Sun. Jul 3rd, 2022

Artikel Reliji KristianiMakna Sotoh Rumah dalam Alkitab
dikutip dari Manna Sorgawi, Google

Kata “Sotoh” hanya bisa ditemukan di Perjanjian Lama, diterjemahkan dari bahasa Ibrani gag, yang secara literal berarti atap atau puncak. Di Perjanjian Baru ditemukan kata yang artinya sama dengan kata “sotoh”,yaitu kata “peranginan” yang diterjemahkan dari kata Yunani doma.

Gbr Sotoh
GambarRekonstruksi Sotoh Rumah ,dengan Tempat Menjemur Gandum,dan Pemerasan Zaitun

Rumah orang Israel kuno pada umumnya memang memiliki sotoh yang bentuknya datar. Berdasarkan Ulangan 22:8, sotoh rumah harus dipagari, “Apabila engkau mendirikan rumah yang baru,maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.”

Sotoh pada umumnya dibuat dalam tiga lapisan, yaitu: balok kayu,lalu di atasnya tikar jerami dan paling atas adalah lapisan tanah liat.Itu sebabnya sotoh bisa dilubangi (Markus 2:4). Sotoh tidak kedap air, sehingga kalau musim hujan,air bisa merembes dan menetes ke bawah (Amsal 19:13; 27:15). Karena itu di sotoh juga bisa tumbuh rumput liar (2 Raja 19:26, Mazmur 126:6, Yesaya 37:27). Sotoh rumah dijadikan juga tempat untuk membuat mezbah-mezbah penyembahan berhala (2 Raja 23:12 ; Yeremia 19:13;32:29; Zefanya 1:5)

“Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Amsal 21:9).

Sandang, pangan, papan paling tidak menjadi kebutuhan dasar dalam hidup manusia. Kita membutuhkan pakaian. Makan menjadi tuntutan kebutuhan yang paling primer. Sedangkan papan, yaitu kebutuhan akan tempat tinggal. Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Orang bisa tinggal di mana saja, di pinggir jalan, kolong jembatan, dan sebagainya, tetapi mereka jangan sampai tidak makan! Apabila kebutuhan makan sudah tercukupi dengan baik, maka seseorang akan segera memenuhi kebutuhan lainnya, yaitu pakaian dan tempat tinggal.

Untuk mendapatkan tempat tinggal, seseorang pasti akan melewati proses yang panjang. Mencari rumah atau menyewa, pasti tak semudah membeli makanan atau pakaian. Banyak sekali pertimbangan, seperti daerahnya nyaman atau tidak, sarana transportasinya mudah atau sulit, faktor keamanannya terjamin atau tidak, tetangganya menyenangkan atau menyusahkan, daerah itu berudara bersih atau tergolong daerah yang tercemar, dan sebagainya.
Selain itu, faktor harga juga mejadi pertimbangan yang sangat penting. Kalau seseorang itu termasuk orang yang mampu secara ekonomi, ia dapat membeli rumah. Namun, jika tidak mampu secara ekonomi, maka ia harus menyewa rumah.

Fungsi rumah sudah jelas, yaitu untuk tempat tinggal bersama, tempat berteduh, tempat menjalani hidup bersama dengan keluarga. Tempat permulaan dan akhir aktivitas semua orang yang ada di dalamnya. Artinya, orang memulai aktivitas sejak pagi hari dari rumah dan setelah selesai melakukan aktivitas tersebut, pasti ia akan kembali ke rumah.
Amsal menyebutkan “diam serumah” sebagai “in a wide house”, arti harafiahnya adalah “a house of companionship”, “Rumah Persahabatan” yang mempunyai makna bahwa semua orang yang berada di dalam satu rumah itu seharusnya mempunyai dan menjalin relasi satu sama lain seperti seorang sahabat.
Bukan saja seperti seorang saudara karena seorang saudara belum tentu bisa menjadi sahabat, melainkan orang yang mempunyai relasi persahabatan akan melebihi relasi saudara. Situasi dan kondisi rumah yang seperti itulah yang seharusnya terjadi dalam setiap keluarga. Rumah bukan tempat untuk bertengkar atau berselisih paham.

Rumah bukan sarana untuk menyediakan kekerasan dalam rumah tangga. Rumah adalah tempat damai sejahtera Allah diselami oleh seluruh anggota keluarga. Amsal memakai simbol perempuan yang dianggap sebagai kaum yang lebih banyak berbicara daripada kaum pria.
Intinya, jika ada orang yang suka bertengkar di rumah, maka lebih baik tinggal di sudut sotoh rumah. “Sotoh rumah” adalah atap rumah yang ada di luar, di atas genting. Orang Jawa menyebutnya sebagai “wuwungan”. Di atas rumah dan paling sudut, yang artinya tempat yang paling sepi, sunyi, dan tidak ada orang yang mau tinggal di sana. Jadikan rumah sebagai tempat persahabatan. Pengalaman damai sejahtera itu terjadi setiap hari bagi semua orang yang berada di dalam rumah. Amin.

Dikutip dari berbagai sumber


Tulisan Lainnya:

Waspada Terhadap Api Asing

Ancient Chinese Housing in Tangerang

Rahasia Bahtera Nuh dalam Huruf dan Budaya Tiongkok Kuno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *