Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tiongkok daratan

Kisah selir raja penyelamat kerajaan

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada “3 ta”, yaitu Tahta, Harta dan Wanita…

Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria).

Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri.

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya.

Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan.

Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti.

“Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri,” sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya.

Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya…

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit.

Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu.

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar.

Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai “Puteri kebajikan nan tak tertandingi!” Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan.

Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani.

Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing.

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka.

Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai “Kota Terlarang” penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri.

Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi!

Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

RENUNGAN :
Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang.

Dikutip dari Buku Anchee Min ,dan Kisah Hidup.

Pengusaha wanita nomer satu pada era Dinasti Qin di Tiongkok

Pengusaha Wanita Nomor Satu di Era Dinasti Qin (1)


Mendiang buyut almarhum suami Qing secara kebetulan menemukan tambang cinnabar dalam gua pegunungan yang pada waktu itu sangat berharga, dan keluarga suaminya secara turun temurun mengolahnya, jaringan perniagaannya meliputi seluruh Tiongkok, berhasil menjadi saudagar terkaya di wilayah Ba Shu. Gambar adalah cinnabar yang masih dalam bentuk kristal di atas batu dolomite. (JJ Harrison / Wikipedia)

Oleh: Liu Di

Sejarah dari Tiongkok Kuno 2100 Tahun Silam. Qing Janda Dari Keresidenan Ba

Dalam “Historical records: Biographies of Merchants (“Catatan Sejarah, Biografi Pedagang” ditulis oleh Sima Qian sekitar 2.100 tahun silam)” tercatat: “Qing (dibaca: Jing) janda dari keresidenan Ba (dibaca: Pa) yang leluhurnya mendapatkan tambang cinnabar, dan memperoleh keuntungan selama beberapa generasi, keluarganya senantiasa tidak tercemar.

Qing, seorang janda, dapat mempertahankan usahanya, menggunakan kekayaannya untuk menjaga diri, tidak nampak yang mengganggu. Kaisar dinasti Qin (dibaca: Jin) memandangnya sebagai wanita yang taat (menjaga status kejandaannya) sehingga menghargainya bagaikan tamu terhormat dan mendirikan menara untuk mengenangnya. Qing seorang janda dari desa terpencil, dengan tata krama mengatasi berbagai kekuatan, namanya menjadi sangat terkenal, bukankah merupakan kekayaan yang tidak biasa?”

Seorang pengusaha wanita, dengan kekayaan yang melimpah sudah merupakan kisah yang menggemparkan, lagi pula karena kekayaan dan wawasannya telah memperoleh perlakuan dan penghormatan yang istimewa dari sang kaisar, sungguh merupakan cerita fantastis yang langka.

Pakar sejarah di zaman Tiongkok kuno, Sima Qian (dibaca: Sema Jien, 145SM – 90SM) menuliskan hanya dengan seratus aksara tak sampai, secara ringkas menguraikan riwayat hidup wanita ini, justru telah meninggalkan warna misteri kepada generasi sesudahnya.

Qing, boleh jadi merupakan wanita terkaya pada dinasti Qin, juga merupakan wanita yang paling diagungkan pada Dinasti Qin. Dari catatan sederhana dalam kitab kuno tersebut, dapat diketahui, sosoknya seolah-olah memancarkan kegemerlapan bayangan kaisar Qin yakni Kaisar Pertama Dinasti Qin yang melanjutkan kedahsyatan enam generasi raja-raja sebelumnya. Mencaplok dua negeri Zhou dan menduduki enam negeri lainnya, dengan demikian telah mendirikan sebuah kekaisaran yang menyatukan seluruh negeri Tiongkok untuk kali pertama dalam sejarah.

Sedangkan madam Qing, melanjutkan usaha almarhum suaminya, dengan ketekunan luar biasa, berhasil meraih kekayaan yang dapat menandingi negara, terlebih lagi telah mendirikan kerajaan monopoli perdagangan dalam bidang penambangan cinnabar (batuan sumber utama penghasil logam merkuri/air raksa, dengan rumus kimia HgS/merkuri II sulfida). Sepertinya hal itu telah mengkodratkan dia untuk memperluas cakrawalanya dari halaman rumah pribadi menembus kedalaman istana kekaisaran yang megah, maka terajutlah sebuah gubahan cerita rakyat tentang kearifan sang kaisar dan seorang hamba rakyat yang berbudi luhur.

Menerima perintah dalam menghadapi bahaya, tokoh terkemuka yang menonjol di antara wanita

Orang macam apakah Qing janda dari keresidenan Ba?

“Catatan Sejarah” hanya sepintas lalu menuliskan aksara “Qing.” Menurut catatan versi kitab kuno “The Chronicles of Huayang” bahwa perempuan anggun itu dilahirkan di keresidenan Ba kabupaten Zhi. Pada 316 SM, Qin memusnahkan negeri Ba Shu dengan sendirinya juga menguasai keresidenan Ba. Qing hidup satu generasi dengan Shi Huang Di, Kaisar Pertama Dinasti Qin (259SM – 210SM), ketika dilahirkan sudah menjadi rakyat negara dinasti Qin.

Tokoh legendaris Qing terutama mendapatkan pengayoman dari nenek moyang suaminya. Konon, buyut dari suami Qing adalah seorang tabib terkenal, suatu hari ketika mencari obat, berteduh menghindari hujan di sebuah gua di atas gunung, secara kebetulan menemukan di dalam gua itu dipenuhi dengan batuan kristal berbentuk belah ketupat berwarna merah dan coklat. Inilah tambang cinnaber yang pada zaman itu termasuk langka, bagi seorang dokter/tabib, salah satu khasiat dari benda itu merupakan obat mujarab yang hanya dapat dijumpai karena keberuntungan.

Sejak saat itu, keluarga suami Qing secara turun temurun menambang cinnaber, jaringan bisnisnya meliputi seluruh negeri Tiongkok. Ketika mempersunting Qing yang kala itu berusia 18 tahun, keluarga suaminya sudah menjadi pengusaha terkaya di wilayah Ba Shu (sekarang provinsi Sichuan dan sekitarnya di wilayah Barat Daya Tiongkok).

Satu tahun setelah Qing menikah, mertuanya meninggal dunia, tiga tahun kemudian, suaminya juga menyusul karena terserang penyakit. Dalam waktu sekejap, usaha keluarga yang sedemikian besar mengalami krisis kehilangan penerus, wanita sebatang kara yang belum lama mengarungi dunia fana ini, tiada sempat lagi menghiraukan kesedihan sebagai janda muda, dengan sekuatnya memikul beban berat keluarga.

Dia melangkah keluar belajar memanajemeni usaha keluarganya dan tidak segan mengeluarkan biaya tinggi untuk membentuk pasukan pengawal pribadi yang melindungi berlangsungnya usaha tambang air raksa secara normal berikut keselamatan diri serta keluarganya.

