Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Kelirumologi

Arti Mintakulburuj pada ayat Ayub 38:32

Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj   pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?

Ayub 38:32

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mintakulburuj artinya :mintakulburuj/min·ta·kul·bu·ruj/ Ar n garis lengkung di langit, yang terbagi menjadi 12 bagian, tiap-tiap bagian diberi nama menurut gugusan bintang (Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra (berlambang Timbangan), Skorpio (berlambang Kalajengking), Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, Pises), sedangkan dalam Alkitab King James, mintakulburuj di pakai kata Mazzaroth. 

Mazzaroth

Kata Ibrani “Mazzaroth” tidak ada hubungannya dengan astrology ataupun ramalan bintang. Tanda-tanda di langit.Ke 12 lambang ini hanya mengkisahkan sebuah peristiwa.

Kelirumologi bahasa koran

Di era tahun 70-an, saya paling suka acara ” Mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar”, di TVRI, acara ini diasuh oleh Yus Badudu.
Masih ingat di benak saya, ketika saat itu beliau menjelaskan banyak kekeliruan dalam berbahasa Indonesia.
Misalnya ada berita menggelikan berbunyi : “…penjahat itu berhasil ditangkap oleh polisi”, nah lo, kata berhasil adalah kata aktif, yang maksudnya sesudah melalui suatu proses, seseorang berhasil dalam usahanya itu. Nah mana mungkin seorang penjahat “berupaya” agar dirinya ditangkap? .Kalau saja bunyi berita itu adalah “…penjahat itu berhasil melarikan diri…” itu baru benul, eh betul (sorry,penulispun sering melakukan kelirumologi)

Apakah angka 4 dan 13 (bagiorang Tionghoa) adalah angka sial?

Sekarang ini, bila kita berada dalam satu komplek perumahan, jarang mendapatkan rumah dengan nomor 4 atau 13.Rupanya pihak pengembang atau pemilik property tidak menggunakan angka 4 dan 13 sebagai nomer unit. Sudah dipahami banyak orang,bahwa angka 4 dalam pengucapan orang Hokian dibaca sebagai ‘si’ yang mirip dengan ‘si’ yang artinya mati.

Anggapan bahwa bangsa Tionghoa menganggap angka 4 dan 13 adalah angka sial, merupakan anggapan yang salah kaprah. Kepercayaan itu adalah milik sekelompok orang tertentu, bukan keyakinan bangsa Tionghoa secara umum. Buktinya:

Menggunakan angka 4:Sajak, puisi klasik Tiongkok terdiri dari 4 baris, kelompok bandboy F4 dari Taiwan yang sangat terkenal pada era 2000- 2005.Bila grup ini kemudian surut bukanlah karena namanya ada 4 nya, tetapi memang grup bandboy jarang bisa eksis begitu lama.Perusahaan Four Season  (She Ci) .

Ungkapan/pepatah Tionghoa juga terdiri dari 4 kata, antara lain: Wan Li Chang Cheng (Julukan bagi Tembok Tiongkok)

Permainan Mahyong (mandarin= ma xiang) adalah permainan klasik Tiongkok yang dimainkan 4 orang, dengan 144 karakter kartu.

Tiongkok menetapkan ada 4 kisah yang merupakan Legenda Tiongkok Sejati, yaiyu  Auw Pe Coa (Legenda Ular Putih), Nona Meng Jiang, Liang Shanbo and Zhu Yingtai, dan Gembala dan Nona Penenun (Niulang Zhinü).

Di dunia sendiri mengenal empat musim, yaitu panas, dingin, semi dan gugur

Menggunakan angka 13:

permainan kartu Cap Sa (13), kisah heroik Cap Sa Thay Po (atau 13 jagoan)

 

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

Silvia Galikano, CNN Indonesia
Minggu, 03/04/2016 20:30 WIB
OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker
Gedung OLVEH di masa kejayaannya. (Dok. JOTRC)

Jakarta, CNN Indonesia — Cat putih, gaya bangunan neoklasik, dan dua menaranya yang gagah membuat Gedung OLVEH menonjol dari kejauhan.

