Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tionghoa di Indonesia

Kwee Tang Kiam

Kwee Tang Kiam, Jawara dari China asal nama Kwitang

Saat ini Kwitang yang merupakan nama jalan di daerah Senen dikenal sebagai sentra penjualan buku dengan harga murah di samping jasa cat mobil. Dulu pada era kolonial Belanda, kampung tua Kwitang, Senen, Jakarta Pusat terkenal karena memiliki seorang pendekar kungfu handal.

Bahkan, pemberian nama Kwitang menurut sejarah berasal dari nama pendekar yang konon memiliki ilmu silat yang sakti mandraguna itu. Pendekar sakti itu bernama Kwee Tang Kiam.Kwee Tang Kiam pertama kali menapakkan kakinya di Batavia pada abad 17 masehi. Saat itu Batavia dipenuhi para jawara silat yang sakti mandraguna. Pria China itu kemudian memilih sebuah tempat di kawasan Senen sebagai tempat tinggalnya (Kwitang).

Dalam buku “Martial Arts of the World: An Encyclopedia of History an Innovation” karya Thomas A. Green and Joseph R. Svinth, disebutkan Kwee Tang Kiam berasal dari China daratan dan berprofesi sebagai pedagang yang suka berkelana.

Konon, pria sakti itu telah mengembara ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Selain jago silat, ia juga terkenal pandai dalam meracik obat. Kemampuannya itu dimanfaatkannya untuk berdagang obat-obatan.

Meski sakti, Kwee Tang Kiam tidak segan mengajarkan ilmu silat yang dimilikinya kepada warga sekitar tempatnya tinggal. Masyarakat sekitar pun banyak yang belajar kepadanya, yang ilmu silatnya berasaskan jurus-jurus ampuh yang khas kuil Shaolin.

Sang jawara  tetap setia menetap di kampung yang saat ini dikenal dengan nama Kwitang itu. Hingga saat ini, tidak ada riwayat jelas kapan sang jawara asal negeri tirai bambu itu meninggal.

Namun, ilmu silat yang dimiliki Kwe Tang Kiam masih dapat ditemui. Salah seorang murid Kwee Tang Kiam, terus menurunkan ilmu silat itu kepada anak cucunya.

Pada 27 September 1952, H. Moch Zaelani, salah seorang keturunan dari murid Kwee Tang Kiam, melestarikan ilmu silat yang dimiliki Kwee Tang Kiam dengan mendirikan sebuah perguruan pencak silat yang diberi nama “Moestika Kwitang.”

(dikutip dari berbagai sumber)

Catatan seorang eropa tentang tradisi kertas emas leluhur Tionghoa


Source:
Warta Kota/
Seri Sejarah

 


Kertas Emas Bagi Leluhur

Jumat, 22 Juli 2011 WALAUPUN kematian merupakan hal alami dalam daur hidup setiap orang, sering kali ada anggapan bahwa kematian bukanlah hal yang menjadi bagian dari dunia anak-anak.

“Memang demikianlah halnya. Hidup mereka masih terbentang luas dengan segala pengalaman yang masih harus dialami dan dinikmati. Jarang sekali ada yang mencoba memahami atau menceritakan bagaimana seorang anak melihat dan mengalami peristiwa kematian,”- Gerda C Van der Horst van Doorn dalam bukunya Wim Terhorst en zijn vriend Sarip (Amsterdam: JJ Kuurstra. 1946), yang bercerita tentang seorang anak Belanda di Batavia yang menyaksikan upacara penguburan seorang China kaya. Cerita itu menarik karena sangat deskriptif. Marilah kita nikmati bersama.

… Lihatlah, di sana ada orang China yang akan dikubur. Musik duka yang aneh di telinga Wim lamat-lamat mulai terdengar. Di jalan, sanak-keluarga dan handai-taulan yang bermuka sedih berjalan perlahan dalam pawai duka yang sepintas lalu tampak meriah.

Di belakang orang-orang itu, empat orang mengusung breng-breng (semacam alat musik perkusi seperti gong). Dua orang lelaki berjalan di depan dengan breng-breng yang kecil diiringi oleh dua lelaki lagi dengan breng-breng yang lebih besar. Keempat lelaki itu berpakaian khas China yang disebut toa pao.

Rupanya orang kaya yang akan dikubur. Setelah pembawa breng-breng berlalu, tampak di belakang mereka dua orang yang membawa telong, lampion-lampion besar yang dibuat dari kain katun atau kertas.

Pastilah dalam hidupnya, orang yang meninggal itu aktif berorganisasi karena banyak sekali panji-panji perkumpulan yang berkibar dibawa orang dalam pawai itu. Suasana meriah bertambah lagi oleh kibaran bendera-bendera pemberian teman-teman akrab orang yang meninggal. Nama orang yang meninggal, pekerjaan, dan segala amal baik yang pernah dilakukannya tertera di setiap bendera.

Tidak ketinggalan tentunya ucapan belasungkawa dan nama orang yang memberi bendera itu, serta doa agar yang meninggal dapat beristirahat dengan tenang di alam baka.

