Thai Lo menjadi raja tembakau. Dia menguasai pasar tembakau di Batavia, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Keuntungannya mencapai 283.000 gulden. Waktu itu, harga ruko berukuran 140 meter persegi hanya sekitar 1.000 gulden.

Meski demikian, Thai Lo berpenampilan sederhana sehingga, di luar jaringan bisnisnya, tak banyak orang mengenal dia sebagai orang kaya. Dia juga sangat dermawan, tetapi perhitungan. Setiap kelenteng dia sumbang, tetapi disurvei dulu untuk mengukur kebutuhannya. Keluhuran budinya itu mendorong Kapiten Betawi Ko Tiang Tjong mengangkatnya menjadi Letnan Oey Thai Lo.

Banyak orang tidak pernah tahu atau lupa dengan Thai Lo. Namun, warga Jakarta lebih kenal dengan Jalan Toko Tiga. Jalan yang sekarang ini padat, bahkan cenderung semrawut dan dipenuhi para pekerja keras. Itulah salah satu semangat Thai Lo yang masih menjejak: kerja keras!

cagar-budaya-toko-tiga

peluncuran-buku-oey-thay-lo
Dari kanan ke kiri: Robert B Widjaja, bersama istri, Ninik L Kariem dan Remy Sylado dalam acara peluncuran buku Letnan Oey Thai Lo: Anak Tukang Cukur Miskin dari Fukien Menjadi Taipan di Betawi (Sumber: Jakarta Post)

Bangunan cagar budaya yang masih tersisa di Jalan Toko Tiga, Jakarta, Kamis (10/9). Kawasan ini merupakan pusat perniagaan yang menyisakan bangunan cagar budaya.
Bangunan cagar budaya yang masih tersisa di Jalan Toko Tiga, Jakarta, Kamis (10/9). Kawasan ini merupakan pusat perniagaan yang menyisakan bangunan cagar budaya. (Kompas/Lucky Pransiska)

KOMPAS, Minggu, 13 September 2015,ditulis Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ

Dari Goenoeng Sarie ke Sentiong

 

Gang Tepekong, Jalan Pintu Besi, dan Jalan Laotze, Jalan Gunung Sahari barangkali bisa mengingatkan pembaca pada sebuah bangunan peristirahatan milik Belanda di sekitaran abad 18. Bangunan ini, menurut Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, dibangun dalam taman luas di  luar kota, di sisi barat “Jalan Raya ke Selatan” yang kini dikenal sebagai Jalan Gunung Sahari.

Karena lokasi rumah peristirahatan di kawasan yang tak jauh dari Goenoeng Sarie, maka rumah itu seringkali juga disebut roema Goenoeng Sarie – seperti yang ditulis dan disebutkan Ong Hok Ham dalam Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa.

Rumah peristirahatan itu, bersama taman, tentu sudah tak berbekas. Yang bersisa kini hanya bangunan yang jadi Kelenteng Sentiong atau Kelenteng Wan-jie si atau tertulis di pintu gerbang kelenteng itu sebagai Vihara Buddhayana. Bangunan itu kini berada di Jalan Raya Laotze. Bangunan ini juga bisa dicapai dari Jalan Pintu Besi I atau yang dulu bernama Gang Tepekong.

Persis di mulut Jalan Pintu Besi I yang bertemu dengan Jalan Raya Laotze, akan terlihat bangunan bertembok tinggi. Itulah bagian dari rumah peristirahatan yang kini jadi kelenteng. Persis di tengah-tengah kawasan padat di kawasan Pasar Baru,  Jakarta Pusat.

Menurut Ong Hok Ham, tak seperti rumah-rumah peristirahatan Belanda yang besar dan mewah di luar kota Batavia kala itu, rumah Goenoeng Sarie ini terbilang sederhana. Adalah Frederik Julius Coyett yang membangun rumah itu di tahun 1736. Rumah peristirahatan sederhana itru terletak di tengah alam di luar kota Batavia. Rumah itu dikelilingi oleh hanya satu lapangan rumput yang luas dengan pepohonan tinggi.

Sayangnya, Coyett tak bisa berlama-lama menikmati rumah tersebut karena  pada tahun 1736 itu juga, ia meninggal dunia. Istrinya, GM Goossens, menjadi pemilik kedua rumah Goenoeng Sarie. Pada 1753 rumah ini menjadi milik van Suchtelen, kemudian kepemilikan rumah itu terus berganti hingga pada 1761 rumah itu jadi milik Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Lepas dari Mossel, yang meninggal pada tahun yang sama, rumah itu kemudian dibeli oleh warga Batavia, Simon Josephe. Dan sejak itulah rumah dan tanah itu untuk pertama kalinya disebut Goenoeng Sarie. Goenoeng Sarie juga menarik perhatian Raffles karena terdapat koleksi arca Buddha dan Hindu yang dikumpulkan Coyett.

