Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Asimilasi/Pembauran

Pecinan di Yogyakarta


Source:
Kompas
Seri Konservasitaken from: Kompas

 


PECINAN DI YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta sebagai salah satu Ibukota Propinsi (bahkan Daerah Istimewa) memiliki juga kawasan pecinan. Kawasan pecinan terbesar tentunya jalan Ahmad Yani, disamping itu antara lain jalan Beskalan, Jalan Urip Sumoharjo dan daerah Malioboro.Sebagaimana umumnya pecinan di tanah Jawa, komoditi yang menjadi mata perdagangan berbeda dengan pecinan di negeri asing. Di pecinan Yogyakarta ini banyak toko milik keturunan China yang menjual tembakau, rempah, kain batik

Kawasan Malioboro, pedagang kaki limanya didominasi pedagang kuliner tradisional Yogyakarta, namun di dalam pertokoannya sendirio, masih banyak warga keturunan China yang berniaga di situ. Kampung bernama Kampung Pecinan (kini Jalan Pecinan diganti dengan nama Jalan Ahmad Yani) itu adalah tempat dimulainya kesuksesan pedagang Cina di Yogyakarta. Mengelilinginya, anda akan menjumpai beberapa toko dan kios bersejarah yang berusia puluhan tahun.

Perjalanan melancong umumnya dimulai dari bagian samping kampung itu, tepatnya di jalan sebelah Toko Batik Terang Bulan. Sampai di gang pertama, anda bisa berbelok ke kiri untuk menemukan tempat pengobatan Cina yang cukup legendaris. Di tempat itulah dulu seorang tabib ampuh mengobati penyakit patah tulang, hanya bermodalkan bubuk campuran tanaman obat yang ditempelkan pada permukaan kulit bagian tubuh yang tulangnya patah.

Berjalan keluar dari gang itu dan menuju arah timur, anda bisa menemukan berbagai kios-kios barang dan jasa dengan dinding umumnya berwarna putih. Salah satunya adalah kios tekniker gigi tradisional Cina yang melayani pemutihan gigi, penambahan aksesoris gigi untuk mempercantiknya hingga bermacam perawatan untuk menjadikannya semakin menawan. Kios jasa perawatan gigi itu biasanya memiliki tembok berwarna krem dengan jendela depan bergambar gigi.

Selain kios jasa perawatan gigi, anda pun bisa menemukan kios-kios yang menjual masakan cina seperti bakmi, cap cay, kwe tiau dan sebagainya. Kios-kios lain hingga kini bertahan dengan barang dagangan bahan-bahan kue, bakal pakaian, aksesoris dan sembako.

Dari toko Terang Bulan, bila anda berjalan ke barat, tepatnya menyusuri Jalan Pajeksan, anda juga akan menemui kios-kios serupa. Namun yang khas, di ujung jalan itu anda akan menemui rumah yang digunakan sebagai tempat berkumpul anggota Perhimpunan Fu Ching. Perhimpunan itu beranggotakan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal atau berdagang di wilayah itu. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada hari raya Imlek, anggota perhimpunan itu menggelar acara kesenian tradisional Cina.

Usai menyusuri kawasan tersebut, anda bisa menuju ke arah selatan dari toko batik Terang Bulan. Adalah sebuah toko roti yang sejak hampir seratus tahun lalu, toko bernama lengkap ‘Peroesahaan Roti dan Koewe Djoen’ itu telah menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Ketuaan usianya bisa dilihat jika anda berdiri di seberang jalannya, ditandai dengan nama toko yang tertulis di temboknya, sebuah ciri toko-toko di kawasan itu pada masa lalu. Kini, produknya telah menyesuaikan dengan selera pasar dengan mempertahankan beberapa yang khas, misalnya kue bantal, yaitu roti tawar bertabur wijen yang berbentuk pipih oval.


Source:

Sampai di kawasan Lor Pasar, masih banyak kios-kios tradisional yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari elektronik, peralatan menjahit dan aksesoris pakaian, peralatan memasak hingga perhiasan emas. Kawasan ini sejak lama telah dikenal masyarakat Jogja sebagai salah satu tempat mendapatkan kebutuhan dengan harga murah. Selain menjual barang-barang baru, beberapa kios juga menjual barang bekas.