Semakin menarik ketika didekati, terdapat susunan batu membentuk tulisan “OLVEH van 1879” di lantai teras. Dan untuk masuk, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena lantai dasar gedung ini lebih rendah 60 sentimeter dari permukaan jalan.

Bukan karena sengaja dibangun di bawah permukaan jalan, melainkan proyek peninggian jalan yang berlapis-lapis tanpa ampun dari tahun ke tahun telah menenggelamkan gedung-gedung di kiri-kanan jalan.

Gedung milik asuransi Jiwasraya di Jalan Jembatan Batu no 50, Pinangsia Jakarta Barat ini sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Cat dindingnya kusam, bahkan terkelupas. Tanaman tumbuh liar di sela-sela tembok.Bangunan ini punya sejarah menarik. Didesain oleh arsitek Schoemaker dan dibangun F. Loth untuk kantor Onderlnge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp (OLVEH), perusahaan asuransi jiwa yang berdiri pada 1879, berpusat di Den Haag, Belanda. Upacara peletakan batu pertamanya diadakan pada 1921 atas permintaan putri direktur, Peereboom Voller.Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) kemudian mengkonservasi gedung tersebut sejak akhir 2014. Peresmian rampungnya konservasi diadakan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Gedung OLVEH yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 7 Januari 1922 adalah gedung tiga lantai dengan dua menara. Lantai pertama dan kedua disewakan untuk tenant, sedangkan kantor OLVEH menempati lantai tiga.

Sebuah tangga marmer didesain dengan keamanan yang baik sebagai penghubung antarlantai. Toilet dan kamar mandi dibedakan dengan jelas dan didesain menggunakanexhaust.

Boy Bhirawa, arsitek yang mengkonservasi Gedung Olveh, menjelaskan, pada awalnya, tim konservasi belum mengetahui nama arsitek yang mendesain gedung OLVEH.

Ketika Boy melihat ke dalam gedung, termasuk lantai atas, dan memperhatikan detailnya, sampailah dia pada kesimpulan yang membuat gedung ini bukanlah arsitek biasa.

Sang arsitek membagi ruangan dengan sistem yang jelas sekali: tiga melintang dan tiga membujur serta kolom hanya ada di tengah ruangan dan tak ada di samping.

Selain itu, dari kolom yang dindingnya rontok hingga tampak tulangnya, diketahui bangunan ini berasal dari zaman peralihan sebelum dinding struktur beton bertulang menjadi umum.

Terdapat langit-langit kaca (skylight) di lantai tiga yang memberi cahaya cantik dan berbeda-beda di ruangan dari pagi hingga petang. Teknologinya pun luar biasa, memberi dudukan besi yang membuat air hujan tidak masuk ke ruangan. Pada masa itu, skylight adalah sesuatu yang baru.

“(Lantai tiga) ini crème de la crème bangunan. Cahaya dari atas membuat ruangan punya cahaya sendiri yang berubah-ubah dari pagi sampai sore,” kata Boy.

“Tanpa melihat jam, kita bisa tahu sekarang pukul berapa. Bahkan kalau lebih peka lagi, bisa tahu bulan apa, hanya dari sudut jatuhnya cahaya matahari.”

Skylight dianggap sebagai konsep tinggi seperti memasukkan waktu ke dalam ruang. Arsitektur ini dianggap abadi, mati waktu, terbekukan melalui ada cahaya yang berubah terus sejak terbit hingga terbenamnya matahari.

Gedung Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (cat putih) atau OLVEH dahulunya adalah kantor perusahaan asuransi Belanda dan saat ini selesai direvitalisasi oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC), Jakarta, Selasa, 23 Maret 2016. Bangunan ini menjadi saksi turunnya permukaan tanah di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Dua wajah

Perhatiannya pun tertambat pada adanya dua balkon, yang menghadap depan dan menghadap belakang. Artinya gedung ini menghadapkan wajah ke depan dan ke belakang. Wajar jika menghadapkan wajah ke depan karena di sanalah pusat bisnis Batavia. Tapi ke belakang?