Di kiri-kanan orang-orang yang mengusung breng-breng, telong, dan bendera-bendera duka itu, berjalan pelayat-pelayat yang menyebarkan carik-carik kertas berwarna keemasan. Hal ini dilakukan untuk menyenangkan arwah nenek moyang yang kadang-kadang masih berniat mengganggu perjalanan terakhir orang yang meninggal itu.

Tionghoa Surabaya tempo dulu


Source:
hurek.blogspot.com/
Seri Multi Kulturtaken from: www.hurek.blogspot.com

 


TIONGHOA SURABAYA MASA LALU

Serpenggal catatan Prof Han Hwie Siong
17 July 2011
Prof Dr Han Hwie-song belum lama ini menerbitkan memoar tentang masa kecilnya di kawasan pecinan Surabaya hingga sukses menjadi dokter dan menerima bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari pemerintah Kerajaan Belanda. Banyak hal menarik tentang pecinan Surabaya era 1950-an yang dituturkan Prof Han. Berikut petikannya:

Ketika saya masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universiteit van Indonesia di Surabaya (belakangan oleh Presiden Sukarno diubah namanya menjadi Universitas Airlangga), 1951, seingat saya jumlah penduduk Surabaya hanya sekitar 300 ribu jiwa saja. Padahal, saat ini, tahun 2011, penduduk Surabaya sudah berjumlah jutaan jiwa (sekitar empat juta jiwa).

Yang menarik, daerah pecinan masih tetap tidak berubah dan masih favorit bagi etnis Tionghoa untuk tinggal dan berdagang. Ini terbukti dari banyaknya toko-toko dan perusahaan-perusahaan dagang baik besar maupun kecil di daerah pecinan yang pada umumnya milik etnis Tionghoa.

Di pecinan Surabaya, ada dua pasar utama, yaitu Pasar Pabean dan Pasar Kapasan. Pasar Kapasan, walaupun lebih kecil daripada Pabean, merupakan pusat perdagangan emas dan perhiasan di Jawa Timur. Sebaliknya, Pasar Pabean merupakan pasar yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari. Di dalam pasar ini terdapat banyak toko yang menjual barang pecah-belah, alat-alat rumah tangga, sembako, atau makanan-makanan Tionghoa seperti haisom atau teripang, jamur kering, ikan asin.

Saya tidak pernah mengunjungi pasar basahnya yang menjual ikan, daging, dan sebagainya. Tetapi pembantu rumah selalu pergi belanja ke Pasar Pabean karena lebih lengkap. Ada ikan bandeng, gurami, udang, kepiting, rajungan, ayam, daging sapi, babi, dan sebagainya.

Di Pasar Pabean juga ada tiga restoran yang sering saya kunjungi bersama teman-teman kuliah saya, Bhe Kian Ho dan Sie Hong Ik, yang masing-masing membawa teman perempuannya. Pasar Pabean juga merupakan pusat perdagangan palawija Jatim. Komoditas ini oleh perusahaan-perusahaan Belanda diekspor ke berbagai negara. Ada beberapa teman saya yang orangtuanya berdagang palawija di sekitar Pasar Pabean.

Pasar Bong dan Pasar Kapasan dahulu menjadi pusat penjualan tekstil. Sehingga, tidak salah kalau orang mengatakan bahwa pecinan dahulu adalah pusat perdagangan Surabaya.

Kantor Kamar Dagang Tionghoa, yang pengaruhnya besar di Surabaya dengan akronim P3-CH, terletak di Jalan Kembang Jepun. Kantor-kantor koran Tionghoa baik yang peranakan (Pewarta) maupun yang totok (Ta Kung Siang Pao dan Yu Yi Pao) berada di daerah pecinan. Sedangkan koran Belanda yang pertama, Soerabajasc Handelsblad, berdomisili di Pasar Besar atau Aloon-Aloon Straat.

Setelah jam 18.00 dan kantor-kantor sudah tutup, di muka kantor P3-CH beroperasi berbagai warung makan Tionghoa. Setiap warung makan memiliki kekhasan masing-masing. Mulai dari mi pangsit, kwetiao, masakan ikan, babi, dan sebagainya. Berbagai merek mobil diparkir di depan warung-warung tersebut. Sebab, walaupun cuma warung makan, kelezatan masakannya tidak kalah dengan restoran, saya bersama saudara-saudara dan teman-teman sering makan di sana.

Toko-toko buku yang besar juga berada di Kembang Jepun, antara lain Toko Buku Ta Chen Soe Tji yang menjual buku-buku cerita dan pelajaran bahasa Tionghoa. Saya masih ingat bersama kakak atau teman perempuan saya sering membeli buku Mandarin antara lain karangan Ba Jin, Bing Xin, Lu Xin, dan Kojen (komik strip terbitan Hongkong yang saat itu sangat digemari) dan buku-buku pelajaran untuk adik-adik saya.

