Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tentang Semarang

Nama jalan dan tempat di Semarang yang unik dan menarik

Jembatan Berok. Jembatan ini tidak sebesar jembatan Ampera, apalagi Jembatan Suramadu. Sangat pendek, namun sangat terkenal. Melintasi kali Semarang. Konon, nama berok berasal dari kata Belanda  “Burg” yang artinya jembatan. Lidah orang Semarang tempo dulu sulit mengucapkan burg, jadilah brok, lalu menjadi berok seperti yang sudah kita kenal ini.

Cap Kau King (Tjap Khauw Khing) adalah nama sepenggal ruas jalan di Jalan Wotgandul Timur. Tidak banyak yang tahu mengapa dahulu jalan itu dinamakan demikian. Ada dua versi tentang penamaan Cap Kau King. Versi pertama mengatakan bahwa nama Cap Kau King adalah nama  seorang tokoh Tionghoa di jaman Belanda. Pendapat ini kurang dipercaya, mengingat marga “Cap” bukanlah marga yang umum di kalangan Tionghoa saat itu. Versi kedua mengatakan bahwa Cap Kau King berasal dari bahasa Hokian yang artinya “Sembilan belas petak”.

Pendrikan. Nama pendrikan konon berasal dari nama Belanda, yaitu “Friedrich-an” , lagi-lagi lidah logat Jawa menyebabkan kata ini terpleset menjadi Pendrikan.

Kali Koping, kadang diucapkan jadi Kali Kuping. Adalah jalan di belakang jalan gang Pinggir.

Mranggen dari kata Meranggian

Nama-nama jalan yang diambil berdasarkan karakteristik : Jalan.Pedamaran: dahulu banyak orang berdagang damar (hasil getah pohon damar). Jagalan : ada tempat pemotongan hewan (Sapi, kambing dll), Telogo Bayem (di dekat jalan Pandanaran) karena dahulu berupa rawa-rawa dan banyak tanaman bayam.

Jalan yang diberi nama ikan, berada di dekat pantai ataupun pelabuhan, seperti Jalan Layur (dahulu Kampung Melayu), Jalan Kakap, Jalan Dorang, Jalan Petek, jalan Mujair. Banyak dari jalan daerah ini yang rob.

Jalan yang diberi nama burung, biasanya di daerah kota lama (sekitar Gereja Blenduk), seperti jalan Cenderawasih, Jalan Branjangan, jalan Kutilang.

Sedang nama-nama hewan darat banyak dipakai sebagai nama jalan di daerah Semarang Timur mulai dari Jalan Majapahit ke arah Mranggen, seperti jalan Zebra, jalan Kelinci, jalan Beruang.

Jalan dengan nama-nama gunung, berada di bagian “Semarang atas”, maksudnya sebelah selatan Semarang yang memang kontur tanahnya berbukit. Ada jalan Rinjani, jalan Muria, jalan Ungaran (menjuju Hotel Patrajasa), Jalan Dieng, jalan Bromo, jalan Kawi.

Dahulu ada sebuah ruas jalan di Ungaran, yang diberi nama Merakmati. Arti Merakmati bisa berarti “burung Merak yang mati” ataupun dalam bahasa Jawa “Moro/mendatangi kematian”. Secara kebetulan, di ruas jalan ini sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian.Nama ini kemudian diganti menjadi Jalan Soekarno-Hatta, karena banyaknya pihak keberatan dengan nama sebelumnya yang dinilai kurang baik artinya. Walaupun nama jalan raya sudah dirubah, tetapi nama desa masih menggunakan nama Merakmati.

Krajan, dari kata kerajaan (maksudnya tempat dimana kepala desa bertempat tinggal) banyak dipakai di belakang suatu nama tempat , misal Genuk Krajan, Wonodri Krajan, desa Krajan.

Milo, suatu istilah bagi tempat di sudut jalan perempatan jalan Dr.Cipto – Majapahit. Orang menyebut Milo karena dahulu di jaman Belanda di situ terdapat sekolah MULO ( diucapkan Milo).

Sang Pendiri Memilih Zuhud

TEMPO DOELOE

Sang Pendiri Memilih Zuhud

DAHULU Kota Semarang merupakan dataran lumpur. Maklum, posisinya berada di kawasan pantai utara Jawa. Banyak pendatang yang mencari penghidupan dan menetap di sini, termasuk Pangeran Made Pandan dari Kerajaan Islam Demak Bintoro. Ia datang bersama puteranya, Raden Pandan Arang. Keduanya membuka hutan, kemudian mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam.