Di belakang gedung ini adalah kawasan Pecinan. Di sana ada klenteng dan rumah abu selain perkampungan penduduk Tionghoa. Inilah cara sang arsitek menghormati penduduk dan budayanya. Dengan memberi balkon ke arah Pecinan, dia memberi satu bagian wajahnya ke belakang untuk komunitas, bukan membelakangi.

Sebagai kantor bisnis keuangan, wajar jika bangunan ini punya menara dan pilar-pilar. Dua menara membuat gedung ini mudah dikenali sebagai kantor selain tampak bergengsi. Pilar-pilarnya jadi simbol kekuatan, ketahanan, matang, dan mapan.

“Itu sebabnya kantor jasa keuangan, seperti bank dan asuransi, mengambil bangunan klasik. Tujuannya untuk mengesankan bisnis mereka sudah berjalan lama agar masyarakat merasa aman menitipkan uang di sana,” ujar Boy.

Schoemaker bersaudara

Pencarian arsitek yang mendesain gedung ini pun dilakukan. Pusat Dokumentasi Arsitektur tak menyimpan data tentang gedung OLVEH. Lantas ditemukan guntingan surat kabar Hindia Belanda Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 31 Desember 1921.

Di sana tertulis arsitek Gedung OLVEH yang berada di Voorrij Zuid (nama jalan Jembatan Batu waktu itu) adalah Profesor Schoenmaker (kemungkinan maksudnya Schoemaker, tanpa “n”).

Lantas timbul pertanyaan, Schoemaker yang mana? Karena kakak-adik Schoemaker, Wolff (1882-1949) dan Richard (1886-1942), sama-sama arsitek dan sama-sama guru besar di Technische Hogeschool (sekarang ITB).

Karena Richard sudah ditabalkan sebagai guru besar pada 1920, sedangkan Wolff baru dua tahun kemudian, maka artikel itu dipastikan mengacu pada Richard Schoemaker. Namun dari gaya bangunan, tim konservasi cenderung meyakini bahwa ini karya Wolff Schoemaker.

Bagian dalam Gedung Olveh sebelum renovasi. (Dok. JOTRC)

“Kubah dua menaranya persis kubah Gereja Bethel di Bandung, karya Wolff Schoemaker. Menaranya pun didesain bersusun mirip teknik perspektif bangunan candi,” kata Boy.

Ditambah lagi, ada faktor kemanusiaan yang menguatkan bahwa Wolff-lah perancang utama gedung OLVEH. Hidup Wolff dibagi tiga periode, yakni lahir di Banyubiru, Indonesia; bersekolah di Delft, Belanda.

Masa Wolff bersekolah adalah masa puncak para arsitek muda punya statement, sepertide stij, amsterdam syle, dan semuanya kuat. Sebuah pemberontakan terhadap gaya lama.

Semangat itu dia bawa saat kembali ke Batavia. Pada masa awal, Wolff masih bergaya modernis.

“Seorang arsitek senior Belanda saat itu menasihati, jika Wolff hendak membuat arsitektur di Hindia Belanda seharusnya mempertimbangkan iklim tropis Nusantara dengan menerapkan gaya arsitektur Indische. Dan dia berusaha memahami,” ujar Boy.

Pada periode pertama Wolff berkarya, desainnya belum tropis, tak ada teritis sehingga saat hujan akan tampias ke dalam.

Pada saat yang sama, Wolff suka candi. Posisi candi berstruktur telanjang, tak ada “genit-genitnya” karena memang bukan tempat tinggal.

Bentuk candi ini dia ikuti. Menara gedung OLVEH yang berundak adalah menyalin bentuk candi, dan ekspresi itu masih belum tropis untuk ditinggali.