Pemilik toko buku ini orang Shanghai. Di Surabaya, yang saya ketahui, ada tiga toko buku Tionghoa. Berbeda dengan di Eropa, di Asia Tenggara pada umumnya orang-orang totok menggunakan bahasa Tjengim, Kuoyu atau Mandarin, sedangkan di Eropa dan Amerika Utara yang biasa digunakan adalah berbagai dialek, terutama Kanton (Guangdong).

Buku-buku Barat haya dapat diperoleh di tokot-oko buku Barat seperti Van Dorp dan Kolff di Tunjungan. Saya suka membaca dan mengoleksi buku-buku Barat antara lain tentang Perang Dunia II, cerita klasik Barat, cerita klasik Tiongkok, dan filsafat. Juga buku-buku tulisan Bung Karno, Mao Zedong, dan buku-buku politik lainnya.

Li Lihua
Li Lihua, artis Mandarin terkenal yang digandrungi warga pecinan Surabaya tempo dulu.Sumbwer: www.hurek.blogspot.com

Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965, buku-buku tersebut dibakar istri saya. Sementara buku-buku lain disimpan dalam dua peti kayu jati besar dan disimpan di rumah mertua saya. Di pecinan Surabaya terdapat dua bioskop Tionghoa, Shin Hua di Bongkaran dan Nan King Theatre di dekat Pabean. Bioskop-bioskop ini biasa memutar film-film dari Shanghai, kemudian film-film Hongkong. Ini disebabkan setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, banyak produser, pekerja film, dan artis terkenal yang melarikan diri ke Hongkong. Dulu kami mengenal artis-artis Hongkong terkenal seperti Li Li-hua, Wang Tanfeng, Chou Sian, Li Sianglan, Auwyang Shi Fei.

Setiap bulan sekali atau dua kali saya bersama calon istri pasti nonton di Shinhua Theatre. Menurut saya, masa pacaran yang paling menyenangkan adalah menonton bioskop, makan di restoran. Dan, yang terutama, ngobrol dengan tenang tanpa gangguan, sehingga kita dapat lebih bebas mengutarakan kasih sayang kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal sifat masing-masing yang menurut saya sangat penting dalam membangun dan membina keluarga kelak.

Sekolah-sekolah Tionghoa baik sekolah dasar maupun sekolah menengah bertebaran di Surabaya. Sekolah yang terkenal pada masa itu ialah Sin Hwa High School yang terletak di Jl Ngaglik, Chung Hua Chung Shueh di Jl Baliwerti, Khai-Ming Chung Hsueh di Jl Kalianyar, Chiao Chung di Jl Pengampon, dan Chiao Lian Chung Hsueh di Jl Undaan.

Kebanyakan sekolah-sekolah Tionghoa ini pro-RRT. Hanya Chiao Lian yang berhaluan kanan dan pro-Taiwan. Walaupun demikian, banyak murid-muridnya ketika lulus meneruskan studinya di RRT, sehingga orientasi politiknya tidak mutlak pro-Taiwan.

Setiap tahun pada hari nasional RRT, tanggal 1 Oktober, diselenggarakan pertandingan atletik antarsekolah Tionghoa se-Kota Surabaya. Pertandingan tersebut biasanya diadakan di lapangan sepak bola Tambaksari dan berlangsung selama beberapa hari. Suasananya meriah dan ramai. Sekolah menengah Chiao Lian tidak ikut dalam pertandingan atletik ini karena orientasi politik pimpinan sekolah dan guru-gurunya berkiblat ke Taiwan.

Di pecinan Surabaya juga terdapat berbagai toko yang menjual kelontong, P&D, sampai toko obat Tionghoa dan apotek. Juga terdapat hotel-hotel khusus untuk orang-orang Tionghoa. Di Jl Bakmi saja ada tiga hotel, yaitu Grand Hotel yang terbesar, Hotel Nan Zhou untuk orang-orang Hokkian, dan Hotel Hai Yong Zhou yang kebanyakan tamunya orang-orang Hakka.

Di Jl Kapasan ada dua hotel, yaitu Hotel Ganefo dan Hotel Hollywood, serta beberapa losmen. Hotel Hai Yong Zhou lokasinya di sebelah sekolah Chiao Nan. Hotel ini didirikan orang-orang Hakka. Mungkin dulu di sekitar Jl Bakmi penghuninya banyak orang Hakka atau berasal dari Provinsi Guangdong.

Hotel-hotel ini setiap hari ramai dikunjungi para pedagang Tionghoa dan tamu-tamu dengan keperluan lainnya. Banyaknya hotel di daerah tersebut membuktikan ramainya perdagangan di pecinan Surabaya pada era 1950-an.

Restoran-restoran terkenal di pecinan Surabaya yang saya ingat dalah Kiet Wan Kie, Tai Sie Hie, Nan Yuan dan beberapa lagi di dalam Pasar Pabean. Di samping itu, banyak terdapat warung-warung yang menjual bakmi pangsit, bakwan, hiwan, dan sebagainya.