Daerah ini dikenal subur. Banyak pepohonan tumbuh di kota ini, termasuk pohon asam arang (asem arang). Dari pohon inilah daerah tersebut kemudian dinamakan Semarang. Pandan Arang menjadi kepala daerah ini, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Setelah dia wafat, posisinya sebagai kepala daerah digantikan oleh puteranya, Pandan Arang II.

Di bawah kepemimpinannya, Semarang mengalami pertumbuhan yang makin pesat. Sultan Pajang Hadiwijaya pun tertarik, lalu menetapkan Semarang setingkat dengan kabupaten. Setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga, Sultan Pajang menobatkan Pandan Arang II sebagai bupati pertama Semarang. Prosesi penobatan ini berlangsung pada 12 Rabiulawal 954 Hijriyah, atau 2 Mei 1547.

Dengan alasan itulah, maka 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Semarang. Meski mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya, Pandan Arang II memilih zuhud: mengundurkan diri dari kehidupan duniawi yang dinilai materialistis. la meninggalkan jabatan bupati, sekaligus daerah yang dicintainya, menuju Bukit Jabakat di Klaten. Tokoh yang kemudian dikenal sebagai Sunan Tembayat ini wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Bukti Jabalkat.

Sepeninggal beliau, jabatan bupati Semarang diemban Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586). Tercatat 19 bupati sesudah itu, sampai Indonesia merdeka. Setelah Belanda mengakui wilayah kedaulatan RI, jabatan bupati dipercayakan kepada Sumardjito (hingga 1952) dan R Oetoyo Koesoemo (1952-1956).

Kabupaten dan Kota

Tapi yang disebut terakhir ini sudah tidak lagi mengurusi wilayah kota, melainkan kawasan luar Kota Semarang. Berdasarkan UU No 13/1950, Kota Semarang ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Semarang, dengan kantor di Kanjengan. Uniknya, Kota Semarang juga mempunyai pemerintahan sendiri. Baru pada 20 Desember 1983, ibu kota kabupaten dipindah ke Ungaran.

Kota Lama

Pada abad 18, Kota Semarang memiliki kawasan perdagangan yang sangat ramai, yaitu Outstadt, yang sekarang dikenal sebagai Kawasan Kota Lama. Untuk mengamankan warga dan wilayah seluas 31 ha ini, dibangunlah benteng segi lima (Vijhoek) di kawasan tersebut. Untuk mempercepat jalur perhubungan di ketiga pintu gerbang benteng, dibuat jalan-jalan perhubungan yang jalan utamanya disebut Heeren straat (kini Jl Letjen Soeprapto).

Saat ini hanya tersisa satu pintu benteng, yaitu de Zuider Por (jembatan Berok) yang dibangun pada tahun 1705. Nama jembatan ini sempat diubah jadi Gouvernementsbrug, karena lokasinya berdekatan balai kota (kini jadi Gedung Keuangan; dekat Kantor Pos).

Anda tak perlu bertanya, mengapa sekarang dinamakan jembatan Berok. Jawabannya sederhana. Wong Semarang sulit mengucapkan kata burg (jembatan), sehingga dieja jadi berok. (32)

Suara Merdeka  2 Mei 2006

Mengenang Perguruan Nasional Nusaputera Semarang

Perguruan Nasional Nusaputera, dahulu bernama TiongHoa KongHak terletak di jalan Ki Mangunsarkoro 54 Semarang.

Nusaputera
Tampak samping Gedung Perguruan Nusaputera, tahun 2016
Nusaputera
Rencana Renovasi Sekolah Nusaputera

Even dan peristiwa di Semarang dan sekitarnya,era 1970-80’an

 

Even:

  • Festival Film Indonesia 1980
  • Semarang juga pernah  menjadi tuan rumah MTQ  Nasional tahun 1979, yang dibuka oleh Presiden Soeharto.Penulis teringat akan kelopak bunga raksasa yang menjadi salah satu maskot acara MTQ saat itu.

