Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tentang Jakarta

Gedung keempat karya Cypers di Batavia

Gedung Cipta Niaga

  Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kalibesar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memabtul dari kumpulan air di Kalibesar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung itu adalah gedung ke empat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kalibesar persis di Jalan Kalibesar Timur.

Gedung Cipta Niaga (Tjipta Niaga) pada zaman Belanda disebut Rotterdam Internatio berlokasi Jalan Kali Besar Timur.  Gedung ini di bangun pada 1912. Bentuknya memanjang dari jalan kali besar timur hingga ke jalan pintu besar utara. Gedung Cipta Niaga awalnya milik perusahaan Intenationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam. Perusahaan ini merupakan satu dari lima perusahaan besar di Hindia Belanda, dikenal sebagai The big Five yang khususnya bergerak di bidang perbankan dan perkebunan.

Bangunan di sebelahnya, yaitu gedung G Kolff & Co, di sudut Jalan Kalibesar Timur III, dan Jalan Kalibesar Timur, juga menjadi milik PT Tjipta Niaga. Bangunan dari tahun 1860 ini adalah bekas toko buku pertama di Batavia. Kini bangunan ini juga kosong dan dalam kondisi buruk.[2]

Gedung Cipta Niaga (Rotterdam Internasio) di tahun 2011. Diakses dari www.kotatuaku.com, 26 November 2015.

Arsitektur Gedung

Gedung yang dirancang oleh Arsitek Ed Cuypers En Hulswitini mempunyai teras pada bagian barat, sedangkan sisi selatannya tak berteras. Lantai dasar gedung inni dulunya di gunakan kantor Rotterdamsche Lloyd (de llyod), sementara pintu masuk rotterdam Interantio ada di tengah – tengah dinding depan, menghadap jalan. Pintu – pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah.[3]

Semua dinding tembok di pasang di atas beton bertulang yang di bentuk dari pasir dan batu kapur. kedua lantai gedung dan semua pilar serta tangga utama di bangun dengan menggunakan beton bertulang.[4]

Tangga dan lobi atas dibuat mewah, dengan anak – anak tangga yang dilapisi bata keras yang diminyaki, sehingga tampak seperti marmer hitam yang di poles. Sementara lampu – lampu atas di lobi dihiasi kaca pada jendela, yang didalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota atau negara. Bangunan tua ini memang bergaya arsietktur Belanda.[5]

Saat nasionalisasi perusahaan – perusahaan milik Belanda, gedung Cipta Niaga ini diambil alih dan dijadikan aset PN Tjipta Niaga yang kemudian menjadi PT. Cipta Niaga. Kemewahan gedung Cipta Niaga di masa lalu itu adalah bukti kejayaan perekonomian Batavia.[6]

Kontor Asuransi

Gedun Tjipta Niagayang terletak di depan dari Cafe Batavia ini ternyata memiliki nama lain yaitu Koloniale Zee en Brand Assurantie.

Bangunan ini pernah menjadi kantor asuransi pada masa itu. Bangunan yang beralamat lengkap di Jalan Pintu Besar Nomor 5, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat ini punya arsitektur yang menarik.[7]

Gedung yang kurang lebih berusia 103 tahun itu memiliki gaya dutch style atau gaya Belanda. Karena bentuknya berupa bangunan deret seperti pada dutch townhouse, serta memiliki façade tertutup (tidak memiliki teras dan overstek atap yang sempit). Gaya Art Decot dapat terlihat pada hiasan profil di atas jendela lengkung dan pintu masuk membentuk semacam “kepala” pada jendela. Pada teralis besinya juga terdapat ornament berupa ukir-ukiran motif floral.

Tapi kini, bangunan ratusan tersebut sudah mulai usang. Dalam komplek gedung tersebut cat yang sudah mulai memudar dari putih hingga kekuningan. Dinding bangunan ditumbuhi lumut, serta pohon yang merambat mengelilingi sisa-sisa bangunan juga menghiasi bekas kantor asuransi tersebut.

Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian, sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.
Bangunan luas ini mempunyai teras pada bagian barat sedangkan pada sisi selatannya tidak berteras.Lantai dasar gedung ini digunakan kantor Rotterdamsche Llyoyd (de Lloyd). Di masa lalu, pintu masuk de Lloyd berada di sudut Kalibesar Timur dan Jalan Teh (kini Jalan Kalibesar Timur 4).Sedangkan pintu masuk Rotterdam Internatio ada di tengah-tengah dinding depan menghadap Jalan Teh. Pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang dibangun dari pasir batu kapur. Kedua lantai gedung tersebut dan semua pilar serta tangga utama dibangun dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan beton bertulang oleh subbiro Weltevreden dari “Hollandsche Maatschappij”.
Tangga dan lobi atas dibuat sedikit lebih mewah. Anak-anak tangga dilapisi dengan batu keras yang diminyaki yang sama seperti marmer hitam yang dipoles dan pemasoknya adalah Firma D Weegewijs di Amsterdam. Lampu-lampu atas di lobi dihiasi dengan kaca pada jendela timah yang di dalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota, atau negara sebagai dekorasi keseluruhannya dibuat oleh Firma Lindeman & Schooneveld di Amsterdam.Lonceng Pengiring Kematian
Warta Kota 27 Maret 2020. Pradaningrum Mijarto Soli Deo Gloria, demikian nama lonceng itu. Lonceng besar yang menggantung di atap menara stadhuis (balai kota) Batavia di sekitar abad ke 18 itu terkesan begitu mengerikan. Pasalnya, setiap kali lonceng itu berbunyi, itu pertanda ada tawanan, yang dinilai jahat oleh Pemerintah Belanda kala itu yang akan menemui ajal dihukum gantung.
Siang, beberapa hari lalu, Warta Kota mencoba naik ke menara yang kini jadi menara Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bagian menara memang tidak dibuka untuk umum karena kondisi atap gedung dan menara tak lagi memungkinkan dilewati banyak orang. Ruangan di menara di mana lonceng berada juga sempit. Untuk sampai di atas menara, orang harus melewati dua tangga yang curam.
Sampai di atas menara, Warta Kota menemukan sebuah alat penggerak kuno yang sudah lama tak terpakai. Pada alat itu menggantung semacam bandul. Lonceng yang terbilang kecil menempel di bagian atas. Di dekat lonceng ini ada besi yang dikaitkan dengan engkol. Jika engkol ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul lonceng.
Bunyinya tak sebanding dengan cerita-cerita masa lalu, di mana saat“Lonceng Kematian” ini berdentang, pertanda rakyat akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa menggantung pesakitan. Lonceng ini dibunyikan untuk memanggil warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung. Lonceng yang bertuliskan Soli Deo Gloria dari abad ke 18 itu terbuat dari besi dengan bentuk kokoh. Lonceng buatan tahun 1742 itu rasanya sudah tak jelas lagi keberadaannya. Di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, 1973, gedung bekas balai kota ini mengalami pemugaran besar-besaran. Tapi tak ada data yang menyebutkan bagian mana saja yang dipugar dan diganti dengan material baru.
Menurut arkeolog yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat, kemungkinan besar lonceng pun ikut diganti. “Lonceng yang sekarang kan kecil. Kemungkinan sudah mengalami perubahan sejak sebelum 1973. Tapi,bisa juga pada saat pemugaran besar tahun 1973,”ujarnya.
Dalam buku “Dari Stadhuis ke Museum”, Hans Bonke dan Anne Handojo menyebutkan tanggal 25 Januari 1707, Petronella Wilhelmina, putri Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704 – 1709), meletakkan batu pertama. Menara kecil dipasang di atas atap dan lonceng dipasang kembali di sisi bordes.
Dalam catatan lain, lonceng dibikin tahun 1742, itu artinya selama abad ke-18 saja sudah terjadi perubahan. Bisa jadi lonceng kematian dibikin setelah terjadi pembantaian orang China pada 1740. Eksekusi terakhir yang mengikutsrtakan lonceng kematian terjadi pada 1896. Tjoen Boen Tjeng dihukum gantung karena terlibat dalam penjarahan.
Buku ini juga mencatat, setelah tahun 1870 para juru foto dari Woodbury & Page yang membuat foto-foto pertama di Batavia menunjukkan bahwa bagian depan Stadhuis sudah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir. Sayangnya, perubahan yang terjadi di sepanjang abad ke-18, ke-19, hingga ke-20 itu tak banyak tercatat secara detail. 27 Maret 2010 Lukisan Kusni Kasdut di Katedral Warta Kota 18 Mei 2010
Pernah dengar nama Kusni Kasdut? Atau barangkali malah ada pembaca yang mengalami masa heboh Kusni Kasdut yang mencuri koleksi arca emas/permata di Museum Nasional sekitar setengah abad silam? Kusni Kasdut, atau kemudian menjadi Ignatius Kusni Kasdut, masuk dalam jajaran “Robin Hood” Indonesia periode setelah kemerdekaan , lebih tepatnya di masa awal Orde Baru. Kali ini saya belum akan membahas kisah penjahat legendaris itu lebih dalam. Tapi jika ada yang penasaran melihat hasil karya seni Kusni Kasdut berupa lukisan Gereja Katedral dari batang pohon pisang (gedebog), bisa mampir ke Museum Katedral di Gereja Katedral Jakarta.
Di Balkon Gereja Katedral itulah, lukisan tersebut berada. Ia dipamerkan bersama benda-benda koleksi gereja lainnya. Di bawah lukisan Kusni Kasdut itu diberi keterangan, lukisan dari batang pohon pisang itu dibikin Kusni Kasdut selama mendekam di penjara menjelang dieksekusi. Ia dibaptis di Penjara Cipinang pada 19 Desember 1968 dan dieksekusi beberapa tahun kemudian.
Lukisan Kusni itu tentu menjadikan nuansa museum itu berbeda. Pasalnya, isi museum itu kebanyakan adalah alat-alat ibadat, patung, buku, kasula (busana khas imam), serta benda-benda lain seperti vandel lambang gereja, alat mati raga, kaleng misi sebagai tempat menampung uang logam bagi karya misi pater-pater Yesuit di Indonesia.
Minggu (16/5),Museum Katedral menggelar “Open House Museum Katedral”. Siapapun yang ingin melihat, mengambil gambar gereja dan ornamennya baik dari luar maupun dalam, hingga ke balkon tempat museum berada, dipersilakan. Gratis, ada pemandu pula. Open house itu digelar sebulan sekali. Namun jika ingin melihat museum di luar acara open house bisa datang hari Senin, Rabu, dan Jumat tak lebih dari pukul 12.00.”Museum ini sempat ditutup selama 15 bulan karena gereja dipugar dan baru dibuka kembali pada 21 Maret 2010,” kata pejabat Humas Gereja Katedral Grace Tanus.
Museum Katedral diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris yang pernah menjadi pastor kepala di Katedral. Kurris-lah yang kemudian menempatkan benda-benda bersejarah koleksi gereja di balkon itu. Itu dimulai pada 1988, bersamaan dengan pemugaran gereja. Kemudian museum ini diresmikan pada 28 April 1991 oleh Julianus Kardinal Darmaatmadja SJ yang kala itu menjabat sebagai Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia sekaligus Uskup Agung Semarang. Selain koleksi lukisan batang pohon pisang karya Kusni Kasdut, museum ini juga memamerkan Patung Bunda Maria Berkonde yang diapit sepasang perempuan dan pria Jawa dalam posisi sedang menyembah. Ketiga patung itu dibikin oleh Pater Reksaatmadja,SJ sekitar tahun 1930 saat ia belajar Ilmu Ketuhanan di Belanda, Mitra (topi ibadat) dan Tongkat Gembala Paus Paulus VI yang diberikan kepada umat di Indonesia dalam kunjungannya tahun 1970 juga ikut dipamerkan. Demikian pula dengan Piala, Patena dan Kasula Paus Yohannes Paulus II yang diberikan kepada umat Katolik di Indonesia saat ia berkunjung tahun 1989.