Setelah lewat beberapa tahun, dia tetap dengan tenang tinggal sendiri sebagai janda dan dengan sepenuh hati mengelola usaha keluarga, menjadi pemilik wanita yang sebenarnya dari usaha keluarga suaminya. Qing, sang janda dari keresidenan Ba, berhasil menjadi orang paling kaya di negara Qin.

Seberapa besarkah sebenarnya kekayaannya itu?

Menurut “The Cronicle of Chang Shou” pada dinasti Qing, dia memiliki ribuan pembantu dan sepuluh ribu lebih pengawal pribadi. Warga kabupaten Zhi pada era dinasti Qin hanya sekitar 50.000-an orang, dimana Qing berdomisili, maka berarti dia telah mengamankan seperlima kesejahteraan warga setempat.

Qing, seorang  janda, mirip sekali dengan seorang raja tanpa mahkota di daerah keresidenan Ba, bukan saja telah menguasai nadi perekonomian di tempat itu, setiap kata, tindakan dan keputusan strategisnya bahkan memengaruhi kehidup puluhan ribu orang.

Hal yang patut dihargai adalah, dia tidak lemah sebagai wanita pada umumnya, juga tidak mata duitan atau penuh ambisi. Dia hanya tekun bekerja dan berhati-nurani, menjaga usaha yang ditinggalkan oleh pendahulunya beserta puluhan ribu rakyat warga kota pada tapal batas barat daya negara Qin serta mentaati kewajiban dalam mengurus usahanya. (hui/whs/rmat)

Tiga jenis pedang yang digunakan raja Tiongkok

Tiga Jenis Pedang yang Digunakan oleh Raja


Ilustrasi

Oleh: Qin Ruchu

Zhuang Zi berkata, “Tapi hamba memiliki 3 jenis pedang, yang hanya bisa digunakan oleh seorang raja, yakni Pedang Putra Langit (kaisar), Pedang Bangsawan dan Pedang Jelata.” (fotolia)

Zhuang Zi Nasihati Raja Hui Wen

Di masa Negara Berperang (Abad ke 5 SM – 221 SM), Raja Hui Wen dari Negeri Zhao sangat menyukai  pertunjukan tanding pedang. Ia memelihara lebih dari 3000 orang pesilat yang mahir ilmu pedang untuk terus saling duel siang dan malam. Setiap tahun lebih dari 100 orang mati atau cedera. Karena tenggelam dalam hobinya terhadap pedang, pemerintahan Negeri Zhao pun tidak digubris lagi dan negara pun menjadi kacau, maka sejumlah bangsawan mulai berkasak-kusuk hendak menyerang Negeri Zhao.

Putra mahkota Li sangat mengkhawatirkan kondisi ini, maka ia pun memutuskan untuk menasihati sang ayah. Pangeran Li berkata pada bawahannya, “Siapa yang mampu menghimbau Sri Baginda Raja agar berhenti mempertandingkan para ahli pedang, membubarkan mereka, maka aku akan menghadiahkan seribu tail emas padanya.”

Salah seorang bawahan berkata, “Zhuang Zi mampu menasihati Sri Baginda Raja.”

Akhirnya, pangeran pun memerintahkan seorang kurir agar mengundang Zhuang Zi (dibaca: Cuang Ce, ahli falsafat terpopuler pada pertengahan Zaman Negara Berperang serta tokoh yang amat penting dalam Taoisme selepas Laozi) datang ke istana dan memberinya 1000 tail emas. Zhuang Zi berkata dirinya tidak mau menerima apa pun, ia beserta kurir itu datang ke istana untuk menemui pangeran, dan berkata pada pangeran, “Paduka memberi hamba 1000 tail emas, apakah Paduka ingin hamba melakukan sesuatu?”

Pangeran berkata dengan sopan /rendah hati, “Aku mendengar kau sangat mumpuni, maka menghadiahkan sedikit emas sebagai biaya sehari-hari bagi para pengikutmu, tapi kau tidak mau menerimanya, mana berani aku berkata-kata lagi?”

Zhuang Zi berkata, “Hamba mendengar paduka berniat meminta hamba agar menasihati Sri Baginda Raja Zhao menghentikan kesukaannya, ini masalah sangat sulit! Salah sedikit nyawa taruhannya, tapi hamba tetap ingin mencobanya.”

Mendengar penuturannya pangeran sangat senang, dan berkata, “Kau berniat membantu, aku sangat berterima kasih, akan tetapi, ayahku hanya bersedia menemui ahli pedang, dan enggan bertemu dengan orang awam.”

Zhuang Zi berkata, “Tidak apa-apa, hamba juga sangat mahir bermain pedang.”

Pangeran berkata, “Para ahli pedang yang ditemui ayahku semuanya berambut gondrong awut-awutan, berjenggot dan ber-godek, mengenakan topi berwibawa, kedua mata melotot, berekspresi marah sampai tidak bisa berbicara dengan jelas. Semakin bengis, ayahku semakin suka. Sedangkan engkau mengenakan pakaian cendekiawan untuk menemuinya, pasti akan menabrak tembok.”

Zhuang Zi berkata, “Kalau begitu, mohon Paduka buatkan hamba satu stel busana pesilat pedang!”

Tiga hari kemudian, busana pesilat pedang selesai dibuat. Zhuang Zi mengenakannya, dan lewat perkenalan oleh pangeran, Zhuang Zi menemui Raja Hui Wen. Dengan tangan membawa pedang tajam Raja Hui Wen berkata pada Zhuang Zi, “Apa yang hendak kau katakan padaku?”

Zhuang Zi menjawab, “Hamba dengar Sri Baginda sangat suka mengadu pedang, jadi hamba menemui Sri Baginda untuk urusan adu pedang.”

Raja Zhao bertanya, “Keahlian istimewa apa yang engkau miliki?”

“Jurus pedang hamba dalam sepuluh langkah bisa membunuh satu orang, kemana pun hamba pergi, tiada menemui lawan”, kata Zhuang Zi,

“Berarti tak terkalahkan di seluruh kolong jagad! Engkau istirahatlah dulu, tunggu perintahku, akan kusuruh orang untuk melawanmu,” sahut raja Zhao dengan amat senang.

Lalu, Raja Zhaou pun mengumpulkan 3000 orang pesilat pedangnya, dan menyuruh mereka untuk bertanding, tujuh hari kemudian terpilihlah enam orang ahli pedang, mereka pun disuruh untuk bertanding dengan Zhuang Zi.

Hari ke-8, Raja Zhao memanggil Zhuang Zi dan berkata padanya, “Hari ini aku ingin melihat bagaimana kau mainkan jurus pedangmu.”

“Bagus! Hamba sudah menunggu berhari-hari.”

Raja Zhao bertanya, “Pedang jenis apa yang kau gunakan?”

“Pedang apapun hamba bisa menggunakannya. Tapi hamba memiliki tiga jenis pedang, yang hanya bisa digunakan oleh seorang raja, mohon perkenan Sri Baginda agar hamba menyelesaikan penjelasan hamba lalu baru bertanding?” Jawab Zhuang Zi tanpa rasa takut.

“Baiklah! Coba engkau jelaskan ketiga jenis pedang itu,” pinta sang Raja.