 

Menara Masjid selesai dibangun tahun 1990. GOR di bungkar tahun 1991 di ganti mall CL. Gambar di samping GOR sebelah timur ada Wisma Pancasila sekarang jadi matahari mall. samping selatan masjid masih tetap gedung Plasa simpang lima. itu bangun tahun 1980, dan Micky M. dibangun sekitar tahun 1978.

Pernah tahun 1977 simpang lima pernah dilanda banjir setinggi sekitar 90 cm..

Pak Kelly juga mencipta dan mengaransemen lagu genre lain seperti pop dan jazz. Kelly Puspito lahir di Pati pada 27 Agustus 1930. Meski tak memiliki garis keturunan pemusik, bakatnya sangat besar. Ia memelajari musik secara autodidak. Pada awal 1950-an, dia direkrut sebagai pelatih Korps Musik Angkatan Darat Kodam VII Diponegoro. Tugasnya menyeleksi dan menggembleng para prajurit yang bertugas di korps tersebut. Kelly menjalani pekerjaan itu hingga 1996.

Setelah pensiun, Pak Kelly tetap menggeluti dunia musik. Atas dedikasinya yang tinggi, lelaki yang menguasai alat musik gitar, bas, dan kibor itu beroleh anugerah Budaya Bhakti Upapradana dari Gubernur Ismail pada 1990.

Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, Komunitas pencinta keroncong Semarang beberapa waktu lalu pernah menggelar perhelatan bertajuk ”Tribute to Kelly Puspito” di Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh.

Gedung-gedung dan fasilitas umum kota Semarang era tahun 70-80’an yang sudah tiada atau berubah fungsi

 

Gedung-gedung dan fasilitas umum kota Semarang era tahun 70-80’an yang sudah tiada atau berubah fungsi

Perubahan/pengalihan fungsi fasilitas kota di kota Semarang sejak tahun 1980-an , diantaranya sampai kini:

  • Folder (danau buatan) di depan Stasiun Tawang, dahulu sebelum tahun 90-an adalah lapangan rumput dengan beberapa baris kios pedagang barang bekas.
  • Kompleks Kanjengan, yaitu penguasa kota Semarang dibongkar dan dijadikan kompleks pertokoan dan perdagangan. Saat dibangun, sebuah bioskop sempat menjadi kebanggaan kota Semarang walaupun singkat usiannya, hanya sekitar 2 atau 3 tahun beroperasi, bioskop Kanjengan mangkrak dan hanya tinggal kenangan.
  • Terminal Jurnatan yang menjadi cikal bakal perkereta-apian Indonesia, pada sekitar tahun 1983 dibongkar dan kini menjadi kompleks pertokoan,perkantoran.
  • Pemakaman Kristen dan Tionghoa “Kerkhoff” di jalan pengapon, kini menjadi pasar, perumahan, pertokoan dan sebagian menjadi Sekolah Nasional KarangTuri.
  • Rumah Sakit Jiwa jalan Cendrawasih 27, dipindahkan ke jalan Majapahit.
  • Kolam renang di jalan Stadion (Seberang Stadion Diponegoro) sejak sekitar tahun 2000 an menjadi rumah makan.
  • Gelanggang Olah Raga (GOR) Simpang Lima, kebanggaan masyarakat Semarang yang dibangun di masa Gubernur Supardjo Rustam, telah menjadi Mall dan Hotel Citraland.
  • Pasar Kagok di Jalan Sultan Agung, sejak sekitar tahun 1997 -an dibongkar dan menjadi pertokoan dan Pujasera.
  • Bioskop “Gajahmada” dan perkantoran “SanggarFilm” di Simpang Lima, telah menjadi Ramayana Department Store & Supermarket.
  • SPBU Pandanaran, sejak sekitar tahun 2013-an  (tepatnya kurang jelas) kini difungsikan menjadi taman lingkungan
  • Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) di Jalan Pemuda dekat persimpangan jalan Tanjung- Jalan Thamrin, dialih fungsikan sebagai Paragon Mall. Dahulu di Gris terdapoat sebuah gedung bioskop, gedung pertunjukan wayang, dan di malam hari banayak penjual makanan bertenda.
  • Lapangan di jalan H.Agus Salim, telah menjadi Semarang Plaza.
  • Gedung Gula di jalan Jagalan. Sebagian telah menjadi pertokoan “Golden Gate”

Mengenang Semarang di era tahun 70-80’an

Pada sekitar tahun 79, sempat terbit majalah remaja MR di Semarang.Mungkin nama MR ini sngkatan “Majalah Remaja”? penulis tidak tahu, karena waktu itu penulis masih kelas 5 SD. Redaksinya ada di daerah Wonodri.Konten  berisi tema remaja saat itu seperti mode busana, cerpen, artikel populer.