Di kawasan Pecinan yang terletak di seberang Pasar Beringharjo, terdapat sebuah toko obat yang sudah cukup lama berdiri, yaitu ‘Toko Obat Bah Gemuk’. Di toko obat itulah dijual berbagai macam obat tradisional Cina yang dikenal manjur.Aroma herbal kering khas China sangat menyengat, memberikan sentuhan oriental yang sangat eksotis

Meski kini citra kawasan Pecinan ini sedikit memudar, namun adanya beberapa kios yang hingga kini masih bertahan menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi.

Nyicip lumpia khas Semarang

Lumpia Semarang adalah penganan khas kota Semarang. Selain lumpia, makanan khas Semarang masih banyak, antara lain Bandeng Presto atau bandeng duri lunak, wingko babat, enting-enting gepuk, tahu pong
Pada mulanya, bahan pengisi lumpia adalah mihun/bihun dan cincangan daging udang beserta daun bawang. Namun sekitar seabad lalu, di kota Semarang pasangan Tjoa Thay Yoe (Tionghoa) dan Wasih (Jawa) merintis lumpia yang bahan pengisinya adalah irisan rebung (tunas bambu muda) tipis-tipis. Usaha mereka ini kemudian diteruskan oleh keturunan mereka saat ini dan dikenal sebagai “Lumpia Semarang”.
Lumpia Semarang
Menurut pengalaman dan pemantauan penulis, saat ini di kota Semarang sendiri terdapat lima jenis lumpia Semarang dengan karakteristik dan cita rasa yang berbeda.
Pertama jenis Lumpia Gang Lombok (Siem Swie Kiem),masih merupakan salah satu sasaran pembeli oleh-oleh khas Semarang
kedua jenis Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie),
ketiga jenis Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio).
(Ketiga pedagang ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih dan yang terakhir adalah lumpia Jalan TanggaMus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim)
Jenis keempat adalah jenis lumpia yang dihasilkan sejumlah mantan pegawai lumpia Jalan Pemuda,maupun Mataram
dan jenis kelima adalah lumpia yang diproduksi orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil meniru lumpia yang sudah beredar, kadang disertai sedikit improvisasi (misalnya menambahkan mayonaise)

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (70), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (46) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.
Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi daging ayam kampung cincang. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Sedangkan generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka selain mantan karyawan mereka, ada juga pengusaha kuliner turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang. Di pasar-pasar tradisionil juga banyak penjaja lumpia Semarang yang umumnya dipasarkan dengan harga kurang dari separuh harga lumpia kelas oleh-oleh. Maklum selain ukurannya lebih kecil, lumpia pasaran ini kurang tahan lama dibanding lumpia Semarang asli.
Gerai Lumpia di Luar Kota Semarang
Di kota Jakarta
* Di Hypermart Puri
* Di Jalan Kemanggisan (terdapat tiga pedagang lumpia Semarang (dekat Binus) * Taman Kebon Jeruk Blok W 4/3, (Intercon) Jakarta Barat.Telp. 0818473999 (sumber Wartakota 5 Juni 2012) * Jl.Tanjung Duren Barat Belakang Mal Citraland
* Rumah Makan Swike Purwodadi “Bu Tatiek” Jalan Meruya