Heuken menyebutkan, Mossel pernah menjabat gubernur di Negapatnam (India) dan membawa arca Vishnu serta tiga sayap tangga dari sana ke Batavia. Karya seni ini memamerkan gaya seni Chola dari abad ke-7 sampai ke-11. Mossel menambahkan patung yang ia bawa dalam koleksi Coyett – patung milik Mossel kini ada di Museum Nasional.

Tak lama setelah ia membeli rumah itu, Josephe kemudian menjual Goenoeng Sarie kepada para pemuka dan kapiten Tionghoa, seperti Kapitein Lim Tjhip Ko, Luitenant Lim Kian Lo, Luitenant Lim Thee Ko. Pada 1888 Goenoeng Sarie resmi jadi milik Kong Koan atau Dewan Opsir Tionghoa. Di tanah itu terdapat kelenteng, kantor Kong Koan dan kuburan Tionghoa. Orang Tionghoa memang sudah menginginkan rumah ini karena alasan memperluas pekuburan yang pernah terbentang dari sebelah selatan Jalan Pangeran Jayakarta sampai ke kebun rumah Coyett.

Perihal warga Tionghoa yang terkait dengan Goenoeng Sarie, dalam Hikayat Kapitein Souw Beng Kong  yang ditulis oleh B Hoetink dan kemudian disalin oleh Liem Koen Hian – kemudian dikumpulkan dalam buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia jilid 10 – ada sedikit disebut seperti ini, “Di pertengahan abad ke 18 di Batavia ada orang-orang Tionghoa yang mengaku ada turunannya Kapitein Souw Beng Kong. Antara marika ini tiada ada banyak orang yang ternama. Di antara dua-tiga ratus orang yang namanya ada ditulis di itu masa di ruma Toapekkong di Sentiong Goenoeng Sari seperti orang-orang yang bantu pikul onkostnya ini klenteng cuma ada satu orang she Souw.”

Kelenteng Buddhayana di masa kini menjadi salah satu kelenteng – dari banyak kelenteng yang ada di sepanjang Jalan Laotze  – dan salah satu kelenteng tua selain Kelenteng Tri Ratna tak jauh dari kelenteng ini. Pekuburan sudah tak lagi ada di roema Goenoeng Sarie, tersisa rumah yang kini digunakan sebagai kelenteng.

Dikutip dari WartaKota/Kompas 8 Oktober 2009

Gedung keempat karya Cypers di Batavia

Gedung Cipta Niaga

  Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kalibesar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memabtul dari kumpulan air di Kalibesar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung itu adalah gedung ke empat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kalibesar persis di Jalan Kalibesar Timur.

Gedung Cipta Niaga (Tjipta Niaga) pada zaman Belanda disebut Rotterdam Internatio berlokasi Jalan Kali Besar Timur.  Gedung ini di bangun pada 1912. Bentuknya memanjang dari jalan kali besar timur hingga ke jalan pintu besar utara. Gedung Cipta Niaga awalnya milik perusahaan Intenationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam. Perusahaan ini merupakan satu dari lima perusahaan besar di Hindia Belanda, dikenal sebagai The big Five yang khususnya bergerak di bidang perbankan dan perkebunan.

Bangunan di sebelahnya, yaitu gedung G Kolff & Co, di sudut Jalan Kalibesar Timur III, dan Jalan Kalibesar Timur, juga menjadi milik PT Tjipta Niaga. Bangunan dari tahun 1860 ini adalah bekas toko buku pertama di Batavia. Kini bangunan ini juga kosong dan dalam kondisi buruk.[2]

Gedung Cipta Niaga (Rotterdam Internasio) di tahun 2011. Diakses dari www.kotatuaku.com, 26 November 2015.

Arsitektur Gedung

Gedung yang dirancang oleh Arsitek Ed Cuypers En Hulswitini mempunyai teras pada bagian barat, sedangkan sisi selatannya tak berteras. Lantai dasar gedung inni dulunya di gunakan kantor Rotterdamsche Lloyd (de llyod), sementara pintu masuk rotterdam Interantio ada di tengah – tengah dinding depan, menghadap jalan. Pintu – pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah.[3]

Semua dinding tembok di pasang di atas beton bertulang yang di bentuk dari pasir dan batu kapur. kedua lantai gedung dan semua pilar serta tangga utama di bangun dengan menggunakan beton bertulang.[4]

Tangga dan lobi atas dibuat mewah, dengan anak – anak tangga yang dilapisi bata keras yang diminyaki, sehingga tampak seperti marmer hitam yang di poles. Sementara lampu – lampu atas di lobi dihiasi kaca pada jendela, yang didalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota atau negara. Bangunan tua ini memang bergaya arsietktur Belanda.[5]

Saat nasionalisasi perusahaan – perusahaan milik Belanda, gedung Cipta Niaga ini diambil alih dan dijadikan aset PN Tjipta Niaga yang kemudian menjadi PT. Cipta Niaga. Kemewahan gedung Cipta Niaga di masa lalu itu adalah bukti kejayaan perekonomian Batavia.[6]

Kontor Asuransi

Gedun Tjipta Niagayang terletak di depan dari Cafe Batavia ini ternyata memiliki nama lain yaitu Koloniale Zee en Brand Assurantie.