Hiburan

Awal dasawarsa 1970-an, Semarang memiliki wisata pantai di daerah yang kini menjadi bagian dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kompleks hiburan ini bisa dicapai dari depan Mercusuar, ada beberapa kafe di sana saat itu, dan dermaga terbuat dari beton menjadi sarana bagi pengunjung menikmati suasana pantai, bahkan untuk memancing.Sejak awal 80-an, tempat ini tertutup bagi wisata dan hanya digunakan untuk fasilitas pelabuhan dan Angkatan Laut.

Taman Hiburan Diponegoro (THD) di Jalan H.Agus Salim (Jurnatan) adalah TamanRia-nya kota Semarang pada era 1960-1980 awal. Kini areal bekas THD telah menjadi kompleks pertokoan alat-alat teknik.Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jln.Sriwijaya dan Taman Lele.

Festival Film Indonesia tahun 1980. 

FFI yang berlangsung 22-27 April 1980 di Semarang. Suasana kota yang biasanya relatif tenang berubah hiruk-pikuk. Acara-acara penyemarak festival, seperti pawai artis, “Malam Sejuta Bintang”, pameran sinematek, pemutaran triler film-film unggulan di sejumlah gedung bioskop, serta malam penganugerahan Piala Citra selalu dipadati penonton.

Untuk mendapatkan undangan gratis “Malam Sejuta Bintang” di Gedung Olah Raga (GOR) Simpanglima, misalnya, orang rela antre berjam-jam. Mereka yang tak kebagian, nekat datang dengan undangan fotokopi. Melihat antusiasme warga yang luar biasa, Harian Suara Merdeka berinisiatif menyelenggarakan acara tambahan, yakni “Malam Sejuta Bintang” khusus pelajar.

Di luar hiruk-pikuk itu, perang bintang memperebutkan Piala Citra juga tak kalah seru. Ada 41 film produksi tahun 1979 yang ikut bertarung dalam ajang itu. Namun setelah diseleksi oleh dewan juri yang terdiri atas Mochtar Loebis, Dr Sudjoko, Trisutji Kamal, Dr Mulyono, Dr Tuty Heraty Noerhadi, DA Peransi, dan JB Kristanto, terpilih lima film cerita terbaik, yakni Harmonikaku, Kabut Sutera Ungu, Rembulan dan Matahari, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (YPRSJ), dan Perawan Desa.

Nominasi pemeran utama pria terbaik, yakni Deddy Hariadi (Si Pincang), Fachrul Rozy (Harmonikaku), Ryan Hidayat (Anna Maria), WD Mochtar (YPRSJ), dan Zainal Abidin (Si Pincang). Nominasi pemeran utama wanita terbaik diraih Farah Meuthia (YPRSJ), Ira Maya Sopha (Ira Maya si Anak Tiri), Yenny Rachman (Kabut Sutera Ungu/Romantika Remaja/Perawan Tanpa Dosa), Marini (Anna Maria), dan Nia Daniati (Antara Dia dan Aku). Adapun calon sutradara terbaik ditetapkan, Arifin C Noer (Harmonikaku/YPRSJ), Franky Rorimpandey (Perawan Desa), Hasmanan (Anna Maria), Sjumandjaja (Kabut Sutera Ungu), serta Slamet Rahardjo (Rembulan dan Matahari).

Pengumuman nominasi yang dilakukan pada hari ketiga penyelenggaraan FFI itu sempat menuai kontroversi. Pasalnya, Film Harmonikaku dan YPRSJ yang semula didaftarkan sebagai film noncerita, justru masuk menjadi nominasi film cerita. Soal ini, Mochtar Loebis menjawab singkat. “Juri menilai kedua film tersebut sebagai film cerita.” Kontroversi lain juga berpangkal pada ketidaklolosan sejumlah film yang sejak awal diunggulkan, terutama film yang mengusung semangat kultural-edukatif seperti Janur Kuning, serta film-film bergenre remaja yang saat itu tengah naik daun.