Di luar pecinan juga terdapat banyak restoran besar dan menengah. Restoran peranakan yang terkenal adalah Hoenkwee Huis dan Helendoorn yang keduanya berlokasi di Tunjungan. Restoran-restoran Tionghoa biasanya milik orang-orang Guangzhou (Kanton). Kelezatan masakan orang-orang Kongfu memang sangat terkenal di dunia. Di samping itu, ada juga restoran gagrak Shanghai yang bernama 369 atau San Lo Jiu. Saya tidak pernah mendengar adanya restoran Sechuan di Surabaya.

Biasanya, setiap hari Minggu ada pesta perkawinan anak-anak orang kaya di restoran-restoran besar yang sangat ramai. Hiburannya musik Mandarin yang hingar-bingar dari Hongkong dan Shanghai. Jarang sekali diputar lagu-lagu Barat atau musik live seperti sekarang.

Teman saya, Chai Su-rung, adalah putra pemilik Restoran Tai Sie Hie yang terkenal di Surabaya. Sebelum saya meninggalkan Indonesia untuk huiguo, saya dan istri sempat makan di restoran ini. Saya memesan roti goreng ham yang merupakan favorit saya.

Daerah pertokoan bovenstad yang elit dan menjadi tempat belanja favorit orang-orang kaya Surabaya tempo doeloe terletak di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan (Panglima Sudirman, Red), dan Tegalsari. Kawasan ini bisa langsung terhubung ke Jl Raya Darmo, yang merupakan tempat tinggal orang-orang Belanda pegawai tinggi pemerintah atau pegawai tinggi perusahaan besar Belanda.

Daerah pertokoan yang paling ramai adalah Tunjungan. Di sini adaToko Aurora dan Tjijoda. Yang terakhir kepunyaan orang Jepang. Konon kabarnya, Toko Tjijoda adalah sarang mata-mata Jepang. Banyak dari mereka turut memimpin tentara Jepang ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda. Kedua toko ini adalah mal zaman dulu.

Setelah Perang Dunia II, di Tunjungan ada dua toko Tionghoa yang terkenal, yaitu Toko Piet dan Toko Nam, yang bisa menyaingi kedua toko kepunyaan Belanda dan Jepang tadi. Orang Tionghoa yang tinggal di pecinan jarang belanja di Tunjungan karena bisa membeli barang-barang di Kapasan dan Kembang Jepun. Kualitas barang-barangnya sama, tapi harganya lebih murah.

Kalau kita ingin menonton film-film Barat, kita harus keluar dari pecinan. Metropole Theatre berada di Pasar Besar, Luxor di seberangnya, Bioskop Rex di Tegalsari, Maxim di Palmenlaan, dan Capitol Theatre di Kranggan.

Tempat-tempat hiburan malam, yang umumnya untuk orang-orang kulit putih, berada di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan, dan Tegalsari. Yang masih saya ingat Simpang Club, tempat fine dining, berdansa, dan menonton konser musik Barat. Bangunan klub ini dengan arsitektur kolonial masih berdiri sampai sekarang.

Pada masa itu tidak setiap orang diperkenankan masuk ke dalam klub tersebut. Hanya pegawai-pegawai Belanda yang diperkenankan masuk. Tapi, setelah Indonesia merdeka, Simpang Club dapat dikunjungi masyarakat umum, asalkan punya uang untuk membayar. Menonton pertunjukan di sini kita harus berpakaian rapi. Beda dengan menonton pertunjukan kesenian di pecinan.

Pecinan di Yogyakarta


Source:
Kompas
Seri Konservasitaken from: Kompas

 


PECINAN DI YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta sebagai salah satu Ibukota Propinsi (bahkan Daerah Istimewa) memiliki juga kawasan pecinan. Kawasan pecinan terbesar tentunya jalan Ahmad Yani, disamping itu antara lain jalan Beskalan, Jalan Urip Sumoharjo dan daerah Malioboro.Sebagaimana umumnya pecinan di tanah Jawa, komoditi yang menjadi mata perdagangan berbeda dengan pecinan di negeri asing. Di pecinan Yogyakarta ini banyak toko milik keturunan China yang menjual tembakau, rempah, kain batik

Kawasan Malioboro, pedagang kaki limanya didominasi pedagang kuliner tradisional Yogyakarta, namun di dalam pertokoannya sendirio, masih banyak warga keturunan China yang berniaga di situ. Kampung bernama Kampung Pecinan (kini Jalan Pecinan diganti dengan nama Jalan Ahmad Yani) itu adalah tempat dimulainya kesuksesan pedagang Cina di Yogyakarta. Mengelilinginya, anda akan menjumpai beberapa toko dan kios bersejarah yang berusia puluhan tahun.

Perjalanan melancong umumnya dimulai dari bagian samping kampung itu, tepatnya di jalan sebelah Toko Batik Terang Bulan. Sampai di gang pertama, anda bisa berbelok ke kiri untuk menemukan tempat pengobatan Cina yang cukup legendaris. Di tempat itulah dulu seorang tabib ampuh mengobati penyakit patah tulang, hanya bermodalkan bubuk campuran tanaman obat yang ditempelkan pada permukaan kulit bagian tubuh yang tulangnya patah.