Zhuang Zi memandang sekeliling, dan dengan santai ia menjawab, “Ada pedang putra langit, pedang bangsawan, dan pedang jelata.”

“Apa yang dimaksud dengan Pedang Putra Langit…?” tanya Raja Zhao dengan penasaran.

Pedang Putra Langit adalah kota Shicheng di Negeri Yan sebagai ujungnya yang runcing, gunung Taishan di Negeri Qi sebagai mata pisau, dan (negeri-negeri) Han dan Wei sebagai gagang pedang. Ia menggunakan prinsip lima elemen untuk membentuk langit dan bumi; mengikuti perubahan Yin dan Yang (unsur negatif dan positif), kemana pun diarahkan tiada yang mamu menghadang, sangat berkuasa, mampu menggerakkan langit menggeser bumi. Hanya dengan pedang ini, sudah cukup untuk meredam para bangsawan, dan menyatukan seluruh negeri, itulah Pedang Putra Langit.

Pedang Bangsawan adalah pedang dengan para ksatria sebagai ujung pedang, para pejabat bersih sebagai mata pisaunya, para orang bijak sebagai punggung pedangnya, kaum cendikia setia sebagai lingkar gagangnya, dan para pendekar sebagai gagang pedang. Pedang ini juga tak terkalahkan, fleksible terhadap berbagai situasi dan perubahan, seusai dengan kehendak rakyat, hanya dengan pedang ini, para bangsawan akan tunduk, seluruh negeri pun damai. Inilah pedang bangsawan.” Demikian penjelasan Zhuang Zi dengan panjang lebar.

“Lalu, apa yang dimaksud pedang (rakyat) jelata?” tanya Raja Zhao.

Zhuang Zi berkata, “Pedang jelata adalah berambut acak-acakan, berkumis dan berjenggot lebat, mata melotot, dan saling membabat, ini tidak ada bedanya dengan adu ayam, sama sekali tidak berguna bagi negara.”

Sampai disini, Zhuang Zi berhenti sejenak sambil memandang Raja Zhao, lalu melanjutkan, “Sri Baginda sekarang memegang kekuasaan sebagai Putra Langit (kaisar/raja), tapi masih menyukai pedang rakyat jelata, menurut hamba Sri Baginda terlalu dangkal.”

Mendengar kata-kata Zhuang Zi, Raja Zhao sangat malu, tangan Zhuang Zi ditariknya dan diajak masuk ke aula istana, para pelayan pun diperintahkan untuk menggelar pesta, Raja Zhao berkali-kali mengitari aula tempat pesta itu sambil berkata pada Zhuang Zi, “Untung engkau telah menyadarkan diriku!”

“Silahkan Sri Baginda Raja duduk dengan tenang, ketiga jenis pedang sudah hamba jelaskan semuanya,” kata Zhuang Zi.

Akhirnya, Raja Zhao bertekad untuk berubah, selama tiga bulan berturut-turut sang Raja tidak keluar istana, dan ternyata mulai berkonsentrasi penuh menata pemerintahan negerinya. (sud/whs/rmat)

Sima Qian, bapak sejarah Tiongkok

Sima Qian: Bapak Sejarah Tiongkok

sima qian bapak sejarah tiongkok

Sima Qian,Bapak Sejarah Tiongkok .(BLUE HSAIO/EPOCH TIMES)

Sima Qian lahir sekitar 145 SM selama pemerintahan Dinasti Han (206 SM – 220 M). Ia dianggap sebagai sejarawan Tiongkok pertama dan terbesar atas karya monumen¬talnya “Shi Ji” , atau “Catatan Sejarah Agung”.

Sima Qian dibesarkan dari keluarga sejarawan. Ayahnya, Sima Tan, mengabdi kepada Kaisar Wu dari Dinasti Han sebagai Penulis Agung.

Sima Tan bertanggungjawab untuk melacak pengamatan astronomi dan penanggalan untuk upacara, serta untuk menyalin catatan harian peristiwa di Istana. Di bawah bimbingan ayahnya, Sima Qian rajin mempelajari sejarah dan klasik mulai dari usia muda.

Pada 126 SM, Sima Tan mengatur perjalanan berkeliling wilayah kekaisaran bagi Sima Qian saat berusia 20 tahun. Selama perjalanan, Sima Qian mengunjungi monumen kuno dan makam para penguasa besar pada masa lalu. Dia mempelajari secara ekstensif koleksi catatan sejarah yang kaya, termasuk Konfusius, dan mendapatkan banyak manfaat dari perjalanan ini.

Menjadi sejarawan independen

Setelah kembali ke ibukota, Sima Qian diangkat untuk menduduki posisi sebagai petugas istana dan mendampingi Kaisar Wu melakukan inspeksi ke berbagai daerah di seluruh negeri. Ke mana pun kaisar pergi, Sima mengumpulkan dan menyusun catatan sejarah lokal.

Sekitar 110 SM, Sima Tan jatuh sakit. Sebelumnya, ia memulai sebuah proyek ambisius yang membuat catatan sejarah secara utuh untuk pertama kalinya di Tiongkok, yang mencakup lebih dari 2.000 tahun antara pemerintahan Kaisar Kuning dan Kaisar Wu.

Mengetahui dirinya sedang kritis, Sima Tan dengan serius berpesan kepada anaknya untuk melanjutkan tugas penting ini. Sima Qian bersumpah untuk menyelesaikan pekerjaan ayahnya.

Sima Qian kemudian mewarisi posisi ayahnya sebagai sejarawan kekaisaran.

Sima Qian percaya bahwa sejarawan harus tidak memihak dan bersifat independen, daripada melayani sebagai gema dari kaisar.

Untuk mencatat tokoh-tokoh sejarah dan peristiwa secara objektif dan adil, Sima Qian mengabdikan sejumlah besar waktu dan usahanya untuk mengumpulkan dan memverifikasi rincian sejarah, setia melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa catatan tersebut komprehensif dan tidak memihak.

Salah satu tantangan yang dihadapi Sima Qian adalah bagaimana mencatat perbuatan kaisar saat ini dan masa lalu. Dia memutuskan untuk mencatat segala sesuatu, perbuatan baik atau buruk, yang tidak disukai oleh Kaisar Wu.

Penderitaan untuk tujuan yang lebih besar

Pada 99 SM, Jenderal Li Ling menyerah kepada Xiongnu, musuh Tiongkok di utara, setelah melalui pertempuran yang gagah berani dengan pasukan yang relatif kecil, Jenderal Li ditangkap musuh. Ada rumor bahwa ia akhirnya mulai melatih Xiongnu. Kabar ini membuat murka Kaisar Wu dan menyatakan dirinya sebagai pengkhianat.

Di istana, hanya Sima Qian satu-satunya pejabat yang membela Jenderal Li. Kaisar Wu menjadi sangat geram ddan memerintahkan Sima Qian dipenjara sambil menunggu eksekusi atas kejahatan memfitnah kaisar.