Di sekitar tahun 87, diskotik Stardust di daerah Permata Hijau menjadi maskot anak muda kota Semarang, sedangkan radio yang menyiarkan lagu-lagu disko ,yang terkenal adalah radio Veritas.Uniknya, para Disc Jockey (D.J) mengambil nama merek mobil-mobil mewah saatitu ,seperti Stanza, Audi dll.

Kebutuhan belanja 

Toko Mickey Morse di Depok menjadi perintis supermarket modern di kota Semarang.Keberadaan supermarket dan departemen store modern di kota Semarang memang sering dimulai dengan toko retail. Misalnya toko Sri Ratu di jalan Pemuda yang menjadi Sri Ratu Department Store, Toko Ada di jalan Peterongan dan Sugiyopranoto (bulu) yang menjadi Ada Department Store.

Rangkuman umum.

Ini adalah rangkuman peristiwa maupun situasi yang pernah terjadi di Semarang. Karena sebagian besar berasal dari ingatan ataupun catatan penulis, mungkin saja tanggal ataupun tempatnya kurang tepat, mohon koreksi dari pembaca yang mengerti.

Pada tahun 1970-an, industri jamu dan rokok masih mewarnai kota Semarang.Nama pabrik rokok seperti Gentong Gotri, Beras Tuton (rokok Nutu), Oepet Tambang, cap Pompa, Pak Tani adalah merek yang beken saat itu.Setiap kali penulis yang waktu itu masih kecil ,melewati daerah seperti Karang Saru, Karang Wulan, sering menghirup aroma bau cengkeh ataupun tembakau yang harum.

Sampai sekitar tahun 1978, pantai Semarang (sekitar Mercusuar) masih terbuka untuk wisata. Saat itu ,pengunjung masih bisa berekreasi pantai seperti memancing, atau sekedar berjalan-jalan di “batere” yaitu semacam pir beton penahan ombak. Bahkan sempat terdapat usaha klab malam dan kafe. Penulis masih ingat,salah satunya bernama “Hiu Kencana”.

Sedangkan hiburan bioskop, saat ini tidak ada satupun bioskop dari era tahun 1970-an yang masih bertahan.

Bioskop “Jagalan Theatre” di Jl.Jagalan (Kompleks Gedong Gulo), sampai tahun 1980-an.

Bioskop “Sri Indah” di Jalan Gajahmada (kini Honda) sampai tahun 1989.Bioskop Sri Indah ini dahulu lebih banyak memutar film Mandarin, stu putaran dengan Gelora Theatre di Jalan.MT Haryono  (kini menjadi kawasan ruko)

Bioskop “Gajah Mada Theatre” sampai tahun 199(?) kini menjadi Ramayana Department Store
Bioskop “Bahari” di Jl.Ki Mangun Sarkoro (Stadion), kemudian pada tahun 1990-an menjadi “Admiral” dan kini tinggal kenangan,menjadi sebuah restaurant.

Transportasi.

Teringat kondisi transportasi pada tahun 70-an, saat itu yang menjadi moda transportasi adalah bus dan bemo.Bagi kalangan anak muda yang pada jamannya sudah tidak ada bemo, bemo adalah sejenis kendaraan beroda 3, yang mampu membawa 6 orang penumpang.Seperti oplet, penumpang bemo juga masuk dari belakang, penumpang saling berhadapan. Taxi argometer sebenarnya sudah ada, yaitu Tri Payung Taxi yang poolnya ada di Karang Ayu (di Jl.Sudirman).Namun taxi-taxi ini tidak mencari penumpang dengan berkeliling, mereka hanya mangkal di pangkalan.

Baru pada tahun 1990, muncul Taksi Atlas.Sebelumnya, cikal bakal Taksi Atlas adalah Surabaya Taxi, sudah ada pada tahun 1980-an.

Kanjengan. Menilik namanya, Kanjengan adalah bangunan tempat kediaman bangsawan Kanjeng.Namun pada sekitar tahun 1977, bangunan Kanjengan ini diruilslag (tukar guling) , dibongkar dan dijadikan kompleks pertokoan dan hiburan, sebuah bioskop dengan nama “Kanjengan Theater” sempat menjadi bioskop mewah,walaupun  tidak lama. Tahun 80-an, bioskop Kanjengan telah tutup. Sedangkan material bangunan gedung Kanjengan kuno, dipindahkan ke daerah Gunung Talang (di daerah Semarang bagian atas). konon sempat diusahakan direkonstruksi di Gunung Talang, namun kemudian hancur.