Pengaruh budaya Tionghoa pada budaya Indonesia

1.Batik

Batik Tionghoa merupakan olah tenun  pesisir Jawa Tengah, terutama di Kota Pekalongan dan kota Lasem yang dirintis oleh pendatang-pendatang dari propinsi Fujian (Hokkian) Tiongkok. menampilkan pola-pola dengan corak hias satwa mitologi Tiongkok , seperti naga, singa, burung  phoenix (burung hong), kura-kura, kilin (anjing berkepala singa), serta dewa dan  dewi . Di tanah Jawa, unsur kreasi dipadukan dengan ciri Jawa, seperti sulur-sulur dan bunga. Bila dibandingkan dengan batik pedalaman/pegunungan (Solo, Magelang), batik pesisir (Lasem, Pekalongan) lebih bernuansa merah (ngecreng)
Ada pula ragam hias yang berasal dari keramik China kuno, serta ragam hias berbentuk mega dengan warna merah atau merah dan biru.Pada perkembangannya, Batik China menampakkan pola-pola yang lebih beragam, antara lain pola-pola dengan pengaruh ragam hias Batik Keraton seperti yang terlihat pada Batik Dua Negeri dan Tiga Negeri.

Lasem terkenal dengan selendang lokcan-nya (burung phoenix/Fung) sebagai ragam hias utamanya, sedangkan Demak dan Kudus mempunyai ciri khas dalam isen latar, antara lain “gabah sinawur”, “dele kecer” dan “mrutu sewu”.

Pekalongan sebagai tempat terdapatnya perusahaan-perusahaan Batik China, menghasilkan karya-karya “terbaik” seperti Oey Soe Tjoen, The Tie Siet, Oey Kok Sing dan lain-lain, mempunyai ciri khas produk yang terpengaruh budaya Belanda

2.Musik

Adapun budaya Indonesia yang merupakan pembauran atau gabungan dari budaya China adalah orkes gambang kromong salah satunya. Orkes gambang kromong yang semulanya hanya digemari oleh kaum peranakan China saja pada waktu abad ke-18, lama kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsungnya proses pembauran. Secara fisik unsur China tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik unsur pribumi yaitu Gambang, Kromong, Gendang, Krecek dan Gong. Perpaduan kedua unsur kebudayaan ini tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya, lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Lenggang-lenggang kangkung dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak China, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Phe Pantaw, Sipatmo dan sebagainya. Sebutan untuk tangga nadanya pun berasal dari bahasa China yaitu Syang atau Hsyang, Ceh atau Tse, Kong, Oh atau ho, Uh Lio atau Liu dan Suh.  Salah satu musisi Tionghoa adalah Oei Yok Siang yang menciptakan lagu “Gambang Semarang”.

3.Kosa Kata dan Tata Bahasa

Orang betawi jika menanyakan harga akan bertanya “Berapa duit?” ini merupakan terjemahan dari “Tuo sao cien?”

Dalam kosa kata sehari-hari banyak istilah China yang sudah dianggap ‘punyanya’ orang Betawi. Padahal bukan. Seperti sebutan bilangan cepek (100), gopek (500), seceng (1000), atau panggilan engkong (kakek), sebutan Wa (yang dilafalkan menjadi Gua, saya), dan Lu (kamu).
Kata-kata sebutan itu identik sekali dengan bahsa Betawai. Menurt sejarawan, hal itu karena memang jaman dahulu orang-orang Betawi dan China sudah bersosialisasi, baik sebagai teman,sahabat, relasi bisnis .

4.Pakaian

Demikian pula dengan busana, terutama busana tradisional Betawi. Busana tradisional kaum pria Betawi, menurut Ridwan Saidi, terdiri dari celana batik, baju tikim warna putih, kain plekat yang disampirkan di bahu, penutup kepala atau ikat batik. Baju tikim itulah yg berasal dari Tionghoa. Pakaian pengantin tradisional Betawi juga demikian, banyak dipengaruhi kebudayaan Tionghoa.

5.Arsitektur

Di bidang asrsitektur, pengaruh Tionghoa juga cukup kuat mempengaruhi orang Betawi ketika membangun rumah.

Loteng adalah serapan dari Lou Tien, lalu bagian depan rumah Betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan (China: lan-kan). Lalu agar tampak indah dan tidak kusam, pintu dan jendela harus dicat (chat) ulang setiap tahun.

Di dinding tergantung lonceng (lo-ceng). Penghuni rumah tidur di pangkeng (pang-keng) ‘kamar tidur’. Sebelum tidur orang tentunya ingin kongko (kong-kou) atau ‘mengobrol’ terlebih dahulu sambil minum teh (te) dan makan kuaci (koa-ci). Sementara Ta’pang (tah-pang) ‘balai-balai’ atau ‘dipan’ dipakai untuk rebah-rebahan sambil bersantai.