Gedung Tjipta Niaga memang menjadi salah satu dari daftar cagar budaya puluhan bangunan di kawasan Kota Tua yang akan direvitalisasi.

Sejarah kali Ciliwung Jakarta

JAKARTA mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang mempunyai paling banyak sungai, yang membelah-belah wilayahnya dari selatan ke utara. Menurut perhitungan secara kasar, paling tidak ada 6-7 sungai. Di arah barat terbentang Kali Angke, Kali Krukut, Kali Grogol. Di tengah-tengah kota mengalir Kali Ciliwung. Di bagian timur kita menemukan Kali Gunungsahari dan Kali Sunter. Ada lagi Kali Besar yang menampung air Kali Krukut di ujung barat Jalan Pancoran (Medan Glodok) selewat jembatan Toko Tiga, Jakarta Kota dan membawanya terus mengalir ke arah barat, untuk akhirnya membelok ke utara.

Belum lagi anak sungai, terusan atau parit lebar yang menghubungkan aliran sungai yang satu dengan yang lain. Orang awam bisa pusing kalau mau menghitung atau menelusurinya satu demi satu.

Tempo doeloe jumlah itu lebih banyak lagi. Khususnya di bagian utara kota, yang oleh orang Belanda dinamakan beneden stad atau kota bawah, yakni daerah Mangga Besar ke arah utara. Kali Ciliwung yang mengalir lurus bagaikan garis mistar, membelok ke timur setibanya di seberang jalan Labu di Hayam Wuruk dan menumpahkan aimya ke Kali Tangki di sisi jalan tersebut.

Aliran Ciliwung itu pun masih terus lagi ke utara, menyusuri sisi timur Medan Glodok dan baru membelok ke timur setelah melewati gedung bioskop Pelangi, yang kemudian menjadi gedung pertokoan Harco. Sebagian lagi menumpahkan air ke Kali Besar yang pada masa itu. membentang dari timur ke barat, menyusuri jalan Pancoran (di seberang Glodok Building sekarang) sampai melewati jembatan Toko Tiga yang disebutkan di atas. Bagian Kali Besar yang menyusuri jalan Pancoran kini sudah tidak ada lagi, mungkin telah menjadi riol tertutup.

Mendiang ayah saya sering berceritera, bahwa semasa hidupnya sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, tepat di tengah-tengah jalan Kongsi Besar sepanjang jalur jalan yang kini menjadi lokasi kios-kios, pun dialiri sebuah sungai, Di masa remaja saya, kali di Kongsi Besar itu. sudah tidak ada. Hanya tinggal palang-palang pipa besi bergaris tengah kurang lebih 10 sentimeter, yang dulunya memagari kedua sisi sungai. Sungainya sendiri sudah menjadi lapangan tempat bermain anak-anak, terutama di sore hari.

Pada tahun 1944-1945 (zaman jepang) palang-palang itu dibongkar jepang bersama dengan palang palang serupa yang memagari seluruh tepi Kali Ciliwung. Konon semua palang itu diangkut ke jepang, karena industri perang jepang pada masa itu kekurangan bahan baku besi.

Kali Ciliwung diperjual belikan

Jumlah Kali-kali di Jakarta mencatat rekor di masa kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC atau Kompeni di mulut rakyat). Orang Belanda pada masa itu sangat gemar menggali Kali-kali buatan yang mereka namakan gracht (jamak: grachten). Konon karena mereka rindu akan kota Amsterdam di negara asal mereka yang sampai kini masih terbelah-belah oleh banyak grachten.

Sementara itu ada juga kali yang dibuat pihak swasta dengan seizin Kompeni, bukan atas dasar rasa rindu tadi, melainkan demi pertimbangan komersial-ekonomis. Kali-kali atau grachten itu menghubungkan aliran sungai-sungai alamiah yang satu dengan yang lain. Sungai-sungai itu. merupakan sarana utama bagi angkutan barang-barang dagangan. Banyak sampan pengangkut barang-barang itu ‘potong kompas’ agar lebih cepat tiba di tempat tujuan. Dalam hal demikian, mereka memasuki kali-kali buatan tadi dan oleh pemiliknya (pembuat kali-kali itu) sampan-sampan tersebut diharuskan membayar tol. Tidak berbeda dengan keadaan sekarang, kalau kendaraan bermotor melewati jalan tol.