Bangunan ini pernah menjadi kantor asuransi pada masa itu. Bangunan yang beralamat lengkap di Jalan Pintu Besar Nomor 5, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat ini punya arsitektur yang menarik.[7]

Gedung yang kurang lebih berusia 103 tahun itu memiliki gaya dutch style atau gaya Belanda. Karena bentuknya berupa bangunan deret seperti pada dutch townhouse, serta memiliki façade tertutup (tidak memiliki teras dan overstek atap yang sempit). Gaya Art Decot dapat terlihat pada hiasan profil di atas jendela lengkung dan pintu masuk membentuk semacam “kepala” pada jendela. Pada teralis besinya juga terdapat ornament berupa ukir-ukiran motif floral.

Tapi kini, bangunan ratusan tersebut sudah mulai usang. Dalam komplek gedung tersebut cat yang sudah mulai memudar dari putih hingga kekuningan. Dinding bangunan ditumbuhi lumut, serta pohon yang merambat mengelilingi sisa-sisa bangunan juga menghiasi bekas kantor asuransi tersebut.

Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian, sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.
Bangunan luas ini mempunyai teras pada bagian barat sedangkan pada sisi selatannya tidak berteras.Lantai dasar gedung ini digunakan kantor Rotterdamsche Llyoyd (de Lloyd). Di masa lalu, pintu masuk de Lloyd berada di sudut Kalibesar Timur dan Jalan Teh (kini Jalan Kalibesar Timur 4).Sedangkan pintu masuk Rotterdam Internatio ada di tengah-tengah dinding depan menghadap Jalan Teh. Pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang dibangun dari pasir batu kapur. Kedua lantai gedung tersebut dan semua pilar serta tangga utama dibangun dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan beton bertulang oleh subbiro Weltevreden dari “Hollandsche Maatschappij”.
Tangga dan lobi atas dibuat sedikit lebih mewah. Anak-anak tangga dilapisi dengan batu keras yang diminyaki yang sama seperti marmer hitam yang dipoles dan pemasoknya adalah Firma D Weegewijs di Amsterdam. Lampu-lampu atas di lobi dihiasi dengan kaca pada jendela timah yang di dalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota, atau negara sebagai dekorasi keseluruhannya dibuat oleh Firma Lindeman & Schooneveld di Amsterdam.Lonceng Pengiring Kematian
Warta Kota 27 Maret 2020. Pradaningrum Mijarto Soli Deo Gloria, demikian nama lonceng itu. Lonceng besar yang menggantung di atap menara stadhuis (balai kota) Batavia di sekitar abad ke 18 itu terkesan begitu mengerikan. Pasalnya, setiap kali lonceng itu berbunyi, itu pertanda ada tawanan, yang dinilai jahat oleh Pemerintah Belanda kala itu yang akan menemui ajal dihukum gantung.
Siang, beberapa hari lalu, Warta Kota mencoba naik ke menara yang kini jadi menara Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bagian menara memang tidak dibuka untuk umum karena kondisi atap gedung dan menara tak lagi memungkinkan dilewati banyak orang. Ruangan di menara di mana lonceng berada juga sempit. Untuk sampai di atas menara, orang harus melewati dua tangga yang curam.
Sampai di atas menara, Warta Kota menemukan sebuah alat penggerak kuno yang sudah lama tak terpakai. Pada alat itu menggantung semacam bandul. Lonceng yang terbilang kecil menempel di bagian atas. Di dekat lonceng ini ada besi yang dikaitkan dengan engkol. Jika engkol ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul lonceng.
Bunyinya tak sebanding dengan cerita-cerita masa lalu, di mana saat“Lonceng Kematian” ini berdentang, pertanda rakyat akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa menggantung pesakitan. Lonceng ini dibunyikan untuk memanggil warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung. Lonceng yang bertuliskan Soli Deo Gloria dari abad ke 18 itu terbuat dari besi dengan bentuk kokoh. Lonceng buatan tahun 1742 itu rasanya sudah tak jelas lagi keberadaannya. Di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, 1973, gedung bekas balai kota ini mengalami pemugaran besar-besaran. Tapi tak ada data yang menyebutkan bagian mana saja yang dipugar dan diganti dengan material baru.
Menurut arkeolog yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat, kemungkinan besar lonceng pun ikut diganti. “Lonceng yang sekarang kan kecil. Kemungkinan sudah mengalami perubahan sejak sebelum 1973. Tapi,bisa juga pada saat pemugaran besar tahun 1973,”ujarnya.