Untuk memasak di dapur ada langseng (lang-sng) yang artinya kurang lebih ‘dandang’, anglo (hang-lou) ‘perapian dengan arang’. Meja bisa dibersihkan dengan topo’ (toh-pou) atau ‘lap meja’, atau pakai kemoceng (ke-mo-cheng) ‘bulu ayam’ untuk menghilangkan debunya. Untuk mengumpulkan sampah yang sudah disapu ada pengki (pun-ki). Sementara di tempat-tempat becek dulu orang suka memakai bakiak (bak-kiah).

6.Makanan

Tak pelak lagi, kuliner di Indonesia sarat pengaruh Tionghoa, nama kecap yang berasal dari kata ke-ciap. Lalu nama-nama jenis bahan makanan seperti,  Mi (mi), bihun (bi-hun), tahu (tau-hu), toge (tau-ge), tauco (tau-cioun), kucai (ku-chai), lokio (lou-kio), juhi (jiu-hi), ebi (he-bi), dan tepung hunkwee (hun-koe) tak terpisahkan dari kuliner Betawi.

7.Pertunjukan

  1. Barongsai

Menjelang perayaan Cap Go Meh, atraksi Barongsai di berbagai kawasan di Indonesia,  terus digelar dari tempat ke tempat..

Atraksi Barongsai ini menjadi tontonan warga yang kebetulan melintas atau memang bekerja di kawasan itu. Bagi warga yang bermukim di kawasan ini yang kebanyakan warga etnis Cina tentunya punya makna tersendiri. Atraksi Barongsai ini merupakan ungkapan rasa syukur atas apa yang telah didapat sepanjang tahun.

Atraksi Barongsai ini biasanya juga berdasarkan ‘booking’. Kalau ada yang memboking mereka untuk tampil di suatu tempat barulah mereka mengadakan atraksi.

Umumnya yang memesan adalah orang Cina juga, tapi tidak jarang pula mereka dipesan oleh non Cina. Tujuannya mungkin berbeda, kalau orang Cina pasti dengan harapan dapat berkah sekaligus mengungkapkan rasa syukur, sedangkan orang non Cina hanya karena memang menyukai Barongsai, mungkin hanya sekedar hiburan saja.

Cap Go Meh adalah hari ke lima belas setelah tahun baru Imlek yang mana pada hari itu menjadi hari puncak peringatan tahun baru. Pada hari itu akan ada ritual dan sembahyang di vihara. Sementara itu Barongsai, sebenarnya adalah akulturasi budaya orang Cina di Indonesia, karena istilah Barongsai cuma ada di Indonesia. Sementara di negeri Cina sendiri hanya dikenal Liong Samsi atau sering dikenal dengan Festival Naga.

  1. Wayang Potehi

Wayang potehi merupakan salah satu jenis wayang khas tionghoa yang berasal dari cina bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis tionghoa ke berbagai wilayah nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional indonesia. Cerita yang ditampilkan berasal dari legenda rakyat tiongkok, seperti sampek engthay, sih djienkoei, capsha thaypoo, sungokong, dll.

Belajar dari Go Tik Swan

 

Kemahiran Go Tik Swan dalam menarikan Jawa Klasik. (Foto: brillio, dari buku "Jawa Sejati")

Kemahiran Go Tik Swan dalam menarikan Jawa Klasik. (Foto: brillio, dari buku “Jawa Sejati”)

DALAM lintasan sejarah Nusantara, etnis Tionghoa memiliki andil yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelum abad kesepuluh, etnis Tionghoa telah meramaikan jagat perdagangan bumi pertiwi. Bahkan I Tsing, pendeta Budha dari negeri Tirai Bambu itu, juga berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Sriwijaya.