Pengadilan kemudian mengurangi hukuman, hukuman Sima Qian ke penjara dan memerintahkan agar ia dikebiri. Meskipun ini tampaknya hukuman yang lebih ringan, tapi dibaliknya ada maksud untuk mengarahkannya pada bunuh diri yang terhormat.

Pengebirian adalah kalimat yang sangat memalukan, karena merupakan tugas anak laki-laki untuk menjaga integritas dari keturunan orangtuanya, kebanyakan pria akan melakukan bunuh diri daripada menderita cobaan tersebut.

Namun, dalam rangka menyelesaikan karya monumental sejarah dan memenuhi janji yang telah ia buat di ranjang ayahnya, Sima Qian memilih untuk bertahan atas penghinaan tersebut daripada mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebuah prestasi monumental

Pada tahun 91 SM, saat menginjak usia 55 tahun, Sima Qian akhirnya berhasil menyelesaikan kitab catatan sejarah. Kitab tersebut diberi judul “Shi Ji”, secara keseluruhan kerja keras tersebut memakan waktu lebih dari 10 tahun.

Shi Ji adalah karya sejarah yang luar biasa, sejarah Tiongkok yang lengkap dan pertama, yang mencakup usia dari periode prasejarah dari lima raja bijak, terus melalui Dinasti Xia, Shang, Zhou, dan Qin, yang jauh melampaui abad saat Sima Qian hidup pada masa itu.

Buku ini menyusun sumber yang kompleks dan terkadang bertentangan dari masa lalu, ke dalam sebuah buku, mencakup atas beragam sumber. Ia meliputi lebih dari 2.000 tahun sejarah dan berisi lebih dari 520.000 kata.

Shi Ji dikatakan unik, karena bukan merupakan rekaman sejarah yang disusun secara kronologis berdasarkan peristiwa, namun ia juga mengaitkan sejarah berdasarkan tokoh-tokoh kunci yang terlibat.

Di dalam 130 volume, atau bab, Shi Ji menyajikan sejarah dalam bentuk biografi kekaisaran, jadwal acara, risalah, silsilah keluarga terkemuka, dan biografi tokoh-tokoh penting, ditutup dengan sebuah otobiografi oleh Sima Qian.

Selain itu, tidak seperti kitab-kitab sejarah sebelumnya, yang ditulis sebagai rentetan peristiwa di pengadilan resmi yang di bawah pengawasan keluarga kekaisaran, Shi Ji ditulis secara independen.

Isi kitab tersebut mencakup para penguasa, raja, kaisar, anggota keluarga kerajaan, bangsawan, keluarga feodal, dan bahkan rakyat jelata yang terkenal dengan prinsip yang kuat dan cerita penting.

Namun kitab ini juga berisi risalah yang berharga tentang berbagai topik dari waktu, termasuk ritual sosial, musik, kalender, astronomi, sastra, dan ekonomi.

Kutipan dari Sima Qian dari Shi Ji, seperti tidak mencatat apa pun kecuali kebenaran dan tidak membual dan tidak menutupi, sangat dipuji oleh sejarawan Tiongkok.

Meskipun hidup dalam masa-masa sulit dan bertahan dari cobaan yang berat, Dia tetap tegak dan bertekad untuk mengejar cita-cita moral dalam pekerjaan dan hidupnya.

Dengan mengesampingkan kehormatan pribadinya, Sima Qian meninggalkan generasi pada kemudian hari dengan catatan sejarah Tiongkok secara penuh mulai dari awal. (Epochtimes/ Tanya Harrison/Ajg/Yant)

    • sima qian bapak sejarah tiongkok

Makam Sima Qian

  • sima qian
  • Tiongkok

Yang mengasyikkan dari pernainan Go (Catur China)

Apa yang Mengasyikkan dari Permainan Go

Penebang kayu menyaksikan dua makhluk abadi tengah bermain Go. (EPOCH TIMES)

Anda mungkin tidak terpikirkan bahwa ada sebuah permainan strategi yang dibuat untuk meningkatkan karakter moralitas, akan tetapi menurut legenda Tiongkok, permainan Weiqi (baca: wei jhi) memang diperuntukkan hal demikian. Weiqi lebih dikenal oleh dunia Barat dengan nama Go dari bahasa Jepang, hal ini dikarenakan Bangsa Jepang yang memopulerkannya di Barat.

Ada banyak cerita tentang asal-usul Go. Salah satu versi mengatakan permainan papan bidak ini awalnya digunakan oleh Kaisar Yao (2337–2258 SM) dari Tiongkok, untuk mengajarkan prinsip-prinsip moral kepada putranya, Danzhu (baca:tan chu).

Cara bermain Go, yang dalam bahasa Mandarin berarti “catur pengepungan”, adalah mengambil dan mengisi kotak-kotak kecil berjumlah 19 x 19 di atas papan bujursangkar dengan bidak yang berwarna hitam dan putih, selain itu pemain harus mampu melindungi integritas formasinya sendiri sementara juga melingkari bidak-bidak milik lawan.

Permainan ini hanya memiliki satu jenis bidak, yang disebut batu, dan warnanya terbagi menjadi putih dan hitam untuk membedakan bidak kedua pemain. Permainan Go tampaknya sederhana namun memiliki jumlah kemungkinan strategi yang hampir tak terbatas, serta trik halus yang dapat merebut kemenangan dari genggaman lawan bahkan dalam situasi yang paling tidak mungkin sekalipun.

Go adalah salah satu dari empat seni terbesar Tiongkok kuno, yang lain berupa kaligrafi, lukisan, dan penguasaan instrumen tradisional. Mungkin dikarenakan oleh kedalamannya, permainan Go secara tradisional dikaitkan dengan fenomena langit, strategi militer, pengelolaan urusan negara, dan bahkan ramalan.

Kesabaran dan karakter

Sebagai seorang pemuda, legenda mengisahkan, putra Kaisar Yao Danzhu kurang dalam hal budi pekerti, sehingga ayahnya meminta bantuan makhluk Surgawi. Di tepi Sungai Fen, dia melihat dua makhluk Surgawi sedang asyik duduk saling menghadap satu sama lain di bawah pohon juniper hijau.

Mereka menggambar kotak-kotak kecil di atas pasir dan menaruh butiran hitam dan putih di sepanjang diagram sambil menyusun strategi. Kaisar mendekati mereka dan bertanya bagaimana dia bisa memperbaiki perilaku putranya. Salah satu makhluk surgawi tersebut mengatakan, “Danzhu baik dalam berkompetisi tapi membabi buta. Ambil apa yang dia pandai dan kembangkan karakternya seperti itu.”

Makhluk yang satunya lagi menunjuk pada diagram diatas pasir dan batu-batu kecil. “Ini adalah papan Go,” katanya. “Diagram ini berbentuk persegi dan statis, sedangkan butiran ini berbentuk bulat dan bergerak. Ini mengikuti pola langit dan Bumi. Mulai dari saat kami menciptakan permainan ini, tidak ada yang benar-benar menguasainya.”