Dalam buku “Dari Stadhuis ke Museum”, Hans Bonke dan Anne Handojo menyebutkan tanggal 25 Januari 1707, Petronella Wilhelmina, putri Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704 – 1709), meletakkan batu pertama. Menara kecil dipasang di atas atap dan lonceng dipasang kembali di sisi bordes.
Dalam catatan lain, lonceng dibikin tahun 1742, itu artinya selama abad ke-18 saja sudah terjadi perubahan. Bisa jadi lonceng kematian dibikin setelah terjadi pembantaian orang China pada 1740. Eksekusi terakhir yang mengikutsrtakan lonceng kematian terjadi pada 1896. Tjoen Boen Tjeng dihukum gantung karena terlibat dalam penjarahan.
Buku ini juga mencatat, setelah tahun 1870 para juru foto dari Woodbury & Page yang membuat foto-foto pertama di Batavia menunjukkan bahwa bagian depan Stadhuis sudah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir. Sayangnya, perubahan yang terjadi di sepanjang abad ke-18, ke-19, hingga ke-20 itu tak banyak tercatat secara detail. 27 Maret 2010 Lukisan Kusni Kasdut di Katedral Warta Kota 18 Mei 2010
Pernah dengar nama Kusni Kasdut? Atau barangkali malah ada pembaca yang mengalami masa heboh Kusni Kasdut yang mencuri koleksi arca emas/permata di Museum Nasional sekitar setengah abad silam? Kusni Kasdut, atau kemudian menjadi Ignatius Kusni Kasdut, masuk dalam jajaran “Robin Hood” Indonesia periode setelah kemerdekaan , lebih tepatnya di masa awal Orde Baru. Kali ini saya belum akan membahas kisah penjahat legendaris itu lebih dalam. Tapi jika ada yang penasaran melihat hasil karya seni Kusni Kasdut berupa lukisan Gereja Katedral dari batang pohon pisang (gedebog), bisa mampir ke Museum Katedral di Gereja Katedral Jakarta.
Di Balkon Gereja Katedral itulah, lukisan tersebut berada. Ia dipamerkan bersama benda-benda koleksi gereja lainnya. Di bawah lukisan Kusni Kasdut itu diberi keterangan, lukisan dari batang pohon pisang itu dibikin Kusni Kasdut selama mendekam di penjara menjelang dieksekusi. Ia dibaptis di Penjara Cipinang pada 19 Desember 1968 dan dieksekusi beberapa tahun kemudian.
Lukisan Kusni itu tentu menjadikan nuansa museum itu berbeda. Pasalnya, isi museum itu kebanyakan adalah alat-alat ibadat, patung, buku, kasula (busana khas imam), serta benda-benda lain seperti vandel lambang gereja, alat mati raga, kaleng misi sebagai tempat menampung uang logam bagi karya misi pater-pater Yesuit di Indonesia.
Minggu (16/5),Museum Katedral menggelar “Open House Museum Katedral”. Siapapun yang ingin melihat, mengambil gambar gereja dan ornamennya baik dari luar maupun dalam, hingga ke balkon tempat museum berada, dipersilakan. Gratis, ada pemandu pula. Open house itu digelar sebulan sekali. Namun jika ingin melihat museum di luar acara open house bisa datang hari Senin, Rabu, dan Jumat tak lebih dari pukul 12.00.”Museum ini sempat ditutup selama 15 bulan karena gereja dipugar dan baru dibuka kembali pada 21 Maret 2010,” kata pejabat Humas Gereja Katedral Grace Tanus.
Museum Katedral diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris yang pernah menjadi pastor kepala di Katedral. Kurris-lah yang kemudian menempatkan benda-benda bersejarah koleksi gereja di balkon itu. Itu dimulai pada 1988, bersamaan dengan pemugaran gereja. Kemudian museum ini diresmikan pada 28 April 1991 oleh Julianus Kardinal Darmaatmadja SJ yang kala itu menjabat sebagai Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia sekaligus Uskup Agung Semarang. Selain koleksi lukisan batang pohon pisang karya Kusni Kasdut, museum ini juga memamerkan Patung Bunda Maria Berkonde yang diapit sepasang perempuan dan pria Jawa dalam posisi sedang menyembah. Ketiga patung itu dibikin oleh Pater Reksaatmadja,SJ sekitar tahun 1930 saat ia belajar Ilmu Ketuhanan di Belanda, Mitra (topi ibadat) dan Tongkat Gembala Paus Paulus VI yang diberikan kepada umat di Indonesia dalam kunjungannya tahun 1970 juga ikut dipamerkan. Demikian pula dengan Piala, Patena dan Kasula Paus Yohannes Paulus II yang diberikan kepada umat Katolik di Indonesia saat ia berkunjung tahun 1989.

Gedung Tjipta Niaga memang menjadi salah satu dari daftar cagar budaya puluhan bangunan di kawasan Kota Tua yang akan direvitalisasi.

Pelajaran dari gereja tua di jakarta

Nama jalan di Batavia (era Belanda)

Pada masa kolonial Belanda, banyak nama jalan yang dinamai dengan bahasa Belanda, khususnya yang berada di daerah pusat kota masa itu.

Drossaersweg = Jalan Tamansari (kawasan Glodok-Sawah  Besar) Jakarta Barat

Molenvliet West (Jl Gajah Mada)

Kenari Laan (Jl Kenari) yang kala itu menjadi penghubung antara Pegangsaan dan Salemba Raya.