Bagian Kali Ciliwung yang lurus dari Harmoni ke utara, dulunya kali swasta dengan aturan bayar tol kalau melaluinya. Kali yang oleh orang Belanda dinamakan Molenvliet itu dibuat oleh kepala warga Cina (kapitein der Chinezen) di Betawi, Phoa Bing Ham. Orang Belanda menamakannya Bingam. Pada tahun 1648 Bingam mendapat izin dari Kompeni untuk membuat Kali tersebut dan memungut tol dari sampan-sampan yang lewat di sana.

Pada tahun 1654 Molenvliet diambil alih Kompeni dengan harga 1.000 real. Bingam, melepaskannya karena eksploatasinya tidak lagi menguntungkan, sehubungan dengan penggalian terusan-terusan baru oleh Kompeni sendiri.

Sampai pecah Perang Dunia 11, sejumlah jalan tertentu di bagian utara kota dikenal sebagai Amsterdamschegracht (kini jalan Tongkol), Leeuwinnegracht (kini jalan Cengkeh), Groenegracht (kini Jalan Kali Besar Timur Ill) dan sebagamya. Hal itu menunjukkan bahwa pada zaman Kompeni, di sana terbentang Kali-kali buatan.

Pancoran: Pemasok Air Minum

Di samping berfungsi sebagai sarana penanggulangan banjir dan angkutan barang, sungai-sungai itu “tempo doeloe” juga menjadi sumber air minum utama bagi warga kota. Sampai abad ke-19 air Kali Ciliwung dipergunakan oleh orang-orang Belanda di Betawi sebagai air minum. Air kali itu mula-mula ditampung (dalam semacam waduk waterplaats atau aquada). Lokasi waduk itu semula dibangun dekat benteng Jacatra di bagian utara kota kemudian dipindahkan ke tepi Molenvliet sekitar daerah Medan Glodok yang sekarang.

Waduk air itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian kira-kira 10 kaki (kurang lebih 3 m). Kemudian daerah sekita lokasi waduk dinamakan Pancuran, yang di lidah orang Betawi menjadi Pancoran. Dari sana air diangkut dengan perahu ole para penjual air (waterboeren) dan dijajakan ke kota.

Tampaknya pengertian masyarakat tentang higina dan kesehatan pada masa itu masih sangat terbatas. Air Kali Ciliwung itu diminum begitu saja tanpa proses penjernihan seperti yang sekarang dijalankan oleh PAM.

Hal itu sempat menimbulkan problem kesehatan yang serius pada masyarakat Belanda. Pada abad ke- 18 dan dasa warsa pertama abad ke-19 itu, penyakit disentri, typhus, bahkan juga kolera, merajalela di antara mereka. Sebagai penyebabnya disebut air Kali Ciliwung tadi.

Buku Dr. de Haan mengetengahkan bahwa tentang hal terakhir itu sempat timbul perbedaan pendapat di kalangan para ‘ahli’ Belanda. Ada ‘ahli’ yang menyatakan pada tahun 1648 bahwa air Ciliwung sangat baik (voortreffelljk). Mungkin memang demikian halnya selagi daerah-daerah di pinggiran kota, di arah hulu kali, masih penuh hutan tanpa penghuni. Ketika kemudian pembukaan hutan-hutan dan penggarapan tanah semakin meluas, dan pemukiman makin meningkat, air Kali pun semakin tercemar. Pada tahun 1689 seorang ‘ahli’ lain mencatat bahwa air yang keluar dari pancuran waduk di Pancoran sangat keruh, balikan berlumpur di musim hujan !

Sekitar tahun 1685 seorang ‘ahli’ lain lagi tegas-tegas mengatakan bahwa di dalam air itu terdapat binatang-binatang halus’ yang tak tampak mata (onzichtbare beesjes). ‘Binatang-binatang halus’ yang tentu tak lain dari kuman-kuman itu akan mati kalau. air dimasak sebelum diminum, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Hindoestanners (yang dimaksud tentu orang-orang India) dan orang-orang ‘pribumi’ lainnya.

Hal ini pada hakikatnya suatu petunjuk yang jelas bahwa kesehatan dapat terpelihara lebih baik jika orang minum air matang. Lebih-lebih karena pada tahun 1661 sudah ada laporan dari Banjarmasin bahwa orang-orang Belanda di sana menganut kebiasaan mengendapkan air minumnya satu hari dan kemudian memasaknya. Namun demikian orang-orang Belanda di Betawi masih belum yakin.

Teh dan Tempayan

Sementara itu seorang dokter bernama Thunberg menemukan kenyataan, bahwa orang-orang Cina di Betawi yang sehari-hari biasa minum teh, ternyata jarang atau tidak pernah dihinggapi penyakit-penyakit tersebut di atas. Thunberg berkesimpulan bahwa pencegahan penyakit itu bukan soal pemasakan air, tetapi khasiat daun teh!

Seorang ‘ahli’ terkemuka lebih hebat lagi pernyataannya. Air Ciliwung pada hakikatnya tidak seburuk yang dibayangkan orang, asal bisa melupakan sama sekali segala yang biasa dilemparkan ke dalam kali itu. Bayangkan, orang dianjurkan untuk menyingkirkan dari ingatan bahwa Ciliwung antara lain berfungsi sebagai jamban umum.

Anehnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang Belanda di Betawi untuk menggunakan sumur sebagai sumber air, minum. Padahal waktu itu sudah banyak rumah tinggal yang memiliki sumur. Air sumur pasti lebih jernih dan lebih bebas dari segala macam pencemaran daripada air kali, asalkan cara pembuatannya tepat dan seterusnya terpelihara dengan baik. Tetapi sumur yang sekaligus juga menampung air hujan, pada umumnya hanya dipergunakan untuk berbagai keperluan dapur saja.