Setelah kembali, Kaisar mengajari Danzhu permainan Go dan membuat kemajuan pesat. Orang dahulu menciptakan Go bukan demi menang atau kalah, tapi untuk mengolah karakter (watak), budidaya moralitas dan temperamen, menumbuhkan kebijaksanaan, dan mengekspresikan bakat artistik seseorang.

Suasana mistis menyelubungi Go, dan menjadi subjek dari pepatah Tiongkok, “sehari di surga setara dengan seribu tahun di Bumi”. Legenda dibalik kalimat ini adalah, berasal dari seorang penebang kayu yang tersesat di hutan, tak disangka melihat sepasang makhluk surgawi tengah asyik bermain Go. Si penebang kayu diberi sebutir buah surgawi oleh salah satu pelayan mereka, kemudian ia asyik menonton pertandingan mereka selama berjam-jam, sampai si pelayan mengingatkannya bahwa sudah waktunya untuk kembali ke rumah.

Si penebang kayu bangkit untuk mengambil kapaknya, namun ia menemukan bahwa kapaknya telah berkarat, lantas ia kembali ke kampung halamannya, dan menemukan dirinya sudah dalam usia yang berbeda.

Refleksi dari kosmos

Secara tradisional papan Go memiliki 19 kotak vertikal dan 19 kotak horizontal, membentuk 361 buah kotak, hal ini konon melambangkan beribu-ribu benda langit. Sebuah titik di tengah papan, disebut Tianyuan, melambangkan pusat alam semesta. Bidak-bidak yang berbentuk bulat, dengan warna hitam dan putih mencerminkan sifat melingkar yang dianggap orang Tiongkok kuno berasal dari Surga, sedangkan posisi persegi yang ditempatinya mewakili Bumi.

Penguasaan terhadap Go, mewujudkan kehidupan ideal orang Tiongkok yang sesuai dengan takdir. Semacam kultivasi (pertapaan) pribadi ini, menekankan seseorang untuk memperoleh hal-hal secara alamiah bukan melalui kekerasan. Prinsip ini tercermin dalam mekanisme Go: apabila bermain terlalu agresif akan berisiko terhadap pengepungan, sedangkan kemampuan dan kesabaran untuk menganalisis aliran pertandingan adalah cara untuk meraih kemenangan.

Kesederhanaan Go adalah unsur lain yang terjalin baik dengan filosofi tradisional Tiongkok.

Warna putih dan hitam mencerminkan tradisional Taois dualitas Yin-Yang. Meskipun mereka adalah dua elemen yang bertentangan, namun hidup berdampingan untuk menghasilkan “hal-hal yang segudang”. Dengan cara ini, permainan Go dapat dilihat tidak hanya sebagai perjuangan antara pasukan tempur, tetapi sebagai interaksi tanpa henti dari hal berlawanan namun saling melengkapi, yang ditemukan sepanjang hidup dan dunia. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Menjadi anak kecil dan berterus terang adalah guruku

Menjadi Anak Kecil dan Berterus Terang adalah Guruku


Ilustrasi

Su Shi (1036 – 1101), yang juga dikenal sebagai Su Dongpo, merupakan salah satu dari beberapa tokoh dalam sejarah bangsa China yang dikenal sebagai Master di bidang literatur dan seni. Dia adalah seorang penulis besar, pelukis dan seniman kaligrafi. Gaya lukisan kaligrafinya banyak dipengaruhi aliran tulisan tradisional akan tetapi dia juga mengembangkannya menjadi sesuatu gaya yang baru dan orisinil.

Dia bersama dengan Huang Tingjian, Mi Fu dan Cai Xiang dikenal sebagai “Empat Master Kaligrafi Terbesar dari Dinasti Song.” Diluar dari keempat Master itu, dia dianggap yang terbaik. Dia bersama dengan Kakak laki-lakinya Su He dan ayahnya Su Xun, dikenal sebagai penulis terkenal. Ketiganya termasuk dari 8 penulis terbesar dari Dinasti Tang dan Song.

Dia juga sangat piawai dalam membuat puisi. Su He dan Huang Tingjian, juga merupakan pendiri dari Sekolah Puisi Jiangxi, bersama-sama tercatat didalam sejarah sebagai puisi terbaik dieranya. Dia yang menciptakan aliran baru dari Ci (sebuah tipe lirik dalam puisi China). Dia juga seorang pelukis yang luar biasa. Lukisannya tentang burung dan bunga sangat indah, hal ini kemudian menjadi sebuah trend dikalangan penulis untuk mulai belajar melukis. Dia juga sangat tertarik dalam hal memasak, membuat anggur dan menjadi pencicip teh serta menjadi seorang master diberbagai disiplin ilmu.

Suatu hari, dia mengundang beberapa teman baiknya untuk mencoba teh. Setelah 3 putaran, tiba-tiba sebuah inspirasi menghentikan mereka. Dan mereka mulai menulis dan mendeklamasikan sajak mereka untuk menunjukkan keahlian masing-masing. Mereka juga memakai percakapan yang santun.

Salah satu tamunya Si Maguang, dengan bergurau bertanya kepada Su Dongpo,”Teh yang terbaik adalah putih sedangkan tinta yang terbaik adalah hitam. Teh yang terbaik terasa berat sedangkan tinta yang terbaik terasa ringan. Teh seharusnya berbau segar sedangkan tinta semakin tua semakin baik. Mengapa anda mencintai kedua hal yang sama sekali berbeda?”

Su Dongpo menjawab pertanyaan itu tanpa ragu-ragu. Dia meletakkan pena kuasnya, lalu menyeruput tehnya dan menjawab, ”Teh dan tinta yang terbaik keduanya memiliki wewangian, dan itu adalah sifatnya, keduanya adalah kokoh dan itu adalah karakternya. Seperti layaknya orang memiliki warna kulit yang berbeda, dari warna gelap sampai ke warna pucat, ada yang tampan ada yang jelek, tetapi sifat dan tingkah laku mereka adalah sama.”

Su Dongpo juga adalah seorang kultivator Zen dan menentang pembuatan pil-pil kimia untuk memperoleh kehidupan kekal. Meskipun dia cerdik dan humoris, sebagai seorang kultivator beliau sangat serius dan disiplin. Dia pernah berkata, ” Tidak ada seorang pun yang memperoleh pencerahan yang tidak disiplin.”

Banyak sekali cerita yang menarik tentang dia dan teman baiknya Master Zen Foyin. Berikut ini salah satu yang terkenal. Suatu hari, Su Dongpo memperoleh inspirasi dan menulis sajak ini:

Aku menundukkan kepala kepada surga di dalam surga.

Seberkas cahaya menerangi alam raya.

Delapan angin tidak dapat menggerakkanku.

Masih tetap duduk diatas lotus nila emas.

“Delapan angin” di dalam puisi itu menunjuk kepada pujian, ejekan, kehormatan, nama buruk, perolehan, kehilangan, kesenangan dan penderitaan merupakan kekuatan kepentingan pribadi terhadap dunia materi yang mengendalikan dan mempengaruhi hati manusia. Su Dongpo mengatakan bahwa beliau telah memperoleh pencerahan, dimana kekuatan ini tidak bisa lagi mempengaruhinya.