Gang Scott = Jalan Budi Kemuliaan. Nama Scott diambil dari nama seorang pejabat Belanda,Robert Scott yang pensiunan kepala pelabuhan Semarang.

Koningsplein = Lapangan Monas

Sluisbrug = Jalan Pintu Air

Buiten Niezmpoort  – Pintu Besar Selatan

Kerkstraaat  (Jalan Gereja) =  Jl Jatinegara Timur  yang  dulu merupakan kawasan bisnis. Pasar Baru Straat dan Risjwijkstraat (Jl Veteran) adalah jalan yang ketika itu menjadi daerah perniagaan dan pertokoan.

Weg adalah nama jalan yang dapat dilalui mobil . Ratusan nama jalan di DKI sampai 1942 terletak di kawasan weg. Misalnya,

Donggalaweg = Jalan Donggala

Javaweg  = kini Jalan  H.O.S Tjokroaminoto di kawasan Menteng atau Drukerijweg (Jl Percetakan Negara).

Berdasarkan peraturan kala itu, Belanda melarang kawasan weg dijadikan sebagai tempat perdagangan. Gang lebih banyak di kampung-kampung dan diberi nama dengan nama tokoh masyarakat ataupun tuan tanah di tempat tersebut atau peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu. Misalnya, Gang Adjudant (kini Jl Kramat II) Kwitang yang mengambil nama seorang ajudan yang pernah tinggal di tempat ini.

Wangsanajan = Senayan

 

Adjudant adalah salah satu nama dalam struktur gemeentepemerintah Hindia Belanda. Rupanya, seorang ajudan pernah tinggal di tempat tersebut. Demikian juga Gang Wedana di Jatinegara atau Gang H Dja’man di samping Toko Serba Ada Sarinah di Jl Thamrin (kini sudah tidak ada lagi).

Park

Pemerintah kolonial juga menamakan taman kota dengan park, misalnya Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal), Prinsenpark (Lokasari), Hertogpark (Pejambon), Deca Park (bagian utara Monas sekarang), Eijkmanpark (dekat RSCM), dan masih banyak lagi.

Sejak masa awal kolonial, namanama jalan di Jakarta banyak mengacu tokoh-tokoh yang mereka miliki. Pada abad ke-17, kastil pertama terletak di Prinsen Straat (Jalan Pangeran) dan sekarang bernama Jl Cengkeh. Di tempat inilah, pasukan kesultanan Islam dua kali menyerang benteng (1628 dan 1629).

Di Batavia, juga terdapat nama fortatau benteng, seperti citadelyang kini Jl Veteran I. Di dekatnya, terdapat Utrechstraat (kini Jl Kopi).

Ketika Menteng dibangun (1920), NV de Bouwploeg meniru kawasan Minerva di Amsterdam. Kawasan ini diperuntukkan bagi warga Eropa yang makin banyak di Batavia. Terdapat tiga buah boulevarddi kawasan yang dijadikan sebagai kota taman pertama. Yakni, Oranye Boulevard (kini Jl Diponegoro), Nassau Boulevard (Jl Imam Bonjol), dan Van Heutzboulevard (kini Jl Tengku Umar). Sementara itu, Burgermeester Bischoplein menjadi Jalan Taman Surapati.

Penggantian nama yang dilakukan setelah kemerdekaan Indonesia ini sangat tepat. Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard memperlihatkan lambang bangsa Belanda sebagai wangsa oranye. Tim sepak bolanya menggunakan kostum oranye. Oranye Boulevard menjadi Jl Diponegoro untuk memperingati perjuangan pangeran dari Kesultanan Mataram ini pada 1820-1825 yang disebut Perang Jawa.

Akibat perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda dibuat kalang kabut akibat biayanya yang sangat besar. Hingga, Belanda minta bantuan rakyat dengan mendirikan De Javasch Bank (kini BI) agar bank ini meminjamkan uangnya.

Nassau Boulevard menjadi  Jl Imam Bonjol.

Van Heutz Boulevard menjadi Jl Tengku Umar untuk memperingati pahlawan dari tanah rencong. Van Heutz sengaja diabadikan Belanda untuk nama boulevarddi Menteng karena dia dianggap sebagai jenderal yang berhasil mempersatukan Aceh.

Dia punya patung di Jalan Menteng Raya depan Museum Juang, tetapi telah dihancurkan oleh pemuda pejuang. Sedangkan, Burgermesteer adalah wali kota pertama setelah desentralisasi Batavia pada 1905. Surapati yang namanya diabadikan adalah pejuang nasional yang memberontak terhadap Belanda. Dia semula adalah seorang budak dan pernah dipenjarakan di Balai Kota (kini Museum Sejarah DKI Jakarta).

Berdekatan dengan kawasan Menteng, terdapat kawasan Pasar Rumput di Manggarai. Pada masa kolonial, jalan itu bernama Janpieter zoonweg untuk meng abadikan nama pendiri Kota Batavia. Kini, jalan itu menjadi Jl Sultan Agung yang menyerang JP Coen dari Mataram ke Batavia.