“Karena itu kami punya masalah dalam hal ini. Kalau hujan, di sini tampias, juga tampias ke jendela kayu,” kata Boy.

Pada periode ke-dua, dia mulai mengatasi masalah tropis. Dan pada periode ke-tiga, rancangan Wolff Schoemaker sudah sangat Nusantara.

Bagian dalam gedung OLVEH usai renovasi. (Dok. JOTRC)

Wolff adalah ilmuwan yang menguasai ilmu teknik, budaya, dan seni rupa. Dia pun bekerja di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (BOW, Dinas Pekerjaan Umum). Maka wajar jika tahu lebih dulu jika di sini akan jadi pusat bisnis.

Sebagai catatan, Gedung OLVEH dibangun saat kawasan plaza (Stationsplein) belum terbentuk. Stasiun BEOS, Nederlandsche Handel Maatschappij (kini Museum Bank Mandiri), dan Nederlandsch-Indische Handelsbank (kini Bank Mandiri) belum berdiri.

Dari sisi komplikasi personal, Wolff lebih komplit, dia mengalami pindah agama. Dikabarkan, Wolff menjadi muslim pada awal 1930-an, walau pada akhirnya dimakamkan secara Nasrani di ereveld Pandu, Bandung.

“Masalahnya bukan agama apa, tapi dia mencari kebenaran. Prosesnya mempelajari candi adalah juga proses mencari kebenaran. Proses itu menjadi penting buat saya, karena kalau kita bicara arsitektur saja, maka terbatas fisik. Sedangkan ini tatarannya bukan hanya profesional, tapi juga wisdom,” kata Boy menguraikan.

Wolff dianggap memenuhi proses, yakni sebagai arsitek, pengajar, militer, bekerja di BOW, hingga akhirnya independen bekerja di perusahaan sendiri. Dua bersaudara Richard L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker mendirikan C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs.

Meski demikian, lanjut Boy, tak terlalu penting siapa yang merancang karena keduanya berada di satu perusahaan, sehingga tugas merancang bisa dikerjakan bergantian.

“Kalau toh ini dilepaskan ke adiknya, pengaruh Wolff banyak sekali karena pengetahuan dia sudah beyond, sudah religion.” (les/les)

Sinema Mandarin Jadul

 