Terkesan akan dirinya sendiri, Su Dongpo mengirimkan seorang pelayan untuk membawa puisi ini kepada Foyin. Dia merasa pasti kalau temannya akan terkesan. Saat Foyin membaca puisi itu, Master Zen itu menulis “kentut” diatas puisinya dan dikirim kembali kepada Su Dongpo. Su Dongpo sangat terkejut ketika membaca apa yang ditulis Master Zen itu. Dia merasa sangat jengkel, ”Bagaimana mungkin dia menghinaku seperti ini? Ada apa dengan biksu tua jelek itu! Dia harus menjelaskannya padaku!”

Dengan penuh kejengkelan, Su Dongpo menyewa sebuah kapal untuk mengantarkannya keseberang secepat mungkin. Sesampainya disana, dia lalu melompat dan menerobos masuk kedalam kuil. Dia ingin bertemu Foyin dan menuntut permintaan maafnya. Dia menemukan pintu Foyin tertutup. Dipintu tertempel secarik kertas yang bertuliskan dua baris kalimat:

Delapan angin tidak dapat menggerakkanku.

Satu kentutan meniupku sampai ke seberang sungai.

Su Dongpo langsung tertegun melihatnya. Foyin telah mengantisipasi kedatangan si kepala panas ini. Kemarahan Su Dongpo seketika lenyap dan dia mengerti maksud dari temannya. Jika dia benar-benar seorang spiritual murni, sepenuhnya tidak akan tergerak oleh delapan angin itu, lalu bagaimana dia dapat dengan mudah terhasut? Malu tetapi dengan bijak Su Dongpo meninggalkan tempat itu. Kita tidak mengetahui sampai tingkat mana Su Dongpo akhirnya menyelesaikan kultivasinya. Akan tetapi kita dapat membayangkan bahwa diakhir episode itu, dia telah memperoleh kemajuan dalam kultivasinya dan memperbaiki xinxing-nya (watak, kualitas moral).

Su Dongpo telah menyumbangkan banyak hal. Kehidupannya kaya dan penuh warna. Disalah satu sisi dia sangat kharismatik, terus terang dan berpandangan luas. Selain itu, dia juga menginginkan menjadi polos dan terus terang seperti seorang anak kecil. Lebih dari seribu tahun, warisan dari keahliannya tetap hidup dan mengagumkan orang dari abad ke abad seperti Puisi Su, Esai Su, Kaligrafi Su, Lirik Su, Lukisan Su juga sama terkenalnya dengan resep masakan Ikan Dongpo dan Babi Dongpo. (dikutip dari erabaru – www.asianresearch.org)

Dinasty Yuan, negeri impian Christopherus Columbus

Dinasti Yuan Negeri Impian Columbus


Keterangan Foto: Pelayaran Columbus yang pertama dimulai tahun 1492. Tulisan hitam pada gambar adalah nama lokasi modern, tulisan biru adalah nama yang diberikan Columbus. (Keith Pickering/Wikipedia)

Penulis: Huang Furong

Pada 1492, dengan membawa Alkitab dan catatan perjalanan Marcopolo, Columbus memimpin armada laut berlayar menuju ke negeri Dinasti Yuan (1271-1368) di Timur. Di awal buku harian pelayarannya tertulis jelas, tujuan pelayaran jauhnya adalah “Negeri Khan” yakni Dinasti Yuan yang dirajai oleh Khubilai Khan.

Di masa itu jalur perdagangan darat timur dengan barat diputus oleh Kekaisaran Ottoman (Turki – Red.). Sebelum berlayar, Columbus sempat mengusulkan pada raja Spanyol Ferdinand II (1452-1516), ia bisa pergi ke timur lewat jalur laut dan membangun kembali hubungan dengan Mongol Khan.

Tanah impian yang ingin dikunjungi Columbus adalah “kerajaan langit” seperti yang tertulis pada catatan perjalanan Marcopolo. Tapi perjalanan Columbus kali ini hanya mencapai negara-negara di Hindia Barat. Menurut informasi, sebelum ajal Columbus sangat meyakini negara-negara tersebut merupakan bagian dari Kekaisaran Khan. Faktanya, saat Columbus berlayar, Dinasti Yuan telah hancur lebih dari seratus tahun, dan Negeri Khannya Khubilai Khan masih menjadi negeri menarik yang didambakan orang-orang Eropa.

Keterangan Foto: Diorama di sebuah musem di kota Korcula, Kroasia, tatkala Marco Polo menghadap kaisar Khubilai Khan dari dinasti Yuan sesuai yang dikisahkan dalam “Catatan Perjalanan Marcopolo”. (internet)
Keterangan Foto: Diorama di sebuah musem di kota Korcula, Kroasia, tatkala Marco Polo menghadap kaisar Khubilai Khan dari dinasti Yuan sesuai yang dikisahkan dalam “Catatan Perjalanan Marcopolo”. (internet)

Dinasti Yuan yang menjadi negeri dambaan orang-orang Eropa, yang diperkenalkan lewat “Catatan Perjalanan Marcopolo” begitu menggemparkan benua Eropa pada masa itu. Pekerjaan yang paling menghabiskan waktu dan tenaga di Eropa pada abad pertengahan adalah mencatat dokumen dan buku.

Reformasi teknik cetak huruf tipografi oleh orang Eropa bernama Gutenberg membuat industri pembuatan buku yang berskala relatif kecil di masa itu berubah menjadi industri yang paling berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

“Percetakan telah memicu kebangkitan karya terkenal Yunani kuno, perkembangan penulisan bahasa, bangkitnya paham nasionalisme, meletusnya reformasi Protestan, timbulnya ilmu pengetahuan, dan faktanya percetakan telah mempengaruhi kehidupan dan pengetahuan di berbagai aspek mulai dari pertanian dan seni, hingga ilmu hewan.” – Genghis Khan and Today’s World Formation.

Seiring dengan pembaharuan teknik percetakan, “Catatan Perjalanan Marcopolo” bisa diterbitkan di Eropa, dan segera menjadi buku terlaris. Buku ini membuka jendela baru bagi Eropa di masa itu, juga membuka wawasan geografi orang Eropa, memicu keinginan bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia timur, hasrat yang kental terhadap timur ini terus berlangsung selama beberapa abad, dan terus memperluas pemahaman Eropa terhadap dunia.

Peraturan Kekaisaran Mongol Dorong Pemikiran Baru Eropa

Seiring dengan ekspedisi militer bangsa Mongol ke dunia Barat dan pengaruh Dinasti Yuan terhadap luar negeri, di Eropa mulai muncul pemikiran baru. Dari catatan perjalanan Marcopolo, hingga tabel bintang Stellar Ulu Pogue yang rinci, semua pengetahuan baru ini menandakan, pengetahuan klasik kuno yang semula diserap oleh orang Eropa tidak sepenuhnya benar.