Betapapun, akhirnya disadari juga bahwa kondisi air minum berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan. Pada hakikatnya antara abad ke-17 dan ke-19 sudah ada usaha-usaha menjernihkan air kali untuk air minum. Caranya sederhana saja. Air itu diendapkan dalam beberapa tempayan (matravan). Mulamula air diendapkan dalam tempayan pertama, lalu dipindatikan ke dalam tempayan kedua, ketiga dan seterusnya. Ketika masuk ke dalam tempayan terakhir, air sudah jernih. Tetapi apakah sekaligus sudah bebas kuman, masih merupakan tanda tanya.

Pada tahun 1811, ketika pecah perang antara negeri Belanda dan Inggris, diperkirakan bahwa tentara Inggris akan segera mendarat di Betawi. Pemerintah kota Betawi mengeluarkan perintah agar warga kota menghancurkan semua tempayan mereka, kecuali yang sangat diperlukan saja. Maksudnya supaya tentara Inggris tidak memperoleh. air minum bila mendarat di Betawi. Dengan demikian mereka akan terpaksa minum air kali dengan akibat akan kena sakit perut. Sejarah membuktikan bahwa siasat itu tidak efektif.

Cara penjernihan lain ialah dengan menyaring air di dalam leksteen, yakni semacam kendi dari keramik berbentuk tabung dengan keran di bawahnya. Di dalamnya terdapat ‘kendi tabung’ lagi yang lebih kecil, dari sejenis batu karang yang tembus air (poreus). Air dimasukkan ke tabung-dalam itu. Di sana air itu mengendap dan merembes ke tabung-luar yang lebih besar. Kalau keran dibuka, air yang mengucur dari sana jernih lagi sejuk rasanya.

Penggunaan tempayan untuk mengendapkan air minum, sekaligus tempat menyimpan persediaan air pun sudah tidak asing lagi bagi rakyat sebelum orang Barat ke sini. Kendi air juga sudah umum dipergunakan rakyat kita di masa ‘tempo doeloe’ sekali. Bedanya kendi dan tempayan-tempayan kita terbuat dari tanah liat.

Dikirim air dari Bogor

Sementara itu ada juga orang-orang Belanda Betawi yang tampaknya enggan minum air kali dalam keadaan yang sudah dijernihkan sekali pun. Buku Dr. de Haan menyebutkan bahwa sebagian orang Belanda biasa minum Seltzelwater, yakni air impor yang di masa itu sangat banyak didatangkan dari luar negri ke Betawi dengan nama ayer Belanda. Harganya mahal sekali: satu ringgit (rijksdaalder atau dua ratus lima puluh sen) per guci (kruik) kecil. Sudah barang tentu hanya orang-orang kayaraya saja yang kuat membayarnya.

Orang-orang Belanda yang cukup kuat keuangannya mendatangkan air minum dari daerah Bogor (1773), yakni air sumber yang jernih. Konon gubernur jenderal Belanda pada masa itu juga menerima kiriman air sumber dari Lontho (Lontar, di belakang Bogor).

Sampai dengan dasa warsa ke-2 abad ke-20 ini, penggunaan air sumber untuk minum juga populer di kalangan rakyat Betawi. Semasa saya masili bocah yang suka berlarian di jalan dalam celana monyet, kampung tempat tinggal keluarga saya terkadang dikunjungi ‘gerobak tangki’ yang menjajakan air sumber dari Kampung Lima (entah di mana pula letak kampung itu).

Air itu dijual per kaleng minyak tanah. Ibu saya selalu membeli untuk menambah persediaan air minum kami (air hujan). Setiap kali turun hujan deras, almarhum ayah saya selalu menampung dan menyimpan sekaligus mengendapkan dalam sejumlah tempayan.

Tulisan Tanu Trh diambil buku BATAVIA “Kisah Jakarta Tempo Doeloe” terbitan Gramedia dalam Intisari, bulan Juni 1980.

Sumber Media Indonesia, Selasa, 3 September 1996.

Masa silam Trem /Tram di Jakarta

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Jakarta Tram

Tram yang digerakkan listrik, di daerah Senen

Asal usul nama tempat di Jakarta

Ancol di Jakarta Utara, yang kini menjadi tempat rekreasi dan pemukiman paling terkenal di tanah air. Ancol mengandung arti tanah rendah berpaya-paya. Dahulu, bila laut sedang pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Penguasa VOC menyebut kawasan tersebut Zoutelande (tanah asin). Sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada 1656.

 Angke, Jakarta Barat. Di sini kita menemukan masjid tua yang berusia hampir 300 tahun (dibangun pada 1714), yakni Masjid Al-Anwar. Kata Angke berasal dari bahasa Cina, ang, yang berarti darah, dan ke, yang artinya bangkai. Nama ini terkait peristiwa sejarah tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang Cina di Batavia. Ribuan warga Cina yang dibantai Belanda mayatnya dihanyutkan ke kali, yang kemudian menjadi kali dan kampung Angke. Sebelumnya, kampung itu bernama Kampung Bebek. Karena, orang Cina yang tinggal di situ senang beternak bebek.

Bendungan Hilir. Sesuai namanya, di tempat ini terdapat tempat penampungan air skala besar untuk membendung aliran sungai Pejompongan.