Juliaweg = Jalan Slamet Riyadi. Nama Julia yang diambil dari nama ibu ratu Belanda Beatrix

Gang Abu (kini Jl Batutulis X),  di Pecenongan. Berbelok ke kanan memasuki sebuah gang kecil dari Pecenongan, terdapat Gang Secha (kini Jl Pintu Air II). Mengabadikan nama putri tuan tanah Habib Abubakar Alatas, yang memiliki banyak rumah sewaan di jalan tersebut. Putrinya, yang dikabarkan berparas cantik, lengkapnya bemama Syarifah Secha. Dahulu terdapat Gang Belle dan Gang Kelekamp. Yang terakhir ini mungkin nama seorang tokoh Belanda yang pemah tinggal di sini. Di Batavia, ketika masih bernama Batavia, banyak nama jalan dan gang tokoh masyarakat Belanda, di samping mengabadikan masyarakat setempat.Seperti, Gang Anderson (Jl Kartini I, Pasar Baru), Gang Kow En Lie (Kartini II), Gang Chaulan (Jl Hasyim Ashari), Laan Holle (Jl Sabang), Gang Thomas (Tanah Abang V), Laan de Bruin Kops (Tanah Abang III), Laan Travelli (Tanah Abang IV), Gang Eduard (Jl Asem Reges II) dan masih ratusan nama jalan lagi yang mengabadikan tokoh masyarakat yang pemah tinggal di tempat tersebut.

Masih di kawasan Pecenongan, terdapat Gang Ceylon, nama Srilangka ketika itu. Pada awal penjajahan Belanda, Ceylon merupakan salah satu jajahan negeri kincir angin. Banyak orang yang berasal dari Ceylon tinggal di Jakarta. Di Gang Ceylon terdapat markas BBSA (Bangka Biliton Sport Association), perkumpulan sepakbola divisi I Persija tahun 1950-an dan 60-an.

Di ujung jalan Pecenongan menuju Asem Reges (kini Jl Taman Sari), terdapat Jl Krekot Raya (kini Jl Samanhudi). Di Krekot terdapat bioskop Cinema, dan pada 1960’an ketika nama-nama asing harus diganti, bioskop ini bernama Krekot. Sedangkan di ujung Gang Ceylon setelah melewati jalan kereta api, terletak Jl Pintu Air. Di sini terdapat bioskop Astoria, yang kemudian juga diganti jadi Satria. Di dekatnya terdapat bioskop Capitol, depan masjid Istiqlal.

Bidara Cina Bidaracina dewasa ini menjadi nama sebuah kelurahan, kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Menurut beberapa informasi, kawasan tersebut dikenal dengan nama Bidaracina, karena pada waktu terjadi pemberontakan orang – orang Cina di Batavia dan sekitarnya terhadap Kompeni pada tahun 1740, ribuan dari mereka terbunuh mati, bermandi darah. Di antaranya di tempat yang kemudian disebut Bidaracina itu.

Informasi tersebut tidak mustahil mengandung kebenaran walaupun mengundang beberapa pertanyaan, kenapa hanya dikawasan itu yang disebut Bidaracina, karena banyak orang Cina mati bermandikan darah?. Padahal peristiwa pembunuhan itu konon terjadi di pelosok Kota Batavia dan sekitarnya. Kenapa tidak di sebut Cina berdarah, sesuai dengan kaidah bahasa Melayu, yang kemudian berubah menjadi cinabedara, selanjutnya menjadi cinabidara?

Perkiraan lainnya, asal nama kawasan tersebut dari bidara yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara, atau bahasa ilmiahnya Zizyphus jujube Lam, famili Rhanneae, adalah pohon yang kayunya cukup baik untuk bahan bangunan,. Akar dan kulitnya yang rasanya pahit, mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, termasuk sesak nafas. Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah. Buahnya dapat dimakan (Fillet 1888:52)

Ada kaitannya dengan perkiraan tersebut, yaitu keterangan tentang adanya seorang Cina yang mengikat kontrak yang aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth tertanggal 9 Oktober 1684, untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk dengan pohon buah – buahan, termasuk pohon Bidara (De Haan 1911, (11):613). Walaupun di luar kontrak tersebut, mungkin saja seorang Cina menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidaracina itu.

Tanjung Barat dalam sejarah Tatar Sunda

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan. [Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan, akan tetapi sumber portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu) Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangai 21 Agustus 1522]

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua “costumodos” (kurang lebih 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran – Portugis sangat mencemaskan TRENGGANA (Sultan Demak III). Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan FADILLAH KHAN yang menjadi Senapati Demak. [Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya BARKAT ZAINAL ABIDIN adalah adik NURUL AMIN (kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah). Selain itu Fadillah masih terhitung cucu SUNAN AMPEL (ALI RAKHMATULLAH) sebab buyutnya adalah kakak IBRAHIN ZAINAL AKBAR ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

Barros menyebut Fadillah dengan FALETEHAN. Ini barangkali lafal orang Portugis untuk Fadillah Khan. Tome Pinto menyebutnya TAGARIL untuk KI FADIL (julukan Fadillah Khan sehari-hari).