Mandarin bikinan Hongkong dan Taiwan  * FILM Mandarin yang masuk di Indonesia dan dipandang dengan tak enak oleh orang film dan para pejabat — sekarang ini berasal dari Hongkong dan Taiwan. Kerja sama antara kedua pusat pembikinan film berbahasa Cina itu bukan jarang terjadi, tapi ciri khas Taiwan dan Hongkong sering kali masih tetap bisa dilihat. PaRa aHli film Mandarin pada umumnya cenderung melihat Hongkong sebagai pusat film-film produksi massal yang menyebarkan perkelahian Kung Fu, sedang Taiwan banyak menghasilkan film-film yang lebih bermutu. Hongkong memiliki sutradara-sutradara yang ahli dalam film action, sedang Taiwan mempunyai sejumlah sutradara yang lihay dalam membuat film-film drama. Diukur dengan kaca mata Asia, film-film buatan Taiwan itu barangkali cuma dlatasi oleh film-film buatan Jepang dahulu.
20 Bahkan sebuah film Taiwan, Touch of Zen, tahun silam berhasil menggondol sebuah piala di festival film di Cannes. Maka agaknya menarik untuk melihat film dari sana, yang biasanya pola ceritanya tak banyak beda dengan kita — bahkan terkadang lebih konyol, meskipun teknik lebih baik. Kali ini karya Ue Sing, yang filmnya pernah diputar Kineklub, bulan lalu, dan mendapat sambutan hangat para kritisi dan penggemar: Execution in tbe Autumn. Penjara Dalam film Execution in the Autumn, tokoh wanitanya menyediakan diri untuk kawin dengan cucu orang yang memeliharanya demi kelanjutan keturunan. Orang yang dikawininya itu adalah pesakitan yang hanya menanti musim gugur — musim dijatuhkannya hukuman di Tiongkok — untuk mengakhiri hidupnya. Seluruh hubungan suami isteri mereka berlangsung dalam kamar penjara yang sempit dan apek dalam bulan-bulan menjelang datangnya maut bagi sang suami.
Painted Waves of Love adalah film terbaru Lie Sing yang memasuki pasaran Indonesia. Sutradara terkemuka Taiwan ini kali ini pun tampil dengan kebiasaan lamanya. Tokoh utama film ini adalah pelukis yang telah jadi janda (Lle Siang). Ia hidup dari lukisannya, dan bersama dia ikut pula keponakannya, seorang gadis (Lin Fung Chiao) yang pernah terlibat permainan sex, hamil dan menggugurkan pada usia 16 tahun. Cerita mendapatkan bentuknya ketika janda bertemu dengan pemilik toko barang-barang kesenian (Kho Chun Siung). Lelaki kaya usia empat puluhan ini kebetulan pula dekat dengan kesepian, sebab meskipun mempunyai keluarga — dengan dua anak yang menjelang dewasa — isteri yang mendampinginya cuma sibuk dengan kartu ceki dengan kawan-kawannya. Tidak mengherankan jika pemilik toko. yang rada seniman — pengagum lukisan sang janda — kemudian bersibuk dengan janda manis itu.
Cerita jadi lebih berbelit-belit oleh terlibatnya keponakan sang janda dengan putera si pemilik toko. Bukan cuma itu. Anak gadis si pemilik toko tersangkut pula permainan cinta dengan seorang oknum yang sehari-harinya montir mobil yang berbakat sastra. Bisa dibayangkan betapa kacau-balaunya fikiran isteri sang pemilik toko ketika ia mengetahui ini fasal. Radikal Namanya saja orang sedang jatuh cinta. Si pemilik toko bahkan sudah siap menceraikan isterinya untuk kemudian kawin dengan sang janda. Dan sebagai seorang yang rada seniman, radikalnya bahkan tidak tanggung-tanggung.
Kebiasaan masyarakat Tionghoa yang mengutamakan menantu orang terpelajar — artinya orang sekolahan — serta merta dilabraknya ketika ia mendukung hubungan puterinya dengan si montir yang pengarang itu. Ia juga bisa mengerti keadaan gadis keponakan pacarnya yang konon hamil lantaran keinginan tahunya saja di usia muda. Bagi perempuan macam isteri pemilik toko itu, keluarga adalah segala-galanya, maka ia pun meraung mendengar putusan suaminya. Segala pengakuan rasa bersalahnya — lantaran cuma sibuk main ceki dan membiarkan babu mengatur keluarga — nyaris saja menjadikan dirinya janda kedua yang muncul dalam film ini. Ada juga ratapan puterinya ikut ambil peranan, tapi yang lebih menentukan gagalnya perceraian itu adalah hati mulia janda yang pelukis itu. Setelah memberi nasehat secukupnya kepada pemilik toko, janda itu menghilang. Katanya ia akan ke Pilipina bersama seorang saudagar kaya.
Nyatanya ia cuma ke suatu pantai, itu pun ketahuan oleh anak-anak muda yang cinta beramai-ramai itu direstui oleh si pemilik toko. Nah, si janda cantik itu telah berkorban. Ini memperlihatkan kemuliaan hati seorang yang cantik. Dan para pelukis boleh bangga (terutama yang perempuan), sebab meski pun jenis manusia yang suka berseni-seni itu kabarnya amat egois, dalam film ini ia digambarkan sebagai mahluk Tuhan yang terbilang boleh juga fiilnya. Tontonan Taiwan muncul dalam kisah sedikit ramai. Meski pun muaranya satu, keterlibatan banyak orang dalam urusan cinta-cintaan rasanya ada juga dirasa menyesakkan. Di layar memang muncul gambar-gambar yang baik, lantaran permainan yang terjaga dan penataan artistik (art directing) yang rapi. Tapi itulah Banyak tokoh, dengan urusan yang serupa dari keluarga yang sama, sehingga ini film kurang serapi karya Lie Sing yang dulu dulu.