Blok A/M/S: sekitar tahun 50-an dimulai pembangunan kompleks perumahan baru di daerah Kebayoran. Untuk nomenklatur/penamaan diambil jalan pintas yaitu dengan blok, mulai A-S.

Cawang
Berasal dari nama seorang letnan melayu bernama Enci Awang yang bermukim di kawasan ini bersama pasukannya. Awang merupakan panggilan akrab dari Anwar. Lambat laun, Enci Awang lebih akrab dipanggil Cawang.

Grogol.
Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan.

Menteng
Berasal dari nama buah menteng yang banyak terdapat di daerah tersebut.

Lebak Bulus
Lebak berarti lembah dan bulus berarti kura – kura yang hidup di darat dan air tawar. Dahulu kala di kali grogol dan kali pesanggrahan yang mengalir melewati daerah ini ada banyak kura – kura.

Kampung Melayu
Pada abad ke 17, kawasan ini dijadikan tempat pemukiman orang – orang Melayu yang berasal dari Semenanjung Malaka,sekarang disebut Malaysia.

Kwitang 

Asal-mula nama Kwitang sampai kini masih memiliki beberapa versi. Versi pertama, nama Kwitang berasal dari nama seorang tuan tanah China yang kaya-raya di daerah tersebut. Saking kayanya, hampir semua tanah di daerah itu adalah milik si tuan tanah. Namanya Kwik Tang Kiam. Orang Betawi menyebut kampungnya si Kwi Tang. Kwik Tang Kiam punya anak tunggal. Ia dikenal suka berjudi dan mabuk. Maka, ketika Kwik Tang Kiam meninggal, anak tersebut menjual semua tanah kepada saudagar Arab. Hal ini menjawab kenapa akhirnya banyak orang Arab tinggal di Kwitang.

Versi kedua, versi David Kwa yang mengatakan bahwa Kwitang berasal dari frase “guidang” (dibaca KuiTang), yakni nama provinsi Guangdong dalam lafal Hokkian logat Ciangciu/Zhangzhou, logat Hokkian yang paling banyak dipakai di Jawa. Dalam logat Emui/Xiamen, lafalnya adalah Gngdang. David Kwa sendiri tidak percaya kalau Kwitang berasal dari nama Kwik Tang Kiam. Alasannya , di Batavia dan Jawa Barat, tidak ada marga Kwik. Yang ada adalah Kwee, misalnya Luitenant der Chineezen Kwee Hoen Khoa/Guo Xun Guan, yang menurut Khaij Pa Lek Taij Soe Kie (Sejarah Pembangunan Batavia), merupakan pendiri Kelenteng Kim Tek Ie pada 1650. Marga Kwik adanya di Jawa Tengah, Kwik Kian Gie, misalnya, yang keluarganya berasal dari Lasem (PCMIIW) yang pindah ke Semarang.

Senayan
Kawasan ini dalam peta terbitan Topographisch Batavia 1902, ditulis Wangsanajan atau Wangsanayan setelah ejaanya disempurnakan. Wangsanayan berarti tanah tempat tinggal atau tanak milik seseorang bernama Wangsanayan. Kata Wangsanayan akhirnya menjadi Senayan.

Petojo
Pada tahun 1663, orang – orang Bugis diberi hak pakai kawasan ini. Mereka lantas menyebut daerah ini dengan nama tuan tanah yaitu Aru Petuju.

Glodok
Berasal dari kata Grojok yaitu suara air pancuran yang jatuh ke dasarnya. Pada zaman dulu di daerah ini terdapat waduk tempat menampung air dari kali Ciliwung yang dikucurkan dari pancuran kayu. Orang – orang Tionghoa tidak bisa meyebut kata Grojok dengan benar, akhirnya disebutlah Glodok. Versi lain menyebut bahwa nama Glodok berasal dari jembatan Glodok yang melintasi Kali Besar ( Ciliwung ), disebut Glodok karena di ujung jembatan terdapat tangga – tangga tempat mandi dan mencuci. Dalam bahasa sunda, tangga – tangga itu disebut Glodok.

Gondangdia
Ada 2 versi asal usul nama Gondangdia :
1. Berasal dari pohon Gondang, yaitu sejenis pohon beringin yang tumbuh di tanah basah dan berair. Kemungkinan ada di kawasan ini.
2. Berasal dari binatang air sejenis keong gondang berarti keong besar, yang banyak terdapat keong besar di kawasan tersebut.

Karet Tengsin
Merupakan nama kampung yang ada disekitar tanah abang. Karet tengsin berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati bernama Tang Ten Sien, Dia dikenal orang karena kedermawanannya. Kebetulan di daerah itu juga banyak tumbuh pohon karet jadilah Karet Tengsin.

Kemayoran
Asal dari pangkat mayor yang dipegang Isaac De Saint Martin. Lelaki asal Perancis yang membangkitkan dirinya untuk berperang bersama VOC.

Kebayoran
Berasal dari kata kebayuran yang berarti tempat penimbunan kayu bayur. Kayu bayur dikenal sangat baik digunakan untuk dijadikan bangunan karena tahan rayap.

Krukut
1. Dari sindiran yang diberikan untuk orang yang sangat hemat alias pelit alias krokot. Sindiran ini diberikan orang Betawi pada orang Arab yang tinggal di kawasan tersebut.
2. Krukut berasal dari kata Belanda, kherkof yang berarti kuburan. Dulu kawasan ini jadi kuburan orang – orang Betawi.

Pancoran
Asal kata dari pancuran. Tahun 1970 ditempat tersebut ada waduk atau tempat penampungan air dari kali Ciliwung. Di waduk ini ada 2 pancuran yang mengucurkan air dari ketinggian sekitar 10 kaki.