Kretabhumi I/2 menyebutkan, bahwa makam Fadillah Khan (disebut juga WONG AGUNG PASE) terletak di puncak Gunung Sembung berdampingan (di sebelah timurnya) dengan makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat (1913) menganggap Fadillah identik dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan ARYA BURAH]

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan MERIAM yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersipakan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa memancangkan padrao pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane “Rio de Sa Jorge”. Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana (Walasungsang atau bernama pula HAJI ABDULLAH IMAN). Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang.

[Cirebon sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan (bahkan Sultan Trenggana tebunuh), kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, maka Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari]

Perang Cirebon – Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan PASUKAN MERIAM Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi “panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas”. Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

SUMEDANG masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon dengan dinobatkannya PANGERAN SANTRI menjadi Bupati Sumedang pada tanggal 21 Oktober 1530. [Pangeran Santri adalah cucu PANGERAN PANJUNAN, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah SYEKH DATUK KAHFI pendiri pesantren pertama di Cirebon. Ia menjadi bupati karena pernikahannya dengan SATYASIH, Pucuk Umum Sumedang. Secara tidak resmi Sumedang menjadi daerah Cirebon]

Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. [Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran PASAREAN (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten)]

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat SAKAKALA (tanda peringatan buat ayahnya). Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. ITULAH PRASASTI BATUTULIS yang diletakkannya di KABUYUTAN tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa LINGGA BATU ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, BATUTULIS itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri LINGGA BATU. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi ASTATALA ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi PADATALA ukiran jejak kaki. [Mungkin pemasangan batutulis itu bertepatan dengan upacara SRADA yaitu “penyempurnaan sukma” yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi].

[Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan GURU GANTANGAN atau MUNDING LAYA DIKUSUMA. Permaisurinya, KINAWATI, berasal dari Kerajaan Tanjung Barat yang terletak di daerah PASAR MINGGU sekarang. Kinawati adalah puteri MENTAL BUANA, cicit MUNDING KAWATI yang kesemuanya penguasa di Tanjung Barat.

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu KAUNG PANDAK). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan keTanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut JALAN BANTEN LAMA (“oude Bantamsche weg”)].

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai SAKAKALA untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di PADAREN. Diantara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babadd maupun pantun. [Babad Pajajaran atau Babad Pakuan sebenarnya mengisahkan “petualangan” Surawisesa (Guru Gantangan) dengan gaya cerita Panji].

 

Bangunan China kuno di sekitar kota tua Jakarta ,sampai tahun 2015

Sam Njan Khiong
Vihara Sam Njan Khiong di Jalan Jembatan Batu (dahulu Jassenburg), Jakarta (Dekat Pinangsia- Stasiun Beos)
Toa Se Bio
Vihara Toa Se Bio di Petak Sembilan
Gereja St.Fatima - Jalan Kemenangan
Gereja Katolik Santa Fatima di Jalan Kemenangan 3, Glodok

Masa silam Trem /Tram di Jakarta

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Jakarta Tram

Tram yang digerakkan listrik, di daerah Senen

Tokoh sosial Pak Wongso


Rumah Pah Wongso di Blandongan, kawasan Pecinan Jakarta Kota.
Foto:
Seri Histo-Heritagetaken from: Warta Kota, 28 September 2011

LEGENDA PAK WONGSO

Warta Kota, Rabu, 28 September 2011 –
Orang-orang tua yang pernah merasakan hidup di zaman kolonial, pastilah pernah mendengar nama Pak Wongso (dalam foto-foto lama tertulis Pah Wongso). Wongso termasuk tokoh legendaris di daerah Pecinan.

Wongso adalah seorang keturunan Belanda. Pada masanya, tahun 1940-an, dia mendirikan panti sosial. Banyak anak kecil yang dianggap nakal oleh orangtuanya, dititipkan di kediamannya untuk dididik menjadi orang berguna. Setelah mendapat gemblengan Pak Wongso, biasanya mereka tumbuh jadi orang berhasil. Pak Wongso juga banyak memperhatikan orang terlantar. Mereka diperkenankan tinggal di rumahnya.

Menurut orang-orang tua di sekitar Pecinan, Wongso adalah seorang pedagang keliling. Dia biasa dagang mi dalam baskom besar menggunakan sepeda. Wongso pun memiliki bisnis lain, yakni rental kendaraan.

Selepas 1947, mungkin setelah Pak Wongso meninggal, panti sosial itu tidak terurus lagi. Rumahnya pun berpindah tangan, entah ke mana keluarganya menetap. Menurut kabar terakhir, salah seorang anaknya tinggal di Jember. Rumah Pak Wongso terletak di Jalan Blandongan sekarang, tetapi sejak beberapa tahun lalu sudah rata dengan tanah.