Berjalan keluar dari gang itu dan menuju arah timur, anda bisa menemukan berbagai kios-kios barang dan jasa dengan dinding umumnya berwarna putih. Salah satunya adalah kios tekniker gigi tradisional Cina yang melayani pemutihan gigi, penambahan aksesoris gigi untuk mempercantiknya hingga bermacam perawatan untuk menjadikannya semakin menawan. Kios jasa perawatan gigi itu biasanya memiliki tembok berwarna krem dengan jendela depan bergambar gigi.

Selain kios jasa perawatan gigi, anda pun bisa menemukan kios-kios yang menjual masakan cina seperti bakmi, cap cay, kwe tiau dan sebagainya. Kios-kios lain hingga kini bertahan dengan barang dagangan bahan-bahan kue, bakal pakaian, aksesoris dan sembako.

Dari toko Terang Bulan, bila anda berjalan ke barat, tepatnya menyusuri Jalan Pajeksan, anda juga akan menemui kios-kios serupa. Namun yang khas, di ujung jalan itu anda akan menemui rumah yang digunakan sebagai tempat berkumpul anggota Perhimpunan Fu Ching. Perhimpunan itu beranggotakan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal atau berdagang di wilayah itu. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada hari raya Imlek, anggota perhimpunan itu menggelar acara kesenian tradisional Cina.

Usai menyusuri kawasan tersebut, anda bisa menuju ke arah selatan dari toko batik Terang Bulan. Adalah sebuah toko roti yang sejak hampir seratus tahun lalu, toko bernama lengkap ‘Peroesahaan Roti dan Koewe Djoen’ itu telah menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Ketuaan usianya bisa dilihat jika anda berdiri di seberang jalannya, ditandai dengan nama toko yang tertulis di temboknya, sebuah ciri toko-toko di kawasan itu pada masa lalu. Kini, produknya telah menyesuaikan dengan selera pasar dengan mempertahankan beberapa yang khas, misalnya kue bantal, yaitu roti tawar bertabur wijen yang berbentuk pipih oval.


Source:

Sampai di kawasan Lor Pasar, masih banyak kios-kios tradisional yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari elektronik, peralatan menjahit dan aksesoris pakaian, peralatan memasak hingga perhiasan emas. Kawasan ini sejak lama telah dikenal masyarakat Jogja sebagai salah satu tempat mendapatkan kebutuhan dengan harga murah. Selain menjual barang-barang baru, beberapa kios juga menjual barang bekas.

Di kawasan Pecinan yang terletak di seberang Pasar Beringharjo, terdapat sebuah toko obat yang sudah cukup lama berdiri, yaitu ‘Toko Obat Bah Gemuk’. Di toko obat itulah dijual berbagai macam obat tradisional Cina yang dikenal manjur.Aroma herbal kering khas China sangat menyengat, memberikan sentuhan oriental yang sangat eksotis

Meski kini citra kawasan Pecinan ini sedikit memudar, namun adanya beberapa kios yang hingga kini masih bertahan menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi.

Dua Klenteng Tua JadiCagar Budaya

dari: Warta Kota 25 September 2012
Dua Klenteng Tua Jadi Cagar Budaya

Tangerang, Warta Kota
Dua klenteng di Kota Tangerang, Banten, masing-masing Boen Tek Bio dan Boen San Bio dijadikan cagar budaya sehingga para pengelola rumah ibadah itu dapat menjaga kelestarian serta dapat mempertahankan bentuk aslinya.

Boen Tek Bio Tangerang
Klenteng Boen Tek Bio

Boen San Bio Tangerang

Boen San Bio

“Kami mengharapkan para pengelola untuk dapat menjaga kelestarian klenteng tersebut karena sudah ditetapkan sebagai cagar budaya,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Tangerang, Tabrani, seperti dikutip Antara, Selasa (1/11).
Dia mengatakan, cagar budaya itu tentunya supaya dijaga dan bila ada yang merusak dapat dikenankan sanksi hukum.
Pernyataan Tabrani tersebut terkait keputusan Pemkot Tangerang yang sejak akhir Agustus 2011 menetapkan sembilan cagar budaya. Dua di antaranya adalah tempat ibadah (klenteng) yang usianya lebih dari 100 tahun dan memiliki makna sejarah.
Bangunan-bangunan yang masuk cagar budaya di Tangerang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi dan masih dalam bentuk asli dan usianya lebih dari ratusan tahun.
Semetnara itu, Bendungan Pasarbaru dibangun pada perintahan penjajahan Belanda dan sampai kini masih dapat berfungsi dengan baik untuk membendung air Kali Cisadane agar tidak meluap ke hilir mengenangi persawahan dan perkampungan penduduk.
Demikian pula Masjid Jami Kali Pasir yang tetap berdiri kokoh di sisi Kali Cisadane meski sempat mengalami perubahan.
Selain itu, bahwa tiga LP yang ada di wilayah ini juga usianya sudah lebih dari 100 tahun, maka bentuknya berbeda dengan LP sejenis di kota lainnya di Indonesia. (wit)