Pasar baru
Disebut pasar baru karena pasar yang terakhir jadi setelah lingkungan di sekitar nya dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels.

Pasar rumput
Dahulu kala terdapat banyak pedagang rumput pribumi yang mangkal di kawasan tersebut. Mereka dilarang masuk ke pemukiman elit menteng. Di menteng itu terdapat masyarakat menteng yang memelihara kuda untuk transportasi.

Pluit
Berasal dari kata Belanda, fluitschip, yang berarti kapal layar panjang yang ramping. Alkisah tahun 1660, diletakkan sebuat fluitschip tak terpakai bernama Hett Witte Paert yang sudah tidak layak pakai. Kapal ini dijadikan kubu pertahanan untuk membantu benteng Vijhoek.

Pondok Gede
Terdapat sebuah bangunan besar yang disebut Landhuis. Bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus usaha pertanian dan peternakan. Landhuis adalah satu – satunya bangunan yang ada disitu dan sering disebut orang setempat sebagai pondok gede.

Ragunan
Alkisah ada tuan tanah pertama di kawasan ini yang bernama Hendrik Luzaasz Cardeel.Dia lantas berganti nama menjadi Kiai Aria Wiraguna. Wiraguna dimintai bantuan oleh Sultan Haji yang saat itu tengah melakukan perebutan tahta dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Hendrik berhasil memenangkan pertarungan itu sehingga dianugrahi gelar pangeran Wiraguna Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa. yang kemudian menjadi asal usul nama Ragunan.

Senayan.Nama Senayan berasal dari keadaan wilayahnya pada masa lampau. Pada peta yang diterbitkan Topographische Bureau, Batavia pada 1902, kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Pondok Gede.
Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede”

Jalan Haji Nawi 

 Jalan Haji Nawi, diambil dari orang terkaya di Gandaria

Makam Haji Nawi. Vany ©2013 Merdeka.com

Haji Nawi sendiri adalah seorang tokoh masyarakat yang sangat tersohor pada zamannya. Dia merupakan tuan tanah yang paling kaya se-Gandaria. Haji Nawi lahir di Jakarta pada tahun 1877 dan meninggal dunia di tahun 1934. Makamnya saat ini berada di Masjid Nurul Huda yang merupakan tanah wakaf keluarga dan letaknya di Jalan Haji Nawi.
Semasa Haji Nawi hidup, masjid tersebut sangat terkenal. Bisa dibilang di zaman Haji Nawi adalah zaman keemasan Masjid Nurul Huda. Banyak sekali masyarakat dari berbagai penjuru datang ke masjid tersebut.
Haji Nawi memiliki tujuh orang anak dari hasil pernikahannya dengan empat orang istri. Di antaranya, Haji Raya, Haji Zainudin, Haji Pentul, Haji Syaip, Haji Saleh, HJ. Hasanah, dan Hj Fatimah. Semua nama tersebut juga dijadikan sebagai nama jalan.

 

Bangunan tradisional Tionghoa di Jakarta tempo dulu

 

 

Kelana Kota Tua Jakarta, sub bagian: Pecinan Jakarta  .

Contoh kasus:
Gedung Candranaya lama (kiri) dan kanan Gedung Candranaya kini
Lokasi sekitar gedung dibangun Property megah, Candranaya nyaris dipindahkan
kini gedung Candranaya terjepit kompleks hotel apartemen megah

Dalam foto sekitar satu abad lalu, benteng berupa pintu kecil untuk masuk kota Batavia sudah tidak tampak lagi. Di samping pintu kecil, VOC juga dibangun Pintu Besar, yang sampai kini keduanya baik Pintu Kecil dan Pintu Besar menjadi nama jalan raya di Jakarta Kota.

Seperti Pintu Besar Utara (zaman Belanda disebut Binen Nieuwpoort Straat) dan Pintu Besar Selatan (Buiten Nieuwpoort Straat) adalah pintu keluar masuk ke benteng Batavia dari arah selatan lebih besar dari pintu kecil. Belanda membangun pintu kecil pada 1638 dan pintu besar tujuh tahun sebelumnya (1631). Kedua pintu pertahanan ini ditutup menjelang malam hari untuk mencegah kemungkinan serangan dari balatentara Banten dan Mataram. Dalam foto terlihat jembatan yang menghubungkan Jl Pintu Kecil-Jl Toko Tiga-Pintu Besar yang sudah diberi beton.Sedang jalannya sudah beraspal. Di atas jembatan terlihat sebuah sado atau delman tengah melintas. Di Kali Krukut yang kala itu masih lebar tampak sebuah perahu membawa barang dagangan. Kala itu angkutan di Jakarta di dominasi oleh perahu dan kendaraan berkuda. Rumahrumah yang terletak di tepi sungai Krukut, tampak seperti layaknya rumah-rumah di negeri leluhur mereka. Rumah tradisional dengan atap gentengnya yang di bagian atas agak runcing, kini sudah hampir hilang di kawasan Pecinan alias Glodok.

Jl Pintu Kecil, Jl Pintu Besar dan Jl Toko Tiga hingga kini tetap merupakan kawasan komersial yang penting di Glodok. Daerah ini sejak abad ke-18 oleh Belanda dijadikan daerah hunian untuk para pedagang Tionghoa dan sekaligus sebagai rumah tinggal. Dahulu Jl Toko Tiga, orang Tionghoa menyebutnya Sha Keng Tho Kho.