Industri

Tak pelak lagi, dunia industri di kota Semarang dan sekitarnya masih berkutat pada pengolahan hasil alam. Rokok cukup mewarnai kehidupan di Semarang era 70-an.

Perubahan/pengalihan fungsi fasilitas kota di kota Semarang sejak tahun 1980-an

Galery Foto karya Ir.Liem Bwan Tjie

liem-bwan-tjie-grand-theatre-1

Bioskop Grand (kemudian menjadi bioskop Gelora, dan kini dihancurkan menjadi kompleks ruko) ,

di Jalan Mataram (kini MT.Haryono)

Liem-bwan-tjie-2

Hijaunya Arsitektur Liem Bwan Tjie (Bag 2)

Hijaunya Arsitektur Liem Bwan Tjie (Bag 2)

Attention: open in a new window.

Pengunjung sedang menyaksikan Pameran Arsitektur
Liem Bwan Tjie, di Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir, Semarang

Seri Arsitektur  dikutip dari: Suara Merdeka, 1 Feb 2011

 


HIJAUNYA ARSITEKTUR LIEM BIAN TJIE BAG II

Awal karirnya di Semarang yang dimulai tahun 1929, Liem Bwan Tjie banyak membangun rumah atau vila orang-orang kaya di HindiaBelanda pada masa itu. Yang paling terkenal adalah vila milik keluarga Dr Ir Han Tiauw Tjong di Jl Tumpang yang menyerupai kapal, dan kantor pusat konglomerat Oei Tiong Ham di Jl Kepodang dan Jl Sendowo Kota Lama yang dibangun pada 1930.

Kantor dagang Oei Tiong Ham Concern yang sekarang menjadi kan tor Rajawali Nusindo, diakui banyak kalangan sebagai arsitektur cerdas. Meski dari luar nampak konvensional, memiliki bentuk tidak rumit, namun ketika masuk ke dalam banyakditemukanpemecahandesain yang unik. Bangunan ini menerapkan gaya Art Modern yang merupakan gaya populer pada paruh pertama abad ini.

Iklim Tropis Karya lain yang memperlihatkan hijaunya arsitektur rancangan Liem Bwan Tjie diantaranya rumah tinggal Poeda Pajoeng dan rumah tinggal di kawasan Peloran milik Sih Tiauw Hien, Pabrik Kopi Margorejo, perumahan Pabrik Kopi Margorejo, vila Oei Tjong Hauw (putra Oei Tiong Ham) di Kopeng, rumah Tan Tjong Le di Ungaran, vila Kwik Tjien Gwan di Tawangmangu, rumah R Van Duinen di Kopeng, dan Puri Gedeh (rumah dinas Gubernur Jateng).

Bangunan umum yang dipercayakan padanya diantaranya Gemeente Zwembad atau kolam renang Stadion di Jl Ki Mangunsarkoro, Rumah Makan Grand yang dulu pernah menjadi kampus Fakultas Teknik Undip Jl MT Haryono, gedung bioskop Grand atau Gelora, dan gedung bioskop Lux atau Murni. Dalam tiap rancangannya, Liem Bwan Tjie selalu menempatkan faktor iklim tropis sebagai salah satu pertimbangan penting. Hujan dan sinar matahari langsung tak pernah dibiarkannya membuat penghuni bangunan merasa tidak nyaman. Ruang di dalam pun harus nyaman dan cukup terang, misalnya dengan membuat jendela-jendela lebar yang dapat mengendalikan aliran udara.

Sebelumnya

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjan Ing Djioe Anggap Cerita Silat Sebagai Candu

Tjang Ing Djoe penerjemah cerita silat Cina di Semarang. TEMPO/Budi Purwanto

 

TEMPO.COJakarta -Berkutat dengan komputer adalah keseharian Tjan Ing Djioe. Sehari-hari, pria berusia 63 tahun ini menerjemahkan buku-buku silat Tiongkok. Hingga kini, ia telah menerjemahkan lebih dari 120 buku cerita silat, dengan jumlah jilid mencapai ribuan. “Saya ingin rak buku dan ruang kerja saya penuh dengan karya saya,” kata pria yang kini tinggal di Semarang ini.