Nyicip lumpia khas Semarang

Lumpia Semarang adalah penganan khas kota Semarang. Selain lumpia, makanan khas Semarang masih banyak, antara lain Bandeng Presto atau bandeng duri lunak, wingko babat, enting-enting gepuk, tahu pong
Pada mulanya, bahan pengisi lumpia adalah mihun/bihun dan cincangan daging udang beserta daun bawang. Namun sekitar seabad lalu, di kota Semarang pasangan Tjoa Thay Yoe (Tionghoa) dan Wasih (Jawa) merintis lumpia yang bahan pengisinya adalah irisan rebung (tunas bambu muda) tipis-tipis. Usaha mereka ini kemudian diteruskan oleh keturunan mereka saat ini dan dikenal sebagai “Lumpia Semarang”.
Lumpia Semarang
Menurut pengalaman dan pemantauan penulis, saat ini di kota Semarang sendiri terdapat lima jenis lumpia Semarang dengan karakteristik dan cita rasa yang berbeda.
Pertama jenis Lumpia Gang Lombok (Siem Swie Kiem),masih merupakan salah satu sasaran pembeli oleh-oleh khas Semarang
kedua jenis Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie),
ketiga jenis Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio).
(Ketiga pedagang ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih dan yang terakhir adalah lumpia Jalan TanggaMus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim)
Jenis keempat adalah jenis lumpia yang dihasilkan sejumlah mantan pegawai lumpia Jalan Pemuda,maupun Mataram
dan jenis kelima adalah lumpia yang diproduksi orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil meniru lumpia yang sudah beredar, kadang disertai sedikit improvisasi (misalnya menambahkan mayonaise)

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (70), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (46) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.
Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi daging ayam kampung cincang. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Sedangkan generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka selain mantan karyawan mereka, ada juga pengusaha kuliner turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang. Di pasar-pasar tradisionil juga banyak penjaja lumpia Semarang yang umumnya dipasarkan dengan harga kurang dari separuh harga lumpia kelas oleh-oleh. Maklum selain ukurannya lebih kecil, lumpia pasaran ini kurang tahan lama dibanding lumpia Semarang asli.
Gerai Lumpia di Luar Kota Semarang
Di kota Jakarta
* Di Hypermart Puri
* Di Jalan Kemanggisan (terdapat tiga pedagang lumpia Semarang (dekat Binus) * Taman Kebon Jeruk Blok W 4/3, (Intercon) Jakarta Barat.Telp. 0818473999 (sumber Wartakota 5 Juni 2012) * Jl.Tanjung Duren Barat Belakang Mal Citraland
* Rumah Makan Swike Purwodadi “Bu Tatiek” Jalan Meruya

Pengaruh budaya Tionghoa pada budaya Indonesia

1.Batik

Batik Tionghoa merupakan olah tenun  pesisir Jawa Tengah, terutama di Kota Pekalongan dan kota Lasem yang dirintis oleh pendatang-pendatang dari propinsi Fujian (Hokkian) Tiongkok. menampilkan pola-pola dengan corak hias satwa mitologi Tiongkok , seperti naga, singa, burung  phoenix (burung hong), kura-kura, kilin (anjing berkepala singa), serta dewa dan  dewi . Di tanah Jawa, unsur kreasi dipadukan dengan ciri Jawa, seperti sulur-sulur dan bunga. Bila dibandingkan dengan batik pedalaman/pegunungan (Solo, Magelang), batik pesisir (Lasem, Pekalongan) lebih bernuansa merah (ngecreng)
Ada pula ragam hias yang berasal dari keramik China kuno, serta ragam hias berbentuk mega dengan warna merah atau merah dan biru.Pada perkembangannya, Batik China menampakkan pola-pola yang lebih beragam, antara lain pola-pola dengan pengaruh ragam hias Batik Keraton seperti yang terlihat pada Batik Dua Negeri dan Tiga Negeri.

Lasem terkenal dengan selendang lokcan-nya (burung phoenix/Fung) sebagai ragam hias utamanya, sedangkan Demak dan Kudus mempunyai ciri khas dalam isen latar, antara lain “gabah sinawur”, “dele kecer” dan “mrutu sewu”.

Pekalongan sebagai tempat terdapatnya perusahaan-perusahaan Batik China, menghasilkan karya-karya “terbaik” seperti Oey Soe Tjoen, The Tie Siet, Oey Kok Sing dan lain-lain, mempunyai ciri khas produk yang terpengaruh budaya Belanda

2.Musik

Adapun budaya Indonesia yang merupakan pembauran atau gabungan dari budaya China adalah orkes gambang kromong salah satunya. Orkes gambang kromong yang semulanya hanya digemari oleh kaum peranakan China saja pada waktu abad ke-18, lama kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsungnya proses pembauran. Secara fisik unsur China tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik unsur pribumi yaitu Gambang, Kromong, Gendang, Krecek dan Gong. Perpaduan kedua unsur kebudayaan ini tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya, lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Lenggang-lenggang kangkung dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak China, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Phe Pantaw, Sipatmo dan sebagainya. Sebutan untuk tangga nadanya pun berasal dari bahasa China yaitu Syang atau Hsyang, Ceh atau Tse, Kong, Oh atau ho, Uh Lio atau Liu dan Suh.  Salah satu musisi Tionghoa adalah Oei Yok Siang yang menciptakan lagu “Gambang Semarang”.