Pada pertengahan abad ke-19 di kawasan ini hidup Oey Tambahsia, seorang pendatang (banyak yang mengatakan berasal dari Pekalongan-Jawa Tengah). Dia mendapatkan warisan yang sangat banyak untuk ukuran saat itu. Dengan wajahnya yang tampan dan masih muda belia dia menghambur-hamburkan uangnya di meja judi dan pelacuran.

Untuk memuaskan nafsunya, play boy ini menggunakan uangnya untuk menggaet wanita, tidak peduli istri orang. Terhadap pesaing-pesaingnya ia menjadi pembunuh berdarah dingin. Memelihara sejumlah selir yang ditempatkan di tempat pelesiran Ancol, Jakarta . Dia dihukum mati penjajah Belanda dengan digantung di alun-alun Stadhuis (Balai Kota) – kini Museum Sejarah DKI Jakarta Fatahillah. Dia mati dalam usia 31 tahun meninggalkan seorang balita. ..

Pintu Kecil
Pintu Kecil atau Kleine Poort, bagian dari kawasan Pancoran Glodok, adalah akses masuk dan keluar dari tembok Kota Batavia. Pintu itu ada di sisi selatan tembok kota dibangun pada tahun 1638, yang kemudian pada 1657 tembok itu dibangun menggunakan batu. Saat ini kawasan pintu Kecil sudah didominasi pertokoan dan Ruko sehingga sisa bangunan bergaya China di Pintu Kecil sangat sedikit1910

Pintu Kecil tahun 1910

1930

Pintu Kecil di Tahun 1930Kini

Pintu Kecil Sekarang

BANGUNAN KUNO JAKARTA

Sisi Kali Besar Jakarta
Foto tahun 2006
 

Ketika becak masih jadi penduduk di Jakarta

Ketika Becak Masih Penduduk Jakarta
Last Updated on Saturday, 22 September 2012 04:36
Becak di Beos

Jakarta
Becak, konon pertama kalinya didatangkan pedagang China, dari negara indochina seperti Laos dan Vietnam. Becak merupakan salah satu pengaruh negara-negara indochina di Indonesia, pengaruh lainnya adalah sarung dan peci bagi kaum pria masa lalu, juga abuah labu siam.

Becak dari Vietnam

Becak Vietnam asli

Museum Fatahilah Jakarta

 

MUSEUM FATAHILLAH

 

Staadhuis -masa kolonial Belanda
Gambar gedung Museum Fatahillah saat masih merupakan Balai Kota Batavia, tahun 1770

Staadhuis -kini menjadi Museum Fatahillah

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Sejarah
Dibangun pada tahun 1620 (abad ke-17) dimasa pemerintahan Gubernur Jendral Jan Pieters Zoon Coen (VOC) sebagai Balaikota. Kemudian bangunaan ini digunakan secara bergantian antara lain; Pada masa pendudukan Jepang tahun 1925-1942 dipergunakan sebagai kantor provinsi Jawa Barat. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 digunakan sebagai markas KEMPETAI DAI NIPPON (Markas Angkatan Laut Jepang).

Pada Tahun 1945-1963 digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Tahun 1964-1972 digunakan sebagai Markas TNI, kemudian dijadikan Markas KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1972 diserahkan ke pemerintah Daerah DKI Jakarta, tahun 1973 dipugar dan pada tanggal 30 maret 1974 diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta.
Nama lain dari museum ini adalah Museum Fatahillah.

Vue de la ville de Batavia 1780
Lukisan Batavia di Tahun 1780
Sejarah
Dibangun pada tahun 1620 (abad ke-17) dimasa pemerintahan Gubernur Jendral Jan Pieters Zoon Coen (VOC) sebagai Balaikota. Kemudian bangunaan ini digunakan secara bergantian antara lain; Pada masa pendudukan Jepang tahun 1925-1942 dipergunakan sebagai kantor provinsi Jawa Barat.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 digunakan sebagai markas KEMPETAI DAI NIPPON (Markas Angkatan Laut Jepang). Pada Tahun 1945-1963 digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Tahun 1964-1972 digunakan sebagai Markas TNI, kemudian dijadikan Markas KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1972 diserahkan ke pemerintah Daerah DKI Jakarta, tahun 1973 dipugar dan pada tanggal 30 maret 1974 diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Arsitektur

Arsitektur bangunan abad ke-17 ini bergaya Klasisme dan Closed Dutch atau biasa disebut Barok klasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.

Atap bangunan berbentuk limasan dengan penunjuk arah mata angin

Jenis ornament yang ada pada bangunan merupakan gaya klasik colonial Belanda yang sesuai dengan zamannya dimasa itu.Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi dengan bentuk persegi panjang. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua. Ciri khas lain, tulisan Gouvernourskantoor di bagian depan

Sampai Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang China, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Batavia
Pieter Both yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, lebih memilih Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan Banten, karena pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.

Sumber:dari berbagai sumber

.

 

 

 

Lukisan Stadhuis Batavia
Lukisan Stadhuis
Sumber Foto: www.id.wikipedia.org

Penunjuk Mata Angin
Penunjuk Arah Angin pada Atap

Atap
Initial:Ciri khas lain, tulisan Gouvernourskantoor
(Kantor Gubernur) di bagian depan>

INFO BATAVIA

 
 

Catatan Jakarta Dari Masa ke Masa

Gambar Jakarta tempo doeloe

 

Selengkapnya

 

Kawasan Beos 1972Kawasan Beos, Jakarta Kota tahun 1972
Bioskop City, 1970