* .

OTHER

Fu Sheng

Alexander Fusheng

Bruce Lee, pendiri “Jeet Kun Do”.
Meninggal di apartment Betty Ting Pei,lawan main dalam beberapa filmnya
Jackie Chan

 

 

Alexander Fu Sheng

Jackie Chan awal kariernya tahun 1970-an

Jackie
Jackie Chan ketika berkibar tahun 2005-an

leslie cheung
Leslie Cheung
(Chang Kuo Yung)

 

ADVERTISE INFO:
ARCHIFAME

WEB SOURCE
BUILDING KNOWLEDGE

CATALOG PROMO

Email: staff

 

 

5 Tips dari C.S.Lewis untuk hidup orang Kristen

C.S. Lewis’ Top 5 Tips about Christian Living

Holly Mthethwa
disadur dari www.ruggedandredeemed.com

Hal yang sederhana, hidup Kristiani adalah cara Allah . Kita bisa saja buat daftar yang sangat panjang tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan orang Kristen.
Itu bisa saja antara lain: membaca Alkitab setiap hari, berdoa tiap hari, mengasihi sesamanya, rajin ke gereja, Dan, tatkala semua perkara tersebut highly important aspects of living life God’s way, it often helps to look at some specific ways we can live a Christian life in direct relation to the obstacles we’re facing today.
C.S. Lewis, pengajar dan pemikir Kristiani ternama, wrote well before our time, but he wrote highly applicable and practical truths about Christian living that still ring true today.
While Lewis provides a wealth of wisdom, here are five tips relevant in today’s age taken from his book “Mere Christianity.”
A Christian living in any era, but especially in today’s age:


1. Miliki kerendah-hatian yang sejati

“Kerendah-hatian sejati bukannya memikirkan kekurangan Anda; tetapi it’s thinking of yourself less.” –C.S. Lewis, Mere Christianity
We have a Gospel message and a Gospel mission, and we’re walking the tightrope between promoting a message that points to Jesus and promoting ourselves. While not always bad, we’re living in an age where self-promotion, selfies, and self-help books are prevalent. We battle with either thinking too highly of ourselves or not thinking highly enough—both of which consume us with “self.”
Lewis’s words are beautifully simple and powerful. To be truly humble, Christians must think of themselves less.
2. Memilih kebenaran lebih dari segalanya
“Even in literature and art, no man who bothers about originality will ever be original: whereas if you simply try to tell the truth (without caring twopence how often it has been told before) you will, nine times out of ten, become original without ever having noticed it.” – C.S. Lewis, Mere Christianity
We’re told to just “be you” by nearly every person we encounter. And, while it’s important to remain true to oneself, we can become consumed with being unique, original, or different.
I love Lewis’s advice: when we simply tell the truth according to scripture, we become original without ever noticing it. A Christian in today’s world chooses truth over originality.
3. Mengejar hadirat Tuhan dengan sukacita
“And out of that hopeless attempt has come nearly all that we call human history—money, poverty, ambition, war, prostitution, classes, empires, slavery—the long terrible story of man trying to find something other than God which will make him happy.” – C.S. Lewis, Mere Christianity
Whether I’m logged online or driving in the car, I’m confronted by people, places, and things promising happiness. I want to be happy—we all do—so I often find myself chasing the next thing I believe will make that happen. If I can just {fill in the blank}, I’ll find true happiness.
The Christian living in today’s age chases God over the pursuit of happiness. Catching glimpses of God becomes more important than grasping feelings of happiness. The irony is that it’s when we seek God that we experience true and lasting joy.
4. Understands Progress Often Means Turning Back
“Progress means getting nearer to the place you want to be. And if you have taken a wrong turn, then to go forward does not get you any nearer. If you are on the wrong road, progress means doing an about-turn and walking back to the right road; and in that case the man who turns back soonest is the most progressive man.” –C.S. Lewis, Mere Christianity
Turning back or turning around is essentially the definition of repentance, which means to turn away from sin and turn to God.
In today’s world, we applaud progress. We want to climb higher, faster, longer. We blaze ahead, often knowing we’re going in the wrong direction. We know that if we make a wrong turn, the GPS will re-route us.
The Christian living in today’s world knows that the man who realizes he is on the wrong road and turns back soonest is the most progressive.