3.Kosa Kata dan Tata Bahasa

Orang betawi jika menanyakan harga akan bertanya “Berapa duit?” ini merupakan terjemahan dari “Tuo sao cien?”

Dalam kosa kata sehari-hari banyak istilah China yang sudah dianggap ‘punyanya’ orang Betawi. Padahal bukan. Seperti sebutan bilangan cepek (100), gopek (500), seceng (1000), atau panggilan engkong (kakek), sebutan Wa (yang dilafalkan menjadi Gua, saya), dan Lu (kamu).
Kata-kata sebutan itu identik sekali dengan bahsa Betawai. Menurt sejarawan, hal itu karena memang jaman dahulu orang-orang Betawi dan China sudah bersosialisasi, baik sebagai teman,sahabat, relasi bisnis .

4.Pakaian

Demikian pula dengan busana, terutama busana tradisional Betawi. Busana tradisional kaum pria Betawi, menurut Ridwan Saidi, terdiri dari celana batik, baju tikim warna putih, kain plekat yang disampirkan di bahu, penutup kepala atau ikat batik. Baju tikim itulah yg berasal dari Tionghoa. Pakaian pengantin tradisional Betawi juga demikian, banyak dipengaruhi kebudayaan Tionghoa.

5.Arsitektur

Di bidang asrsitektur, pengaruh Tionghoa juga cukup kuat mempengaruhi orang Betawi ketika membangun rumah.

Loteng adalah serapan dari Lou Tien, lalu bagian depan rumah Betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan (China: lan-kan). Lalu agar tampak indah dan tidak kusam, pintu dan jendela harus dicat (chat) ulang setiap tahun.

Di dinding tergantung lonceng (lo-ceng). Penghuni rumah tidur di pangkeng (pang-keng) ‘kamar tidur’. Sebelum tidur orang tentunya ingin kongko (kong-kou) atau ‘mengobrol’ terlebih dahulu sambil minum teh (te) dan makan kuaci (koa-ci). Sementara Ta’pang (tah-pang) ‘balai-balai’ atau ‘dipan’ dipakai untuk rebah-rebahan sambil bersantai.

Untuk memasak di dapur ada langseng (lang-sng) yang artinya kurang lebih ‘dandang’, anglo (hang-lou) ‘perapian dengan arang’. Meja bisa dibersihkan dengan topo’ (toh-pou) atau ‘lap meja’, atau pakai kemoceng (ke-mo-cheng) ‘bulu ayam’ untuk menghilangkan debunya. Untuk mengumpulkan sampah yang sudah disapu ada pengki (pun-ki). Sementara di tempat-tempat becek dulu orang suka memakai bakiak (bak-kiah).

6.Makanan

Tak pelak lagi, kuliner di Indonesia sarat pengaruh Tionghoa, nama kecap yang berasal dari kata ke-ciap. Lalu nama-nama jenis bahan makanan seperti,  Mi (mi), bihun (bi-hun), tahu (tau-hu), toge (tau-ge), tauco (tau-cioun), kucai (ku-chai), lokio (lou-kio), juhi (jiu-hi), ebi (he-bi), dan tepung hunkwee (hun-koe) tak terpisahkan dari kuliner Betawi.

7.Pertunjukan

  1. Barongsai

Menjelang perayaan Cap Go Meh, atraksi Barongsai di berbagai kawasan di Indonesia,  terus digelar dari tempat ke tempat..

Atraksi Barongsai ini menjadi tontonan warga yang kebetulan melintas atau memang bekerja di kawasan itu. Bagi warga yang bermukim di kawasan ini yang kebanyakan warga etnis Cina tentunya punya makna tersendiri. Atraksi Barongsai ini merupakan ungkapan rasa syukur atas apa yang telah didapat sepanjang tahun.

Atraksi Barongsai ini biasanya juga berdasarkan ‘booking’. Kalau ada yang memboking mereka untuk tampil di suatu tempat barulah mereka mengadakan atraksi.

Umumnya yang memesan adalah orang Cina juga, tapi tidak jarang pula mereka dipesan oleh non Cina. Tujuannya mungkin berbeda, kalau orang Cina pasti dengan harapan dapat berkah sekaligus mengungkapkan rasa syukur, sedangkan orang non Cina hanya karena memang menyukai Barongsai, mungkin hanya sekedar hiburan saja.

Cap Go Meh adalah hari ke lima belas setelah tahun baru Imlek yang mana pada hari itu menjadi hari puncak peringatan tahun baru. Pada hari itu akan ada ritual dan sembahyang di vihara. Sementara itu Barongsai, sebenarnya adalah akulturasi budaya orang Cina di Indonesia, karena istilah Barongsai cuma ada di Indonesia. Sementara di negeri Cina sendiri hanya dikenal Liong Samsi atau sering dikenal dengan Festival Naga.