Bersebelahan dengan rumah Pak Wongso terdapat rumah tua bekas perkumpulan Tionghoa. Selepas G30S-PKI rumah itu disita pemerintah. Di Jalan Blandongan dan sekitarnya yang termasuk Kecamatan Tambora, beberapa tahun lalu masih terdapat beberapa rumah berarsitektur China. Rumah-rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1770-an hingga abad ke-19 setelah peristiwa Pemberontakan China 1740. Keberadaan bangunan itu mengukuhkan adanya permukiman khusus untuk etnis China yang menjadi mitra Belanda. Dengan demikian memperkaya khasanah arsitektur bangunan di Provinsi DKI Jakarta. Bangunan tersebut masih asli, utuh, tetapi dalam keadaan kurang terawat.

Sayang karena ketidaktahuan pemilik dan kemasabodohan pemerintah, beberapa bangunan sudah berganti wajah. Arsitektur lamanya tidak kelihatan lagi sehingga kita kehilangan jejak masa lalu. Padahal menurut Undang-undang tentang Cagar Budaya, merusak bangunan merupakan tindak pidana.

Menurut feng shui (ilmu tata letak bangunan asal China), wilayah Jakarta Barat dipercaya merupakan tempat terbaik untuk lokasi Pecinan karena dianggap berada di area “kepala naga”. Karena itu pusat perdagangan dan permukiman berada di wilayah ini.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Biang Keladi Kerusuhan dan Kehancuran Batavia

Biang Keladi Kerusuhan dan Kehancuran Batavia

dari: Warta Kota September 2009

Di Batavia periode 1680 sampai 1720 sebuah lahan luas dibuka di Ommelanden (kawasan di sekitar Batavia). Di sinilah terlihat bagaimana kuli-kuli Tionghoa sangat membantu perkembangan perkebunan di Ommelanden. Hutan-hutan dibabat, lahan untuk ladang menanam padi disediakan, lahan untuk menunjang budi daya gula disiapkan. Dari sinilah pula kisah kerusakan lingkungan alam Batavia dimulai.

Warga Tionghoa, para kapitan, bersama pengusaha dan kuli merupakan inisiator utama yang menentukan perkembangan industri gula di Ommelanden itu. Pelopornya adalah Jan Con yang bisa memproduksi gula dalam jumlah besar. Meski akhirnya produksi gula Jan Con merosot akibat faktor alam atau pencurian.Jan Con, begitu tertulis dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 10, tidak sendiri.Kapitan China Poa Beng Gan/Phoa Bingham/Phoa Beng Gam juga memiliki perkebunan tebu yang luas di Tanahabang. Penggalian Binghamgracht atau kanal Molenvliet bertujuan, salah satunya, untuk menghubungkan kebun tebu di Tanahabang dengan Batavia.

Lim Keenqua, Kapitan Que Boqua, dan Kapitan Nie Hoe Kong adalah sederet warga Tionghoa lain yang punya pabrik gula. Nie Hoe Kong bahkan mewarisi 14 penggilingan gula milik ayahnya.

Tahun 1730-an, industri gula di Batavia mengalami masa suram karena harga gula di pasar internasional merosot. Buntutnya, pabrik gula di Ommelanden banyak yang tutup, ribuan buruh Tionghoa di-PHK. Timbul masalah sosial hingga terjadi pemberontakan sosial pada 1740 yang berakhir dengan pembunuhan massal warga Tionghoa oleh Belanda.

Kisah di Batavia itu berawal di tahun 1720-an ketika untung yang dipetik dari gula di daerah Ommelanden mulai melorot. Tanah perkebunan ini akhirnya kelelahan, di mana kayu bakar untuk tungku gula semakin berkurang. Intinya, budi daya ini ternyata berakhir dengan perusakan lingkungan di Ommelanden, membinasakan hutan, mencemari air, dan tanah daerah tropis karena pengelolaan yang sembarangan.

Leonard Blusse dalam Sejarah Bencana Ekologi: Kompeni Hindia Belanda dan Batavia (1619-1799) menyebutkan, daerah penghasil kayu kehilangan sebagain luas hutan untuk melindungi pabrik-pabrik gula yang memerlukan kayu bakar. Selain itu, pabrik-pabrik gula ini dibangun di dekat sungai sehingga mencemari air bersih yang mengalir ke Batavia.

Keresahan sosial dan kehancuran usaha pabrik gula di Batavia tahun 1740 itu sudah dimulai 1701 saat peneliti melakukan penelitian ke hulu sungai-sungai di Ommelanden karena terjadi pencemaran air ke seluruh kota dua tahun setelah Gunung Salak meletus. Mereka melihat bahwa hutan dari hulu Sungai Ciliwung sampai hilir di perkebunan tebu milik Cornelis Chastelein telah ludes ditebang.

Volume air Sungai Ciliwung yang mengalir ke Batavia juga menurun akibat banyaknya aliran air yang dibelokkan untuk irigasi. Kerusakan alam inilah yang mengakibatkan kondisi Batavia menjadi tidak sehat, kotor, dan jadi sarang penyakit. Di tahun 1808, Daendels pun akhirnya memindahkan pusat kota Batavia ke Weltevreden.