5. Dengarkan Roh Kudus

“It comes the very moment you wake up each morning. All your wishes and hopes for the day rush at you like wild animals. And the first job each morning consists simply in shoving them all back; in listening to that other voice, taking that other point of view, letting that other larger, stronger, quieter life come flowing in. And so on, all day. Standing back from all your natural fussings and frettings; coming in out of the wind.” –C.S. Lewis, Mere Christianity
We’re busy, we’re overwhelmed, we’re stressed, and we’re anxious. We listen to our to-do lists, our well-meaning friends, and ourselves.
The Christian living in today’s world—the one who truly wants to live for Christ—pauses to listen to the Holy Spirit every moment of every day. She slays busy and stays quiet, even among the chaos.
As always when we talk about living a life that reflects the fullness of Christ, it’s important to remember that it is only by God’s grace and the power of the Holy Spirit that we’re able to live a life pleasing to God.

Holly Mthethwa is passionate about sharing God’s word in everyday life. She has been a missionary advisor in Peru and India, led bible studies in the U.S. and South Africa, and is the author of the Christian memoir, HOT CHOCOLATE IN JUNE: A TRUE STORY OF LOSS, LOVE, AND RESTORATION. She resides just outside of Washington, D.C. where she lives an adventure with her husband and daughter. Holly writes regularly about faith, family, and moments that have hooked her heart at www.ruggedandredeemed.com.

Christopherus “Keliru”lumbus

Ketika Christopherus Columbus melihat benua Amerika pertama kalinya, ia menyangka telah berada di India, karena itu ia menamakan penduduk lokal tersebut sebagai “Indian”.
Namun masyarakat Barat juga keliru ketika menyebut Columbus adalah penemu benua Amerika, jauh hari sebelumnya ,seorang penjelajah China telah mendarat di benua baru tersebut.

Singkat Menyingkat Yang Menganut Kelirumologi

Singkat Menyingkat Yang Menganut Kelirumologi
Last Updated on Wednesday, 03 October 2012 06:30

Maafkan saya dengan judul di atas, karena judul tersebut sebenulnya eh sebenarnya salah kaparah juga. Masa iya singkat menyingkat bisa menganut suatu logi ? tapi lupakanlah.
Masih dalam kenangan penulis, yang mengingat suatu acara “Bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Dalam acara itu, sang penyaji menyatakan: banyak singkatan yang sebenarnya salah.
Ohya, di kota Semarang pada masa lalu ,adalah sebuah kampus yang cukup bagus, namanya Stikubank. Nama itu dari singkatan Sekolah Tinggi Keuangan dan Bank. Ketika kampus itu dikembangkan menjadi universitas, namanya menjadi Unisbank, singkatan Universitas Sekolah Tinggi Keuangan dan Bank, cukup membingungkan pula, mengapa sudah ada kata universitas, masih pakai sekolah tinggi pula. Tak hanya kampus ini saja, di kota yang sama ada lagi Akademi bernama AKI, ketika menjadi universitas namanya jadi UNAKI, Universitas Akademi…..
Tapi kelirumologi di sini, mengabaikan masalah ini, apalah artinya nama, toh orang sering menyebut nama Bank BCA, padahal singkatan pertama dari BCA sendiri adalah B dari kata “Bank”

Selamat datang

Welcome