  1. Wayang Potehi

Wayang potehi merupakan salah satu jenis wayang khas tionghoa yang berasal dari cina bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis tionghoa ke berbagai wilayah nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional indonesia. Cerita yang ditampilkan berasal dari legenda rakyat tiongkok, seperti sampek engthay, sih djienkoei, capsha thaypoo, sungokong, dll.

Belajar dari Go Tik Swan

 

Kemahiran Go Tik Swan dalam menarikan Jawa Klasik. (Foto: brillio, dari buku "Jawa Sejati")

Kemahiran Go Tik Swan dalam menarikan Jawa Klasik. (Foto: brillio, dari buku “Jawa Sejati”)

DALAM lintasan sejarah Nusantara, etnis Tionghoa memiliki andil yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelum abad kesepuluh, etnis Tionghoa telah meramaikan jagat perdagangan bumi pertiwi. Bahkan I Tsing, pendeta Budha dari negeri Tirai Bambu itu, juga berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Sriwijaya.

Setelahnya, berangsur-angsur jejak sejarah yang baik telah ditorehkan oleh negeri berpenduduk besar itu. Di antaranya jalinan kerjasama antarnegara yang dipelopori  oleh Zheng He (Cheng Ho), hingga pertukaran misi kebudayaan berupa agama  dan akulturasi yang harmonis pada produk-produk budaya.

Sebut saja Warak Ngendhog di Semarang yang mengadaptasi liong, atau pembangunan Masjid Sekayu oleh dua Muslim Tionghoa yang hingga saat ini artefaknya masih bisa dijumpai di blandar-nya.

Pada abad kedelapan belas, pada peristiwa Geger Pacina 1740-1743 yang menguras energi, etnis Tionghoa muncul  di depan sebagai sang pemimpin. Tokoh-tokoh seperti Sunan Kuning dan Kapiten Sepanjang menjadi dua di antaranya yang dikenang hingga hari ini.

Memasuki abad keduapuluh, etnis Tionghoa kembali menoreh warna emas pada perjalanan sejarah  bangsa. Di Volkskunstvereeniging Sobokartti yang didirikan di awal 1900-an, etnis Tionghoa turut berperan di dalamnya.

Go Tik Swan, Sang Pengemban

Go Tik Swan lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta, pada 11 Mei 1931. Dia lahir di tengah keluarga Tionghoa yang cukup disegani pada masa itu dan memiliki hubungan dekat dengan Keraton Solo. Ayahnya, seorang pengusaha batik bernama Go Ghiam Ik, merupakan cucu dari Luitenant der Chinezen dari Boyolali. Sedangkan ibunya, Tjan Ging Nio, cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Kelekatannya dengan budaya Jawa mulai terlihat sejak belia. Go Tik Swan banyak belajar macapat, suluk dan antawacana dalam pedalangan, gendhing-gendhing, hingga aksara dan tarian Jawa. Kesemua ilmu itu diperolehnya dari  para pembatik yang bekerja di pembatikan milik kakeknya, Tjan Khay Sing.

Tik Swan yang mendalami tari Jawa Klasik pada G.P.H. Prabuwinata -putra Pakubuwono IX – dan Pangeran Hamidjojo -putra Pakubowono X- menjadikannya sebagai penari terbaik gaya Surakarta dari kalangan Tionghoa.

Kecintaan mendalam pada budaya Jawa mendorong Tik Swan untuk menempuh studi di jurusan Sastra Jawa, Fakultas Sastra  dan Filsafat, Universitas Indonesia.

Teguh Mempertahankan KeJawaan

Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia di Istana Negara pada 1955, Tik Swan yang saat itu telah menggunakan nama Hardjonagoro, menampilkan kemahirannya dalam menarikan Tari Gambir Anom.  Presiden Soekarno yang turut hadir pun dibuat terpikat. Bagaimana  mungkin, seorang Tionghoa mampu membawakan tarian Jawa dengan sangat apiknya?

Batik Sawunggaling, salah satu karya Go Tik Swan. (Foto: The Jakarta Post)

Batik Sawunggaling, salah satu karya Go Tik Swan. (Foto: The Jakarta Post)

Presiden Soekarno yang pada akhirnya mengetahui jika keluarga Go Tik Swan merupakan pengusaha batik, menyarankan Tik Swan untuk menciptakan Batik Indonesia, batik yang tidak beridentitas lokal seperti batik Solo atau Pekalongan.

Go Tik Swan berhasil mengantarkan batik ke puncak kejayaan pada dekade 60-70an. Sekitar 200 motif batik Indonesia yang diciptakannya menjadi primadona wanita kelas atas pada masanya.

Tik Swan tutup usia pada 5 November 2008, di usianya yang ke-77 tahun. Pria yang pernah menjabat sebagai Dikrektur Museum Radyapustaka Surakarta itu berperan dalam pendirian paguyuban pecinta keris Bawarasa Tosan Aji (BTA) dan memprakarsai berdirinya Art Gallery Karaton Surakarta.

Penghargaan tertinggi yang diperolehnya antara lain gelar Panembahan Hardjonagoro dan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

dikutip dari: Suara Merdeka

(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)