Setelahnya, berangsur-angsur jejak sejarah yang baik telah ditorehkan oleh negeri berpenduduk besar itu. Di antaranya jalinan kerjasama antarnegara yang dipelopori  oleh Zheng He (Cheng Ho), hingga pertukaran misi kebudayaan berupa agama  dan akulturasi yang harmonis pada produk-produk budaya.

Sebut saja Warak Ngendhog di Semarang yang mengadaptasi liong, atau pembangunan Masjid Sekayu oleh dua Muslim Tionghoa yang hingga saat ini artefaknya masih bisa dijumpai di blandar-nya.

Pada abad kedelapan belas, pada peristiwa Geger Pacina 1740-1743 yang menguras energi, etnis Tionghoa muncul  di depan sebagai sang pemimpin. Tokoh-tokoh seperti Sunan Kuning dan Kapiten Sepanjang menjadi dua di antaranya yang dikenang hingga hari ini.

Memasuki abad keduapuluh, etnis Tionghoa kembali menoreh warna emas pada perjalanan sejarah  bangsa. Di Volkskunstvereeniging Sobokartti yang didirikan di awal 1900-an, etnis Tionghoa turut berperan di dalamnya.

Go Tik Swan, Sang Pengemban

Go Tik Swan lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta, pada 11 Mei 1931. Dia lahir di tengah keluarga Tionghoa yang cukup disegani pada masa itu dan memiliki hubungan dekat dengan Keraton Solo. Ayahnya, seorang pengusaha batik bernama Go Ghiam Ik, merupakan cucu dari Luitenant der Chinezen dari Boyolali. Sedangkan ibunya, Tjan Ging Nio, cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Kelekatannya dengan budaya Jawa mulai terlihat sejak belia. Go Tik Swan banyak belajar macapat, suluk dan antawacana dalam pedalangan, gendhing-gendhing, hingga aksara dan tarian Jawa. Kesemua ilmu itu diperolehnya dari  para pembatik yang bekerja di pembatikan milik kakeknya, Tjan Khay Sing.

Tik Swan yang mendalami tari Jawa Klasik pada G.P.H. Prabuwinata -putra Pakubuwono IX – dan Pangeran Hamidjojo -putra Pakubowono X- menjadikannya sebagai penari terbaik gaya Surakarta dari kalangan Tionghoa.

Kecintaan mendalam pada budaya Jawa mendorong Tik Swan untuk menempuh studi di jurusan Sastra Jawa, Fakultas Sastra  dan Filsafat, Universitas Indonesia.

Teguh Mempertahankan KeJawaan

Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia di Istana Negara pada 1955, Tik Swan yang saat itu telah menggunakan nama Hardjonagoro, menampilkan kemahirannya dalam menarikan Tari Gambir Anom.  Presiden Soekarno yang turut hadir pun dibuat terpikat. Bagaimana  mungkin, seorang Tionghoa mampu membawakan tarian Jawa dengan sangat apiknya?

Batik Sawunggaling, salah satu karya Go Tik Swan. (Foto: The Jakarta Post)

Batik Sawunggaling, salah satu karya Go Tik Swan. (Foto: The Jakarta Post)

Presiden Soekarno yang pada akhirnya mengetahui jika keluarga Go Tik Swan merupakan pengusaha batik, menyarankan Tik Swan untuk menciptakan Batik Indonesia, batik yang tidak beridentitas lokal seperti batik Solo atau Pekalongan.

Go Tik Swan berhasil mengantarkan batik ke puncak kejayaan pada dekade 60-70an. Sekitar 200 motif batik Indonesia yang diciptakannya menjadi primadona wanita kelas atas pada masanya.

Tik Swan tutup usia pada 5 November 2008, di usianya yang ke-77 tahun. Pria yang pernah menjabat sebagai Dikrektur Museum Radyapustaka Surakarta itu berperan dalam pendirian paguyuban pecinta keris Bawarasa Tosan Aji (BTA) dan memprakarsai berdirinya Art Gallery Karaton Surakarta.

Penghargaan tertinggi yang diperolehnya antara lain gelar Panembahan Hardjonagoro dan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

dikutip dari: Suara Merdeka

(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)