Tak heran, sebagian besar waktunya dihabiskan di ruang kerjanya yang berukuran 6 x 4 meter. Selain komputer, senjata Tjan adalah kamus bahasa Mandarin. Bagi dia, menulis bak sebuah ritual. Ritual itu dilakukan pada pukul tiga dinihari hingga sore. Rata-rata, dia menghabiskan waktu di depan komputer hingga 12 jam. Bahkan, di masa mudanya, Tjan menghabiskan sekitar 18 jam untuk kerja penerjemahan.

Di dunia buku cerita silat—sering disingkat cersil—reputasi Tjan, yang biasa menyingkat nama pada karyanya menjadi Tjan ID, tak diragukan lagi. Selain memiliki banyak karya, nama Tjan termaktub dalam ensiklopedia Chinese Overseas bidang kesenian dan kebudayaan terbitan pemerintah Cina.

Selain Tjan, masih ada dua nama penerjemah asal Indonesia yang masuk ensiklopedia, yakni Gan Kok Liang (Gan KL) asal Semarang dan Oei Kiem tiang (OKT) asal Tangerang. Namun keduanya sudah meninggal. Nama Koo Ping Hoo (almarhum) asal Sragen juga ada, tapi dia bukan penerjemah. Reputasinya diakui sebagai penulis cerita silat dengan latar cerita tradisi Tiongkok, sekalipun dia tidak mahir berbahasa Mandarin.

Tjan mengungkapkan, sebenarnya dia tak mahir dalam urusan mengarang. Karena terpaksa-lah ia terjun ke dunia ini. Saat kuliah di publisistik Universitas Diponegoro, salah seorang dosennya memberi tugas menyusun cerita, boleh mengarang, boleh menerjemahkan. Tjan yang sejak sekolah dasar sudah melahap buku cerita silat berbahasa Mandarin tak mau pusing. Untuk memenuhi tugas kuliah, dia menerjemahkan satu bab awal Thien Jan Ji Ting karya Pai Hong. Karya itu diberi judul Tujuh Pusaka Rimba Persilatan.

Tanpa dia ketahui, ayahnya, Tjan Ing Djin, menyerahkan kopian karbon terjemahan Tjan kepada koleganya, The Tjie To, yang juga pemilik toko buku Sutawijaya di Jalan Mataram, Semarang. Oleh The, naskah tersebut ditawarkan kepada penerbit Sastra Kumala Jakarta. Tak diduga, penerbit tertarik menerbitkan karya terjemahan itu. Bahkan, Tjan diminta menyelesaikan terjemahan 28 jilid Tujuh Pusaka Rimba Persilatan. Tiap seri, Tjan yang saat itu berusia 20 tahun dibayar Rp 1.750 per jilid.

Ketika edisi perdana Tujuh Pusaka Rimba Persilatan terbit, nama Tjan ID mulai menjadi buah bibir di dunia cersil. Penerbit lain pun berlomba merangkul Tjan. Pemuda ini melejit bagai meteor. Penerbit Gloria meminta Tjan menerjemahkan karya lain dengan bayaran per seri Rp 2.500. Pada saat bersamaan, penerbit lain juga membayar karya Tjan dengan harga Rp 4.750 per jilid. “Awal 1970, per bulan saya mengantongi Rp 500 ribu hasil terjemahan,” ujarnya sambil membetulkan letak kacamatanya. Sebuah angka yang fantastis kala itu.

Beberapa karya Tjan yang meledak di pasar adalah Pendekar Patung Emas karya Qin Hong (1970), Rahasia Kunci Wasiat karya Wolong Shen (1971), serial Bara Maharani (1975), dan Pendekar Riang (1979).

Kelihaian Tjan dalam menerjemahkan sastra Mandarin ini berbekal pelajaran bahasa Mandarin saat ia duduk di bangku sekolah dasar berbahasa Cina, yakni SD Chung Hoa Kung Sie dan SD Yu Te. Adapun kebiasaannya membaca buku berbahasa Mandarin sejak kecil serta keluarganya yang terbiasa berbahasa Mandarin membuatnya tak hanya fasih, tapi juga memahami rasa bahasa Negeri Tirai Bambu tersebut. Dan, ini sangat penting bagi kerja penerjemahannya.