Genghis Khan menetapkan kode hukum “Great Zhasa,” menjamin seluruh Kekaisaran Mongol berjalan dengan efektif. Kekaisaran Mongol memperlihatkan pemikiran baru, seperti menggunakan uang kertas dan pena, kebebasan beragama, kekebalan diplomatik, perlindungan perdagangan, dan hukum internasional. Semua itu adalah pemikiran baru yang memiliki makna penting, mendorong kebangkitan Eropa, dan menjadi pencetus lahirnya pemikiran baru dan membuka jalan baru bagi Eropa.

Di zaman sekarang ini, elemen seperti kebebasan beragama dan berpendapat, tatanan hukum demokrasi dan lain-lain, dipandang sebagai indikator penting untuk menentukan beradab atau tidaknya suatu negara. Dan lebih dari 700 tahun silam, Kekaisaran Mongol yang dibangun oleh Genghis Khan, Dinasti Yuan yang didirikan oleh Khubilai Khan, telah mencapai kebebasan beragama dan berpendapat, pengurangan hukuman mati, penegakan hukum dan berbagai elemen lainnya yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah negeri yang beradab. Lebih dari 700 tahun silam, Dinasti Yuan telah mencapai tingkat peradaban tinggi seperti ini.

Pengaruh Internasional yang ditampilkan Dinasti Yuan Mewarisi Kebudayaan Tionghoa

Saat Columbus berlayar, Dinasti Yuan telah hancur lebih dari seratus tahun, tapi pengaruh internasionalnya belumlah pudar. Salah satu negara vassal Dinasti Yuan yakni negeri Ilkhanat, berupaya keras mempertahankan kelancaran perdagangan Jalur Sutera di wilayah kekuasaannya.Jalur Sutera pada masa itu adalah jalur perdagangan bebas yang terbaik dan terpanjang.  Di masa itu, keseluruhan Jalur Sutera untuk pertama kalinya juga untuk terakhir kalinya dikuasai oleh satu negara. Waktu itu, perdagangan antara timur dan barat jauh lebih mudah dan lancar dibandingkan wilayah mana pun dan masa perang apa pun.

Menurut rangkuman Profesor Ray Huang (Huang Renyu) dari Michigan University, ciri khas paham kapitalisme adalah “manajemen dengan angka.” Dan pada Dinasti Yuan ciri khas ini sangat jelas terlihat masyarakat dinasti Yuan menggunakan uang kertas (uang deposit) dan angka Arab di dalam wilayah teritorialnya dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Dinasti Yuan membentuk biro pemerintah yang mengawasi percetakan, manajemen dan penggunaan uang deposit. Pada Juli 1260, uang kertas yang diterbitkan di masa kekuasaan Khubilai Khan ada 10 jenis yakni 10 Wen, 20 Wen, 30 Wen, 50 Wen, 100 Wen, 200 Wen, 300 Wen, 500 Wen, 1 Guan (1000 Wen), dan 2 Guan (2000 Wen).

Keterangan Foto: Uang Kertas dari zaman Dinasti Yuan. (PHGCOM/Wikipedia)
Keterangan Foto: Uang Kertas dari zaman Dinasti Yuan. (PHGCOM/Wikipedia)

Negeri Ilkhanat meniru metode uang kertas Dinasti Yuan yang disebut “Uang Kertas dari zaman Dinasti Yuan,” penggunaan uang kertas diterapkan di dalam Kekaisaran Khan, di atas uang kertas juga tercetak abjad Mandarin dan huruf Arab. Meskipun penerbitan uang kertas sangat singkat, tapi di Asia Barat tindakan ini mendorong penyebaran teknik cetak Tiongkok, para saudagar Ilkhanat yang berdatangan menyebarkannya ke daratan Eropa.

Pada 1585, orang Spanyol Juan Genzalezde Mandozd (1540-1620) menerbitkan sebuah buku berjudul “Catatan Kekaisaran Tionghoa” di Roma. Di dalam buku itu tertulis asal muasal teknik cetak di Eropa, penulis mengatakan, “Setelah orang Tiongkok menggunakan teknik cetak selama bertahun-tahun, baru menyebar ke Jerman melalui Rusia dan Moskow. Pedagang melalui Laut Merah dan Felix di Arab lalu tiba di Tiongkok, dan membawa pulang sejumlah buku. Inilah yang menjadi pondasi lahirnya teknik cetak tipografi ciptaan orang Eropa, Gutenberg.

Jelas bahwa teknik percetakan adalah hasil ciptaan orang Tiongkok yang disebarkan kepada kita, mereka memang pantas mendapatkannya. Hal yang lebih meyakinkan lagi adalah, di Jerman saat ini, masih ditemukan banyak buku-buku hasil cetakan orang Tiongkok yang telah ada sekitar 500 tahun sebelum lahirnya teknik percetakan tipografi di Eropa.”

Dua Sisi Perang, Kelebihan dan Kekurangan Eksis Bersamaan

Perang selalu memiliki sisi kejam, tapi juga memainkan peran mendorong perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat manusia juga. Ada akademis berpendapat, PD-II telah mendorong terciptanya teknologi nuklir, teknologi roket, komputer, juga membentuk situasi internasional dan cara berpikir baru.

Di dalam sejarah, perang yang membawa contoh nyata budaya juga tidak sedikit. Pasukan Mongol menyerang negeri Tiongkok di selatan, dalam proses menyerang Dinasti Liao dan Dinasti Kim, mereka menguasai teknik pembuatan mesiu dan senjata api, dan dibawa untuk menaklukkan Barat. Pada 1260, Kekaisaran Mamluks Mesir berperang melawan pasukan Mongol di Damascus, pasukan Mongol berhasil dikalahkan, sejumlah pembuat mesiu yang berbangsa Han berhasil ditangkap. Sejak saat itu mesiu dan senjata buatan Tiongkok pun beredar luas ke negeri barat.

Warga Dinasti Yuan bernama Wang Dayuan berlayar dua kali ke segala penjuru antara tahun 1330 – 1337. Lalu menulis buku berjudul “Dao Yi Zhi Lue (島夷志略Catatan Mengenai Suku-suku Primitif di Pulau-pulau)” yang berdasarkan pengalaman pribadinya. Di dalam buku disebutkan, setelah Wang Dayuan berwisata di Mekkah, ia menyeberang Laut Merah dan tiba di Mesir. Ia menyebut negara Mesir yang dikuasai oleh Dinasti Mamluks dan mengatakan negara itu bersebelahan dengan Yerusalem.

Di Mesir, Wang Dayuan bertemu dengan orang sekampung dari Hebei yang bermarga Chen. Menurut penelusuran, sangat mungkin Chen adalah keturunan etnik Han yang ditawan pada medan perang Ain Jalut ketika Mongol menyerang dunia barat.

Setelah Dinasti Han (202SM – 220) dan Kekaisaran Roma runtuh, jalur perhubungan darat Eropa dan Asia terputus selama ribuan tahun. Penyerangan pasukan Mongol dan Dinasti Yuan telah membangun kembali dan memperluas jalur perhubungan darat dari Asia menuju Eropa, dan memperlebar ruang lingkup dari dampak yang timbul dari jalur perhubungan tersebut.

Seiring dengan penyerangan Mongol ke barat, pertukaran budaya dan teknologi antara timur dan barat pun menjadi marak. Ketika Hulagu menyerang barat, banyak tukang dan akademisi etnik Han (suku mayoritas di daratan Tiongkok) diikutsertakan. Setelah negeri Ilkhanat berdiri, orang-orang itu pun tetap tinggal, dan menjadi penyebar kebudayaan Tiongkok. Dalam rancangan teknis proyek pengairan di kerajaan Mesopotamia, ada pakar orang Tiongkok terlibat. Pada masa itu, teknik cetak, mesiu, kompas, uang kertas dan lain-lain yang berasal dari TIongkok menyebar masuk ke Asia Barat dan terus mencapai Eropa.

Sistem pos penjagaan dari Dinasti Yuan diterapkan juga oleh kerajaan Persia, Mesir, dan Rusia. Ilmu astronomi Tiongkok, penanggalan, dan medis juga menyebar ke Asia Barat, buku ensiklopedia yang disusun oleh seorang menteri negeri Ilkhanat terdapat catatan mengenai pengobatan dan ramuan herbal Tiongkok.

Masalah penetapan pajak di dalam surat kesepakatan dagang antara negeri Ilkhanat dan Venisia ditetapkan sebesar 3,3%, sama seperti di Dinasti Yuan. Pajak ini cukup rendah waktu itu, dan para saudagar yang bertransaksi di dalam wilayah Dinasti Yuan, jika mengalami bahaya, bencana, dan lain-lain, pihak kerajaan akan mengganti kerugian mereka. Sehingga seluruh dataran Eropa dan Asia mulai dari timur sampai ke barat, pertukaran budaya dan perdagangan antar benua sangat lancar, dan merupakan pemberian Genghis Khan dan raja penerusnya. (sud/whs/rmat)

Bagaimana cara orang Tiongkok kuno mencuci tubuh dan pakaian?

Cara Membersihkan Tubuh dan Pakaian Orang Tiongkok Kuno Sangat Maju


Kacang mandi hasil buatan seorang pengguna internet Tiongkok. (Sina Weibo)

Kebudayaan Tiongkok telah menempatkan kebersihan dalam posisi tinggi sejak zaman kuno, beberapa metode yang mereka gunakan untuk mencuci pakaian dan membersihkan tubuh sebelum ada air kran atau bahan bakar fosil, ternyata lebih canggih dari yang kita duga sebelumnya.

Selama berabad-abad, mereka terus berimprovisasi dengan menggunakan ramuan nabati sebagai pengganti ketiadaan sabun modern untuk menjaga kebersihan dan warna pakaian.

Pada masa Dinasti Zhou sekitar 3.000 tahun yang lalu, orang Tiongkok menemukan cara menghilangkan lemak dengan menggunakan abu dari tanaman tertentu. Metode ini dicatat dalam Ritus Zhou, sebuah literatur sakral yang merinci upacara keagamaan dari awal dinasti Tiongkok ini.

Sebuah dokumen yang berjudul Catatan Perdagangan dari Masa Periode Negara Berperang menjelang akhir Dinasti Zhou (700 M – 221 SM), menulis bagaimana metode pembersihan yang telah diperbarui oleh Dinasti Zhou. Abu tanaman dicampur dengan bubuk kulit kerang yang dihancurkan, campuran ini menghasilkan bahan kimia alkali yang bisa menghilangkan noda ringan pada kain sutra berwarna.

Kemudian, orang Tiongkok menemukan sebuah bentuk alami dari saponin yang dapat diekstrak dari abu tanaman knotweed dan wormwood. Metode ini digunakan secara luas pada awal Dinasti Han (206 SM – 220 M). Sekitar seribu tahun kemudian, saat Dinasti Jin berkuasa, saponin dibuat menjadi bentuk batangan untuk dijual. Toko-toko di Beijing yang mengkhususkan diri menjual sabun batangan dengan aroma buah, telah ditutup seluruhnya oleh penguasa rezim komunis pada tahun 1950-an.

Bentuk primitif lain dari sabun cuci muncul di Tiongkok timur selama Dinasti Song (1127-1279), dimana orang membuatnya dari bubuk tanaman honey locust yang diremas-remas hingga menyerupai bola seukuran jeruk mandarin. Bola-bola ini dapat menghasilkan busa dan efektif untuk menghilangkan kotoran dan noda. Sebutan Mandarin untuk bola ini adalah Fei Zao (baca: fei cao), yang masih di-gunakan hingga di zaman modern yang berarti sabun.

Orang zaman Tiongkok kuno, juga seperti daerah lainnya, tidak memiliki sejumlah besar air panas untuk digunakan mandi. Pada masa Kekaisaran Qin (221-206 SM), orang memanfaatkan kembali air cucian beras untuk membersihkan wajah dan rambut mereka. Sima Qian, seorang sejarawan terkenal dari Dinasti Han, menulis tentang bagaimana keluarga seorang permaisuri yang ketika masih muda hidup begitu miskin sehingga adik laki-lakinya harus dijual. Sebelum berpisah dengan adiknya, dia memohon air sisa dari cucian beras dapat ia gunakan untuk membersihkan rambut adiknya.

Ada metode yang lebih baik dari itu. Semacam ramuan yang digunakan untuk membersihkan tubuh disebut sebagai kacang mandi, telah digunakan pada saat pemerintahan Dinasti Utara dan Selatan (420-589). Anehnya, “kacang” ini dibuat dari pankreas babi yang telah diproses, demikian yang tercatat dalam buku medis yang ditulis oleh dokter terkenal Sun Simiao dari masa Dinasti Sui dan Tang.

Dalam catatannya, Sun menjelaskan bagaimana pankreas yang telah dikeringkan darahnya, lalu digosok ke sebuah plester. Kemudian plester tersebut dicampur dengan bubuk kacang dan zat pewangi. Ketika menggunakannya untuk mandi, ramuan tersebut akan mengeluarkan enzim pencernaan dan menciptakan efek busa bersama-sama dengan saponin dan lesitin yang ada di dalam kacang-kacangan. Ramuan ini tidak hanya bisa membersihkan kulit tetapi juga menyehatkan.

Kemudian versi yang berbeda dari kacang mandi dikembangkan untuk digunakan membersihkan tubuh, wajah, atau pakaian. Sun Simiao merekomendasikan ramuan ini karena terjangkau bagi semua kalangan, baik ekonomi tinggi maupun rendah.

Saat pemerintahan Dinasti Ming dan Qing, ramuan kacang mandi diperbarui dengan menggunakan gula pasir dan lemak babi yang dicairkan. Kacang bubuk itu sendiri diganti dengan natrium karbonat, yaitu soda pencuci. Bentuk akhir dari sabun pembersih orang Tiongkok kuno sangat mirip dengan sabun yang dibuat dengan cara industri.