Setelah kehidupannya mapan, Tjan tetap menerjemahkan cersil. Namun, kini orientasinya bukan kejar setoran, melainkan semangat menjaga cersil Tiongkok sebagai bagian dari sastra peranakan di Indonesia.

Selain itu, sekarang ini sulit menggantungkan hidup dari menerjemahkan cersil karena penggemarnya tak sebanyak pada 1970-an. Urusan dapur sudah selesai dengan bisnis ayam potong dan katering.

Semangat terus berkarya itu juga dimaksudkan untuk mengusir pikun dan rasa sepi sepeninggal istrinya, Suryani Erawati, yang meninggal pada Januari lalu. Selain itu, bagi Tjan, cerita silat para pendekar Tiongkok sarat nilai patriotisme, nasionalisme, hormat kepada orang tua, membela kaum lemah, serta peduli pemberantasan korupsi. Nilai-nilai itu perlu ditiru oleh bangsa Indonesia.

Pada Januari lalu, melalui usaha penerbitannya sendiri, Tjan Brothers Publishing, Tjan menerbitkan karyanya Pedang Amarah karya dari Wen Rue An (Malaysia). Saat ini, ia juga bersiap mengerjakan Pendekar Riang dari penulis Cina, Gu Lung.

Tjan optimistis, meski tak sebanyak era 1970-an, penggemar cersil di Indonesia akan selalu ada. “Karena membaca cerita silat itu candu,” katanya.

Nyicip lumpia khas Semarang

Lumpia Semarang adalah penganan khas kota Semarang. Selain lumpia, makanan khas Semarang masih banyak, antara lain Bandeng Presto atau bandeng duri lunak, wingko babat, enting-enting gepuk, tahu pong
Pada mulanya, bahan pengisi lumpia adalah mihun/bihun dan cincangan daging udang beserta daun bawang. Namun sekitar seabad lalu, di kota Semarang pasangan Tjoa Thay Yoe (Tionghoa) dan Wasih (Jawa) merintis lumpia yang bahan pengisinya adalah irisan rebung (tunas bambu muda) tipis-tipis. Usaha mereka ini kemudian diteruskan oleh keturunan mereka saat ini dan dikenal sebagai “Lumpia Semarang”.
Lumpia Semarang
Menurut pengalaman dan pemantauan penulis, saat ini di kota Semarang sendiri terdapat lima jenis lumpia Semarang dengan karakteristik dan cita rasa yang berbeda.
Pertama jenis Lumpia Gang Lombok (Siem Swie Kiem),masih merupakan salah satu sasaran pembeli oleh-oleh khas Semarang
kedua jenis Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie),
ketiga jenis Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio).
(Ketiga pedagang ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih dan yang terakhir adalah lumpia Jalan TanggaMus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim)
Jenis keempat adalah jenis lumpia yang dihasilkan sejumlah mantan pegawai lumpia Jalan Pemuda,maupun Mataram
dan jenis kelima adalah lumpia yang diproduksi orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil meniru lumpia yang sudah beredar, kadang disertai sedikit improvisasi (misalnya menambahkan mayonaise)

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (70), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (46) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.
Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi daging ayam kampung cincang. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Sedangkan generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka selain mantan karyawan mereka, ada juga pengusaha kuliner turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang. Di pasar-pasar tradisionil juga banyak penjaja lumpia Semarang yang umumnya dipasarkan dengan harga kurang dari separuh harga lumpia kelas oleh-oleh. Maklum selain ukurannya lebih kecil, lumpia pasaran ini kurang tahan lama dibanding lumpia Semarang asli.
Gerai Lumpia di Luar Kota Semarang
Di kota Jakarta
* Di Hypermart Puri
* Di Jalan Kemanggisan (terdapat tiga pedagang lumpia Semarang (dekat Binus) * Taman Kebon Jeruk Blok W 4/3, (Intercon) Jakarta Barat.Telp. 0818473999 (sumber Wartakota 5 Juni 2012) * Jl.Tanjung Duren Barat Belakang Mal Citraland
* Rumah Makan Swike Purwodadi “Bu Tatiek” Jalan Meruya